DPRD dan Pemerintah Sepakat Tidak Bantu Korban Penggusuran

OLeh Wall Abulat

Maumere, Flores Pos – DPRD dan Pemkab Sikka sepakat tidak memberikan bantuan makanan dan minuman kepada warga korban penggusuran rumah, dengan alasan perbuatan warga termasuk kategori penyerobatan, dan agar tidak menjadi preseden buruk bagi warga lainnya yang nantinya akan ditertibkan juga aset dan tanahnya.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Pimpin Rapat: Wakil Ketua DPRD Sikka Stef Say (kiri) didampingi Wakil Ketua Donatus David, sedang memimpin rapat bahas nasib warga pascapenggusuran, di Ruang Sidang Utama DPRD Sikka, Selasa (4/11).

Sikap  DPRD dan pemerintah ini terungkap dalam rapat antara Komisi I dan Komisi III DPRD Sikka dan Perwakilan Pemerintah di Ruang Sidang Utama DPRD Sikka, Selasa (4/11). Rapat dipimpin Wakil Ketua DPRD Stef Say dan Wakil Ketua Donatus David.

Hadir dari unsur pemerintah Kabag Tatapem Yoseph Benyamin dan Kepala Dinas Pendapatan dan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (DPPKAD) Kabupaten Sikka Robertus da Silva, dan beberapa pejabat Tata Pem dan DPPKAD.

Kabag Tata Pemerintahan Yoseph Benyamin, pada kesempatan ini, menjelaskan bahwa pemerintah tidak bisa memberikan bantuan makanan dan minuman kepada warga karena mereka bukan termasuk kategori korban bencana, dan tidak ada anggaran khusus untuk menangani warga yang menduduki lokasi HGU atau aset pemerintah. “Tidak ada anggaran khusus untuk bantuan makanan dan minuman bagi warga pasca-penggusuran,” kata Yoseph Benyamin.

Yoseph menjelaskan, yang bisa dilakukan pemerintah hanya menyiapkan penampungan sementara di Transito, dan itu pun maksimal hanya untuk dua minggu.

“Pemerintah juga sudah menyiapkan truk untuk mengangkut barang warga. Setelah dua minggu di Transito, warga harus kembali ke kampung halaman mereka,” kata Yoseph Benyamin.

DPRD Dukung

Sebagian besar anggota Komisi I dan III yang hadir dalam rapat ini mendukung langkah pemerintah untuk menertibkan aset dan menggusur warga, dan mendukung pula untuk tidak memberikan bantuan makan dan minum pasca-penggusuran.

“Kami sepakat dengan pemerintah yang tidak memberikan bantuan makanan dan minuman.” Demikian salah satu rekomenasi akhir dari pertemuan ini.

DPRD, pada kesempatan ini juga mendukung langkah pemerintah untuk mengosongkan lokasi penggusuran pada Sabtu 8 November 2014, dan selanjutnya, warga dipindahkan ke Transito untuk penampungan selama dua pekan, sebelum mereka dipulangkan ke kampung halaman mereka.

Ada beberapa anggota DPRD, di antaranya Stef Sumandi dan Markus Melo dalam rapat ini sempat menawarkan agar pemerintah perlu memperhatikan pemenuhan kebutuhan makanan dan minuman bagi warga sebab mereka adalah warga Sikka yang saat ini masuk kategori terlantar dan sedang dalam situasi sulit pasca-penggusuran. Namun usulan kedua anggota dewan ini langsung ditolak oleh sebagian besar anggota DPRD lainnya.

Tolak Pulang Kampung

Sejumlah warga yang rumahnya digusur, di antaranya Emilianus Meo dan Maria Odilia menyatakan menolak pindah sementara di Transito.

Maria Odilia meminta DPRD dan pemerintah agar dalam memperhatikan nasib mereka harus memperhatikan unsur kemanusiaan, nurani, hati, dan bukannya otak dan kuasa. “Kami butuh sentuhan hati. Buat apa kami pindah ke Transito kalau kami tak diberikan makanan dan minuman. Ini putusan aneh,” kata Maria Odilia.

Maria mengaku bahwa yang dialami warga saat ini adalah masalah ketiadaan lahan dan sulitnya mendapat makanan pasca-penggusuran rumah oleh pemerintah. “Buat apa kami dipindahkan ke Transito kalau kami tak diberikan makanan dan minuman? Buat apa kami pulang kampung ke desa, sementara anak-anak kami sedang mengikuti KBM di kota. Apakah di desa  ada SMP dan SMA supaya anak-anak bisa pulang ke desa? Apakah kami punya lahan untuk tinggal di desa? Ini butuh hati dan kemanusiaan untuk atasi masalah yang kami alami,” kata Maria Odilia.***(Flores Pos, Rabu, 5 November 2014)

About Avent Saur

Lahir 27 Januari 1982 di kampung Weto, Kecamatan Welak, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Bulan kelahiran ini masih diragukan, karena Mama saya bilang saya dilahirkan pada bulan usai panen jagung dan padi. Yah... sekitar bulan Juli. Di akte kelahiran dan surat baptis (agama Katolik), 27 Juli 1982.Studi filsafat dan teologi pada Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero, Maumere, Flores, NTT. Pernah menjadi wartawan pada majalah bulanan KUNANG-KUNANG (2008-2009). Sekarang, tinggal di Ende, "bantu-bantu" di harian umum Flores Pos. Blog ini dibuat, sejak 20 April 2013.
This entry was posted in BERITA and tagged , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s