Bercermin pada Kalbu Rakyat

Oleh Frans Nala, Pr

Menulis

Frans Nala Pr, Tinggal di Santu Klaus Kuwu, Manggarai

Rakyat Indonesia telah memasuki era baru kehidupan bernegara dengan dilantiknya Jokowi-JK  sebagai Presiden dan Wakil Presiden. Momentum pelantikan ini dinilai sebagai sesuatu yang paling fenomenal dalam sejarah, karena dirangkai dengan prosesi pesta rakyat yang begitu meriah dan spektakuler. Suasana ini sedikitnya meneduhkan suhu politik yang sempat memanas di parlemen pasca pemilihan pimpinan DPR-MPR beberapa waktu lalu. Pada titik ini, pelantikan menjadi momen rekonsiliasi politik nasional. Apalagi acara pelantikan tersebut dihadiri oleh hampir semua elite politik (Ketua Parpol). Bahkan rival sejawat Jokowi-JK dalam perhelatan Pilpres lalu, Prabowo-Hatta turut hadir menyaksikan peristiwa bersejarah ini.

Suksesi kepemimpinan merupakan langkah politis yang penting untuk mempercepat pembangunan. Seorang pemimpin dilihat sebagai dasar utama kepastian pengelolaan kebijakan publik. Kecuali itu, suksesi kepemimpinan kiranya tidak disertai dengan suksesi persoalan dan kegagalan pada periode sebelumnya. Lautan massa yang mengagung-agungkan Jokowi-JK pada saat pelantikan memiliki harapan besar agar janji-janji politik yang ditawarkan selama masa kampanye silam segera diartikulasikan. Ini lebih dari sekadar euforia atau sensasi massa. Jokowi-JK menerima amanat yang berat untuk merealisasikan janji politik dan program kerakyatannya agar rakyat tidak kecewa dan berbalik mengumpat.

Pemimpin Dari dan Untuk Rakyat

Pesta rakyat yang spektakuler pasca pelantikan mengungkapkan bahwa Jokowi-JK memang merupakan “pemimpin yang lahir dari dan merakyat”. Namun hal itu bukan sekadar ekspresi deklaratif, melainkan tugas dan panggilan yang harus dimaknai dalam pemerintahan ke depan. Di mana-mana tidak ada seorang pun yang terlahir sebagai pemimpin atau pemimpin titisan. Menjadi pemimpin adalah bagian dari proses pembelajaran secara terus-menerus dalam geliat hidup konkret. Kepemimpinan politik merupakan amanah untuk mewujudkan kedaulatan rakyat. Namun demikian, jargon tersebut terkadang hanya sebagai lipservice untuk meraup dukungan dan mendongkrak popularitas. Dengannya, banyak pemimpin yang gagal mewujudkan impian dan amanat rakyat secara artikulatif karena sibuk membangun pencitraan diri.

Jokowi-JK dinilai banyak orang sebagai pemimpin yang lahir dari rakyat (wong cilik). Slogan popular yang sering muncul di media beberapa waktu lalu, “Jokowi-JK adalah kita, kita adalah Jokowi-JK” mengungkapkan hal itu. Slogan ini tentu tidak hanya bermuatan politis untuk mengafiliasi dukungan terhadap keduanya, tetapi secara emosional mengungkapkan kedekatan dan kebersatuan mereka dengan rakyat. Amanat rakyat merupakan berkat sekaligus tanggung jawab bagi keduanya. Imperatif moralnya, kepemimpinan Jokowi-JK ke depan harus sungguh-sungguh mencerminkan kalbu rakyat. Itu berarti, bukan saja gaya hidup merakyat yang ditampilkan, melainkan juga kebijakan politik yang menjawabi geliat hati rakyat.

