Ketika “Tubuh Telanjang” Bicara

  • Protes Kaum Ibu di Tumbak

Oleh Redem Kono

Menulis

Redem Kono, Mahasiswa Pascasarjana STF Driyarkara Jakarta

Pada 15 September 2014, halaman awal laporan kronologis Komisi Keadilan dan Perdamaian (JPIC) SVD Ruteng tentang kekerasan dan pelanggaran HAM di Tumbak (13 September 2014) mencatat: “Pada saat pihak perusahaan berusaha memasukkan alat berat ke lingko Roga, ibu-ibu secara spontan melepaskan baju, ada yang bertelanjang dada dan ada yang hanya mengenakan bra sambil berteriak dan menangis di depan kepala desa, aparat keamanan, dan pihak perusahaan.” Tindakan menelanjangi diri tersebut lahir sebagai protes atas adanya upaya pertambangan di Tumbak, Manggarai Timur oleh PT Aditya Bumi Pertambangan.

“Tubuh-Tubuh Telanjang”

Fenomen tubuh telanjang di depan publik menuai beragam persepsi entah dari perspektif sosial, religius, estetis, moral, dan lain-lain. Tafsiran terhadap lukisan-lukisan telanjang karya Michelango di Kapel Sikstina Vatikan, misalnya, berbeda dengan seseorang yang nekat menelanjangi diri di depan sebuah Mall.

Tafsiran berbeda pun akan menyoroti seorang artis yang sama, ketika ia tampil telanjang dalam sebuah film (atau pameran seni) atau telanjang di pantai untuk bersenang-senang. Hal ini bisa terjadi karena tubuh manusia bukanlah semata sebuah kenyataan obyektif, tetapi menunjuk pada arti (makna), yang melampaui tubuh dalam tataran fisis.

Ada nilai-nilai simbolis yang menginap di dalam protes kaum ibu dari Tumbak. Tindakan menelanjangi diri para ibu di Tumbak tidak lepas dari argumentasi-argumentasi simbolis. Pada hemat saya, para ibu menyampaikan tiga pesan simbolis yakni perlawanan atas nama paradigma kosmosentrisme, kritik atas androsentrisme, dan penolakan atas korporatokrasi.

Pesan pertama bertolak dari kepercayaan tradisional masyarakat Tumbak yang masih kosmosentris. Dalam paradigma demikian, alam merupakan entitas yang suci dan integral, sehingga manusia merupakan bagian tak terpisahkan dari alam. Konsekuensinya, ketika alam dirusakkan, individu yang tinggal dalam harmoni kosmik tersebut turut terancam keberadaannya.

“Tubuh-tubuh telanjang” di Tumbak menyampaikan bahwa penelanjangan alam (baca: pertambangan) berarti pula menelanjangi, menghina, dan mencopot identitas masyarakat yang tinggal di tempat tersebut. Melalui ketelanjangan itu, para ibu berusaha membongkar muatan paradigma antroposentrisme yang datang dalam rupa pertambangan. Nilai-nilai yang membonceng di balik antroposentrime seperti kecukupan diri, individualitas, kapitalisme, dan asas manfaat (utilitaris) dapat menghancurkan harmoni kosmik yang bernafas turun-temurun di tempat itu.

Penelanjangan diri di Tumbak juga menyampaikan kritik terhadap androsentrisme yang hidup di tempat itu. Androsentrime tersebut tidak lain adalah budaya patriarkat yang masih hidup dan menjadi salah satu alasan perizinan pertambangan. Kekerasan Tumbak menyajikan klaim-klaim negatif androsentrisme seperti hegemoni, kekerasan, manipulasi, otoriter, represif, dan lain-lain. Izin pertambangan yang melibatkan sejumlah minoritas penduduk Tumbak (yang mengklaim diri sebagai penatua adat (tua teno) adalah bukti faktual klaim tersebut.

“Tubuh-tubuh telanjang” di Tumbak menelanjangi niat-niat androsentris dari segelintir penduduk di situ, para pihak keamanan, pemerintah, dan perusahaan. Tambang harus ditolak karena bertentangan dengan hak untuk hidup, hak menyampaikan pendapat, dan terutama hak mengajukan penolakan atas pertambangan. Warga perlu mendapatkan porsi yang adil dan setara dalam persoalan tambang.

Selanjutnya, penelanjangan diri para ibu menolak izinan eksploitasi pertambangan oleh para penguasa dan pemodal. Tak jarang, pertambangan merepresentasikan fenomena korporatokrasi yakni perselingkuhan-koruptif antara pihak pemerintah dan pihak perusahaan. Korporatokrasi berbicara tentang upaya korporasi-korporasi besar untuk membangun imperium global. Demi tujuan tersebut, terjadi perselingkuhan antara korporasi dengan pemerintah demi tujuan-tujuan profit-kapitalis, tanpa pertimbangan kemanusiaan. Akibatnya, pemerintah menjadi feodal dengan memaksakan pertambangan, tanpa mendengar aspirasi rakyat.

