Ingatan dan Ikhtiar

  • Catatan Satu Tahun Komunitas Malam Puisi Ende

Oleh Kristo Suhardi

DSC02396

Kristo Suhardi dan Christin sedang membacakan puisi berjudul “Credo Kaum Muda” karya John Dami Mukese SVD, dalam Malam Puisi, Jumat (31/10) malam.

Manusia, tulis Joseph Grange, hidup tidak hanya dari roti saja; metafora dan fiksi juga merupakan nutrisi bagi kehidupan. Ungkapan Grange ini secara tegas mengafirmasi peran metafora, kultur puitis, dan simbolisme dalam kehidupan manusia. Kesadaran tentang sejarah manusia sebagai sejarah tentang metafora akan membuat kita melihat para penyair dengan metafora yang mereka sajikan sebagai barisan depan spesies. Metafora brilian yang diterjemahkan dalam tindakan dapat menjadi obat mujarab untuk menyembuhkan roh zaman yang melembek dan merehabilitasi kehidupan.

Memaknai kehadiran satu tahun sebuah komunitas puisi, hemat saya, berarti juga memaknai kehadiran metafora-metafora yang ditampilkan dalam ragam bahasa puisi. Seperti halnya kemanusiaan yang ditampakkan dalam perguliran waktu dengan aneka peristiwa yang menyertainya, metafora juga menampakkan arti hadirnya dalam ragam bahasa manusia yang mesti mampu mengarahkan manusia ke arah hidup yang lebih baik.

Ulang tahun sebenarnya lahir dari perhitungan waktu, dan menghitung waktu mesti dilihat sebagai tindakan melawan lupa. Karena itu, bila berpijak pada konsep dasar filsafat manusia yang meyakini manusia sebagai gembala tradisi sekaligus nabi masa depan, maka pemaknaan perguliran waktu satu tahun mesti mampu mengarahkan dan menghubungkan manusia dengan ingatan-ingatan dan serentak membawanya pada ikhtiar-ikhtiar baru dalam mengantisipasi masa depan. Mengingat bukan hanya soal kesanggupan dan kesetiaan untuk tidak melupakan, tetapi tentang kerendahan hati untuk tidak menyangkal.

Malam Puisi Ende

Komunitas Malam Puisi Ende (KMPE) sebenarnya lahir dan tumbuh dari harapan dan kerinduan beberapa anak muda (Telly Rohy, Dean Fauwzya, Sophie Kusnadi, Djho Izmail dan Kristo Suhardi) akan adanya sebuah komunitas puisi yang mampu mewadahi dan menjadi penyalur minat berpuisi dalam diri anak-anak muda. KMPE merupakan jelmaan dari mimpi besar untuk menggairahkan dan menghidupkan kecintaan terhadap puisi dalam diri anak-anak muda di Ende.

KMPE mendaftarkan diri dalam Malam Puisi Indonesia pada 20 Oktober 2013 dan tercatat sebagai kota ke-20 di Indonesia yang menyelenggarakan malam puisi. Agenda rutin bulanan yang diusung KMPE adalah menyelenggarakan pagelaran puisi sekali dalam sebulan. Agenda rutin ini disebut sebagai malam puisi, yakni sebuah malam yang dipersembahkan dan didedikasikan khusus untuk puisi-puisi yang ditampilkan dalam ragam bentuk. KMPE mencoba menampilkan puisi secara lebih kreatif dan variatif. Hal ini hendak merobohkan pandangan ‘kaku’ yang selama ini dilekatkan pada puisi, sekaligus hendak menunjukkan bahwa puisi bukan hanya milik segelintir kaum elitis, tetapi miliki semua orang. Puisi adalah kita, dan setiap kita memiliki puisi dan narasi masing-masing.

