Bupati Tidak Mau Berdialog dengan Rakyatnya

Oleh Maxi Gantung

Lewoleba, Flores Pos – Bupati Lembata tidak mau berdamai dengan Bediona Philipus dan Fransiskus Limawai serta tidak mau berdialog dengan rakyat dari Atadei dan Lamalera. Padahal Wakil Bupati Lembata Viktor Mado Watun berupaya untuk memediasi masyarakat Lamalera dan Atadei untuk bertemu dengan bupati.

Eliazer Yentji Sunur

Bupati Lembata Eliazer Yentji Sunur

Atas permintaan tokoh masyarakat Atadei dan Lamalera, Wakil Bupati Viktor Mado Watun mencoba untuk membawa beberapa utusan masyarakat Lamalera dan Atadei. Wakil Bupati dengan mobil bersama utusan masyarakat Lamalera dan Atadei masuk ke kompleks rumah jabatan yang dijaga ketat oleh aparat Polres Lembata dan Pol PP. Kompleks rumah jabatan dipagar dengan tembok keliling dan di dalamnya terdapat kuda piaraan bupati. Seperti istana raja yang angker, rakyat tidak boleh masuk ke dalam kompleks rumah jabatan yang dibangun secara swadaya oleh rakyat Lembata.

Setelah bertemu dengan Bupati Eliaser Yentji Sunur, wakil bupati membawa utusan tersebut di halaman Kantor Bupati Lembata yang lama yang berdampingan dengan rumah jabatan bupati.

Mantan Kepala Desa Atawolo Antonius Plea Roning mewakili utusan menyampaikan hasil pertemuan mereka dengan bupati. Anton mengatakan, bupati Lembata tidak mau berdamai atau menarik kembali laporannya terhadap dua anggota dewan, Bediona Philipus dan Fransiskus Limawai. Menurut bupati, dia sangat sakit hati dengan dua anggota dewan tersebut.

Selain itu, kata Antonius, utusan juga meminta Bupati Lembata Eliaser Yentji Sunur untuk menerima dan berdialog dengan dengan masyarakat Atadei dan Lamalera yang menunggu di halaman Kantor Bupati Lembata. Namun dengan tegas bupati menolak. “Bupati sampaikan bahwa dia tidak mau bertemu dan dialog dengan siapa pun,” ujarnya.

Ia mengatakan, karena bupati tidak mau bertemu dan berdialog dengan rakyat, maka satu-satunya solusi adalah rakyat Lembata harus membangun kekuatan untuk melawan arogansi kekuasan bupati. Ia juga mengatakan, rakyat harus berterima kasih kepada Wakil Bupati Lembata Viktor Mado Watun yang telah membantu utusan masyarakat Atadei dan Lamalera, walaupun bupati tetap bersikeras untuk menolak berdamai dan berdialog dengan rakyat.

Wakil Bupati Lembata Viktor Mado Watun mengatakan, dia tetap berusaha untuk memediasi keluarga Lamalera dan Atadei dengan bupati dan dua anggota dewan ini untuk menempuh jalan damai.

Masyarakat Lamalera dan Atadei tidak puas dengan jawaban bupati, namun wakil bupati meminta masyarakat untuk bersikap tenang, dan ia berusaha untuk bisa memediasi dialog antara bupati dengan Bediona Phlipus, juga Fransiskus Limawa dan keluarganya.***(Flores Pos, Jumat, 31 Oktober 2014)

Advertisements

About Avent Saur

Lahir 27 Januari 1982 di kampung Weto, Kecamatan Welak, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Bulan kelahiran ini masih diragukan, karena Mama saya bilang saya dilahirkan pada bulan usai panen jagung dan padi. Yah... sekitar bulan Juli. Di akte kelahiran dan surat baptis (agama Katolik), 27 Juli 1982.Studi filsafat dan teologi pada Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero, Maumere, Flores, NTT. Pernah menjadi wartawan pada majalah bulanan KUNANG-KUNANG (2008-2009). Sekarang, tinggal di Ende, "bantu-bantu" di harian umum Flores Pos. Blog ini dibuat, sejak 20 April 2013.
This entry was posted in BERITA and tagged , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s