“Tubuh-tubuh telanjang” para ibu menelanjangi fenomen di atas. Sebagai warga negara, para ibu menuntut janji dan komitmen pemerintah untuk mendahulukan kepentingan rakyat. Fenomena korporatokrasi terjadi karena pemerintah melupakan kedaulatan rakyat atas hukum dan pemerintahan. Rakyat mesti menjadi takaran selama proses pengambilan keputusan tentang pertambangan. Ketika ekspresi semantik dibungkam, maka “tubuh-tubuh telanjang” menjadi ekspresi protes dan sirene ketakberdayaan.

Ketika “Tubuh Telanjang” Bicara

Tindakan menelanjangi diri di Tumbak menegaskan sikap warga negara yang tak mau kalah di hadapan hegemoni uang dan kekuasaan. Ketika ruang publik demokratis menjadi milik privat para penguasa dan pemodal, maka ekspresi ketelanjangan muncul sebagai tanggapan balik terhadap privatisasi tersebut. Hal ini menampilkan “tubuh-tubuh telanjang” sebagai salah satu aspirasi protes yang paling orisinal dari masyarakat Tumbak.

“Tubuh-tubuh telanjang” dari Tumbak mengajak pemerintah, warga negara, pihak keamanan, dan perusahaan untuk “menelanjangi diri”. Pihak-pihak terkait perlu membuka diri, merefekleksikan secara kritis dan menyeluruh, serta menjadikan kesejahteraan alam dan manusia sebagai tujuan dan takaran dari permenungan. Ajakan tersebut menolak boncengan nilai-nilai kepentingan partisan, logika kapitalis, egoisme kekuasaan dan niat korporatokrasi. Karenanya, “tubuh-tubuh telanjang” mengajukan penilaian dan pertimbangan terhadap masalah pertambangan dengan berbasis pada nilai-nilai universal seperti hak asasi manusia, pelestarian alam, harmoni kosmik dan lain-lain.

“Tubuh-tubuh yang telanjang” dari Tumbak mengungkapkan pula keluhuran motivasi penolakan mereka. Pertambangan sudah destruktif (dalam dirinya sendiri), sehingga tentu saja mengancam integrasi mereka dengan alam. Alam bukan obyek pemuasan kenikmatan badani, tetapi merupakan subyek yang dapat meneruskan nilai-nilai kolektif dalam masyarakat bersangkutan. Karenanya, ekspresi ketelanjangan tersebut menyajikan komitmen mereka untuk tetap bersatu dengan alam, menjaga kelestariannya, dan menghantarkan alam yang cerah demi masa depan integrasi kosmik generasi penerus.

Keluhuran motivasi inilah yang membuat warga Tumbak tidak pernah risih dengan perjuangan mereka. Mereka tak segan “membuka diri”, menjadikan perjuangan mereka menjadi bagian dari konsumsi publik. Keterbukaan ini bertentangan dengan pihak keamanan dan pihak perusahaan yang bersikap tertutup. Sikap yang tertutup sebenarnya mengungkapkan ketakutan terhadap rakyat, dan juga sikap buta terhadap penghakiman suara hati. Larangan perekaman video terhadap Frater Herry Mau SVD (anggota JPIC SVD Ruteng), kekerasan terhadap Pater Simon Suban Tukan SVD (Koordinator JPIC SVD Ruteng) dan provokasi kepada masyarakat Tumbak adalah bukti-bukti yang jelas.

Di balik “tubuh-tubuh telanjang”, masyarakat Tumbak menyerukan penolakan terhadap pertambangan. Tambang harus ditolak karena memutuskan relasi yang harmonis dengan alam dan generasi penerus. Artinya, ketika aktivitas pertambangan dilakukan, rakyat akan memutuskan relasi kosmik dengan alam sebagai satu jalinan harmoni. Pemutusan tersebut juga terjadi dengan generasi penerus, karena kekecewaan atas hancurnya alam. Alam yang sudah rusak tak jarang akan mengundang generasi penerus melakukan diskontinuitisasi dengan para pendahulu.

Akhirulkalam, “tubuh-tubuh telanjang” dari Lumbak mengungkapkan penolakan atas klaim antroposentrisme, androsentrisme, dan korporatokrasi. Para ibu di Tumbak menunjukkan realitas yang terjadi yakni pembungkaman suara mereka secara masif, terstruktur dan sistematis. Karenanya, pihak-pihak yang terkait mesti membuka diri, berani mengkritik diri, dan berefleksi. Atas dasar inilah, pertambangan dalam dirinya sudah merugikan, dan karena itu, mesti ditolak demi keseimbangan kosmik dan masa depan generasi penerus.***(Flores Pos, Senin, 29 September 2014)

About Avent Saur

Lahir 27 Januari 1982 di kampung Weto, Kecamatan Welak, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Bulan kelahiran ini masih diragukan, karena Mama saya bilang saya dilahirkan pada bulan usai panen jagung dan padi. Yah... sekitar bulan Juli. Di akte kelahiran dan surat baptis (agama Katolik), 27 Juli 1982.Studi filsafat dan teologi pada Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero, Maumere, Flores, NTT. Pernah menjadi wartawan pada majalah bulanan KUNANG-KUNANG (2008-2009). Sekarang, tinggal di Ende, "bantu-bantu" di harian umum Flores Pos. Blog ini dibuat, sejak 20 April 2013.
This entry was posted in OPINI and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s