Pada usianya yang kini menginjak satu tahun, KMPE telah menyelenggarakan 12 kali malam puisi yang secara rutin dilakukan sejak November 2013. KMPE selalu melibatkan anak-anak muda dari komunitas-komunitas minat lain dan pemerintah dalam setiap pagelaran malam puisi. Pelibatan dan kerja sama apik seperti ini hendak menunjukkan bahwa puisi adalah madah persaudaraan semesta, syair cinta kasih universal, dan lirik-lirik persatuan yang mampu merangkum semua orang jadi satu. Menjadi satu, bukan dalam arti penyeragaman dan pereduksian, melainkan satu dengan tetap membiarkan setiap komunitas yang terlibat menampilkan keberbedaan dan kekhasannya masing-masing.

Salah satu hal menarik dan sungguh membanggakan setiap kali pagelaran malam puisi Ende adalah hampir semua puisi yang disajikan dalam ragam bentuk adalah puisi-puisi karya sendiri. Puisi-puisi ini berkisah tentang kenangan, debur mimpi, debar harapan dan ikhtiar untuk merajut masa depan yang lebih baik. Melalui syair-syair puisi, setiap orang meramu dan menghadirkan kenangannya secara baru, memberi makna dan memandangnya secara baru karena masa lampau bukanlah sebuah masa yang benar-benar lampau.

Puisi adalah pembicaraan ke dalam hati yang mencoba membebaskan diri dari sikap kolektif yang mengungkung kreativitas diri dan lepas dari bayang-bayang rumus-rumus doktrinal yang memenjara. Puisi, kata Goenawan Muhammad, menyadarkan kita bahwa kita bukanlah cuma sebuah jendela yang menangkap satu landskap di luar sana. Puisi yang hidup dengan dan dari metafora, mencoba menangkap hidup, kenangan, ingatan dan kekayaannya yang tak berhingga dari aneka sisi tilik yang tak terbatas.

Ingatan

Ingatan merupakan salah satu tema besar dalam pergumulan filsafat dan sastra. Dalam filsafat, kita dapat menyebut beberapa filsuf yang mengupas tema ini, antara lain Henri Bergson yang melihat ingatan sebagai proses dialektis antara tubuh manusia dan peristiwa yang dialaminya; Paul Ricoeur yang mengupas distorsi, gangguan dan pelecehan-pelecehan terhadap ingatan, khususnya ingatan kolektif; dan Bridget Fowler yang berbicara tentang dialektika ingatan: peristiwa mempengaruhi ingatan kita dan di sisi lain, cara kita mengingat masa lalu mempengaruhi ingatan kita terhadap masa lalu itu sendiri.

Dalam ranah sastra, banyak karya sastra merupakan bentuk lain dari upaya mendokumentasikan ingatan dalam narasi sastrawi. Elie Wiesel, eks tahanan kamp konsentrasi Nasi, misalnya, melihat ingatan sebagai suatu berkat karena menghubungkan kita dengan masa lalu, mengantar kita pada masa sekarang dan mengarahkan kita untuk mengantisipasi masa depan dengan baik. Contoh lain, sastrawan Ceko Milan Kundera yang mengulas tema ingatan dalam novel fenomenalnya “The Book of Laughter dan Forgetting”. Salah satu ungkapan kunci Kundera dalam buku ini adalah “The struggle of man against power is the the struggle of memory against forgetting.”

Dalam konteks ulang tahun sebuah komunitas puisi, hemat saya, ingatan bukan hanya sekadar berhenti pada kesetiaan untuk terus menerus mengingat, menolak lupa dan kerendahan hati untuk tidak menyangkal kenangan. Mengingat mesti dipadukan dengan kesanggupan untuk bernarasi tentang apa yang diingat di tengah amnesia kolektif dengan tetap berpegang teguh pada kebenaran. Membahasakan dan menarasikan kembali ingatan dalam larik-larik puisi, misalnya, adalah bagian dari upaya mengabadikan kenangan. Dokumentasi ingatan yang dipublikan dalam koran atau diwartakan dalam pementasan puisi, merujuk pada Fowler, dapat menjadi semacam kendaraan bagi ingatan kolektif untuk memberikan konteks bagi kehidupan dan masa depan suatu komunitas.

