Limawai Diantar Dewan dan Massa

Oleh Maxi Gantung

Lewoleba, Flores Pos – Tersangka anggota DPRD Lembata Fransiskus Limawai diantara oleh pimpinan dan anggota DPRD Lembata serta massa ke Polres Lembata. Sayangnya, ketika sampai di Polres Lembata, DPRD tidak diberikan kesempatan untuk berdialog. Kapolres Lembata justru memerintahkan Kasat Reskrim untuk memeriksa tersangka.

Limawai bersama massa datang dari rumahnya sekitar pukul 12.30 Wita. Sebelum keluar dari rumah, dilakukan seremoni adat, kemudian mereka menuju kantor DPRD. Dari kantor DPRD, dewan mengajak masyarakat untuk sama-sama menghantar Fransiskus Limawai ke Polres.

Di Mapolres, polisi melakukan penjagaan ketat. Pintu gerbang di bagian timur ditutup, sementara pintu gerbang bagian barat hanya dibuka pas untuk masuk satu orang. Yang dizinkan masuk hanya Fransiskus Limawai dan kuasa hukumnya, Yohanes Vianey K. Burin, pimpinan dan beberapa anggota DPRD. Massa dari Lamalera, Kecamatan Wulandoni dan masa dari Kecamatan Atadei tidak diperkenankan masuk ke halaman Mapolres.

Yohanes de Rosari selaku wakil ketua sementara DPRD Lembata dan beberapa anggota dewan ingin sebelum Fransiskus Limawai memberikan keterangan terlebih dahulu berdialog dengan pihak Polres. Namun Kapolres tidak mau dan memerintahkan Kasat Reskrim Iptu Abdul Rahman Aba Mean untuk memeriksa tersangka. Petrus Bala Wukak mau angkat bicara, namun Kapolres tetap tidak mau. Fransiskus Limawai dan penasihat hukumnya akhirnya menuju ruang pemeriksaan.

Setelah Limawai pergi ke ruang pemeriksaan, DPRD meminta untuk berdialog dengan Kapolres, dan Kapolres bersedia untuk berdialog di dalam ruang kerjanya. Usai dialog, Wartawan Metro TV yang menunggu di lobi meminta keterangan dari Kapolres Lembata AKBP Wresni Satya Nugroho, namun Kapolres belum bersedia memberikan keterangan. Kapolres baru bisa memberikan keterangan pers setelah pemeriksaan Limawai selesai.

Sementara itu, juru bicara DPRD Lembata Petrus Bala Wukak kepada wartawan mengatakan, dirinya ditunjuk oleh dewan untuk berbicara dengan Kapolres. Dalam pertemuan tersebut lanjut Piter Wukak, DPRD punya sikap tegas bahwa polisi tidak berhak untuk memroses tiga anggota dewan yang sedang menjalankan tugas. Piter mengatakan, DPRD Lembata dalam kasus tiga anggota dewan ini tunduk pada UU Nomor 27 tahun 2009 tentang MPR, DPR, DPD, DPRD Provinsi dan DPRD Kabupaten/Kota.

Namun lanjut Piter Wukak, Kapolres juga tetap pada sikapnya bahwa mereka memroses tiga anggota DPRD tersebut dengan mengacu pada KUHP. “Dalam pertemuan tersebut, kita tidak menemukan titik yang sama. Kami mengacu pada UU MD3, Kapolres mengacu pada KUHP. Sampai kepala pecah pun kita tidak akan ketemu,” katanya.

Piter mengatakan, asas hukum lex spesialis itu mengalahkan asas hukum lex generalis. UU Nomor 27 tahun 2009 tentang MD3 itu (UU khusus), sementara KUHP itu UU umum.

Massa tetap berdiri di luar kantor polisi. Masa baru kembali ke DPRD setelah pimpinan dan anggota dewan pulang dari Polres Lembata. Sementara Fransiskus Limawai hingga pukul 17.30 Wita masih diperiksa oleh penyidik Polres Lembata. Masa bersama anggota DPRD Lembata Petrus Bala Wukak dan Servasisus Suban berjalan kaki dari Polres Lembata ke DPRD Lembata bersama masyarakat.

BK Goblok

Calon Wakil Ketua II DPRD Lembata Paulus Dolu Makarius kepada wartawan mengatakan, sebenarnya kalau badan kehormatan sejak dari awal menyikapo masalah ini, maka tidak mungkin terjadi seperti ini. “Badan Kehormatan DPRD Lembata periode sebelumnya (2009-2014) itu goblokm,” ujarnya.

Ia mengatakan, jika saja Badan Kehormatan DPRD Lembata periode 2009-2014 ini bekerja, memeriksa dan membuat rekomendasi kepada pimpinan DPRD, maka tiga anggota dewan ini tentunya tidak mengalami proses hukum seperti ini.***(Flores Pos, Jumat, 31 Oktober 2014)

Advertisements

About Avent Saur

Lahir 27 Januari 1982 di kampung Weto, Kecamatan Welak, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Bulan kelahiran ini masih diragukan, karena Mama saya bilang saya dilahirkan pada bulan usai panen jagung dan padi. Yah... sekitar bulan Juli. Di akte kelahiran dan surat baptis (agama Katolik), 27 Juli 1982.Studi filsafat dan teologi pada Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero, Maumere, Flores, NTT. Pernah menjadi wartawan pada majalah bulanan KUNANG-KUNANG (2008-2009). Sekarang, tinggal di Ende, "bantu-bantu" di harian umum Flores Pos. Blog ini dibuat, sejak 20 April 2013.
This entry was posted in BERITA and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s