Namun, ingatan dan dokumentasi kenangan mesti tetap berpegang teguh dan mengabdi pada kebenaran. Kebenaran mesti dijunjung tinggi untuk menghindari distorsi dan pelecehan-pelecehan terhadap ingatan. Kesetiaan pada kebenaran dan kesadaran ikhwal tanggung jawab terhadap yang lain sangat penting, untuk melawan apa yang disebut Milan Kundera sebagai damnatio memoriae, yakni pelupaan yang dilakukan secara sadar, kolektif dan memaksa.

Dalam kerangka baca seperti ini, sudah semestinya puisi menjadi suara bagi yang tak mampu bersuara dan menghidupi suara itu dalam tindakan. Puisi mesti mampu menghadirkan kembali kenangan-kenangan atau peristiwa-peristiwa yang mungkin sudah dilupakan, sengaja dihapus dari ingatan, dilecehkan, dikacaukan atau diamankan demi kepentingan parsial segelintir orang. Untuk konteks KMPE, kita boleh berharap, agar puisi yang dihadirkan dapat menjadi wadah kritik sosial, menyuarakan apa yang sudah dilupakan dan mengingatkan orang akan berbagai kebobrokan dan ketimpangan di masa lalu yang seringkali dipandang sebelah mata dan lebih sering diamankan oleh penguasa. Tentang ideal ini, kita dapat berguru pada Rendra, Wiji Thukul, dan Taufiq Izmail.

Ikhtiar

        Puisi, kata Goenawan Muhammad, tidak berangkat dari nama yang menyempitkan identitas yang menolak arti baru. Puisi menampik konsep yang selesai. Puisi memungkinkan orang untuk bermain-main dengan makna, memahami setiap metafora sesuai dengan konteks penafsir masing-masing. Puisi, bila merujuk semangat dasar postmodernisme, mengusung keyakinan bahwa kebenaran tak pernah hadir dalam wujud yang utuh sekaligus; kebenaran selalu menyebar (mininarasi).

Kematian puisi ialah bila ia membuat kita tidak bisa lagi menari dengan makna. Karena itu, ikhtiar kita di hadapan puisi, selain janji untuk terus menerus bersuara lewat puisi, tetapi juga ikhtiar untuk terus-menerus memberi makna pada puisi. Makna itu, bukan hanya ditampakkan dalam rentet kata, tetapi terlebih dalam tindakan untuk merehabilitasi kehidupan. Seperti halnya merawat kenangan, bukan terutama hanya dalam konstansi diri untuk terus-menerus mengingat, tetapi kesungguhan untuk memberi makna baru pada kenangan-kenangan tersebut. Hanya dengan kesanggupan untuk memberi makna, puisi menjadi begitu berarti, dirindu, dinanti, dan terus didamba agar tak pernah berhenti bersuara.

Untuk konteks KMPE dan para peminat puisi pada umumnya, barangkali ikhtiar itu dapat dimulai dengan membangun komitmen dan kesungguhan hati untuk terus berpuisi: membaca puisi, mencipta puisi, dan memberi makna pada puisi. Mengutip Chairl Anwar, “sebuah sajak yang menjadi adalah sebuah dunia”. Karena itu sudah sepantasnya, puisi mesti mampu menawarkan dan menghadirkan sebuah dunia baru yang penuh pengharapan.

Dengan tafsiran dan pemaknaan seperti ini, penulis mengucapkan selamat dan proficiat kepada KMPE untuk ulang tahun perdana ini.***(Flores Pos, Selasa, 28 Oktober 2014)

About Avent Saur

Lahir 27 Januari 1982 di kampung Weto, Kecamatan Welak, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Bulan kelahiran ini masih diragukan, karena Mama saya bilang saya dilahirkan pada bulan usai panen jagung dan padi. Yah... sekitar bulan Juli. Di akte kelahiran dan surat baptis (agama Katolik), 27 Juli 1982.Studi filsafat dan teologi pada Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero, Maumere, Flores, NTT. Pernah menjadi wartawan pada majalah bulanan KUNANG-KUNANG (2008-2009). Sekarang, tinggal di Ende, "bantu-bantu" di harian umum Flores Pos. Blog ini dibuat, sejak 20 April 2013.
This entry was posted in FEATURE and tagged , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s