Dinamika politik yang terjadi di parlemen saat ini, menuntut Jokowi-JK berjuang keras menyatukan pelbagai potensi dan mensinergikan aneka kekuatan untuk perubahan dan kemajuan bangsa. Dukungan rakyat tidak diragukan lagi, apalagi melihat antusiasme rakyat pada saat pelantikan. Namun pekerjaan berat adalah membangun komunikasi politik dengan pelbagai elemen sosial-politik. Ini amat penting agar roda pemerintahan yang mereka nahkodai ke depan berjalan efektif. Dalam aras ini, Jokowi telah menemui sejumlah tokoh dan pimpinan Parpol sebelum pelantikan untuk menyatukan persepsi dan mengkonsolidasi kekuatan demi kemajuan bangsa. Langkah politik ini memiliki pesan yang amat penting dan perlu diapresiasi sebagai bagian dari upaya untuk ‘menyelamatkan’ bangsa dari polarisasi kekuatan.

Euforia massa pasca pelantikan beberapa waktu lalu kiranya menggambarkan “pesta-sukacita” rakyat selama periode lima tahun ke depan. Kekeliruan atau kesalahan dalam pengelolaan kebijakan publik yang membuat ‘hati rakyat terluka’ dan ‘menderita’ mesti diminimalisir. Dalam aras ini, Jokowi dalam pidato inagurasinya telah mengajak seluruh elemen masyarakat untuk membangun etos kerja yang tinggi dalam semangat gotong royong. Ajakan ini, secara tersirat, mengandung pesan moral, tidak ada gunanya bereuforia dan berekspektasi terlalu tinggi tanpa komitmen untuk bekerja keras dan berjuang bersama. Euforia dan dukungan yang benar adalah menyatukan segala potensi, kekuatan, emosi, pikiran, dan napas perjuangan dalam agenda politik dan kebijakan publik yang mereka tawarkan.

Membangun Sinergi dan Konsolidasi

Pengelolaan kebijakan publik merupakan satu hal penting dalam tugas kepresidenan karena berkaitan dengan hajat hidup orang banyak. Dalam proses pengelolaan kebijakan publik itu,s banyak kepentingan saling berebutan pengaruh, bahkan saling mendominasi. Sekalipun demikian, organ civil society diharapkan dapat mempertemukan dan mendialogkan pelbagai kepentingan yang berbeda tersebut. Hal tersebut membutuhkan negosiasi, konsultasi, lobi dan advokasi yang arif dari pemerintah. Kebijakan yang mengutamakan nilai-nilai demokrasi pasti memiliki basis legitimasi yang kuat di tengah masyarakat, dan masyarakat akan merasa memiliki kebijakan tersebut.

Ada beberapa elemen strategis yang perlu disinergikan dalam kaitan dengan pengelolaan kebijakan publik. Pertama, eksekutif. Sebagai bagian pokok dan integral dari pemerintahan, Presiden merupakan aktor utama yang sangat berpengaruh dalam penentuan kebijakan publik nasional. Dalam aras ini, jajaran kabinet sebagai tangan kanan presiden dalam menggerakkan roda pemerintahan mesti dihuni oleh orang-orang yang kapabel dan dipercaya oleh publik serta memiliki track record yang baik. Ini menjadi taruhan awal pemerintahan Jokowi-JK untuk menguatkan legacy dan kepercayaan publik. Untuk itu, Presiden Jokowi mesti menyiapkan perangkat kabinet secara baik, memilih orang-orang yang profesional dan berintegritas dengan kemampuan teknis-komunikasi yang memadai untuk menunjang kinerja pemerintahan.

Kedua, legislatif. Pada era reformasi, lembaga legislatif memiliki peran yang jauh lebih kuat dan signifikan. Ia memainkan fungsi utama dalam proses legislasi dan regulasi yang akan menentukan arah dan teknis pelaksanaan pembangunan. Kebijakan politik yang dibuat lembaga legislatif berpengaruh pada aspek-aspek teknis dalam kebijakan publik. Mereka berperan sebagai katalisator untuk mempercepat proses regulasi. Karena itu, pemerintah perlu membangun komunikasi politik yang baik dengan legislatif agar proses regulasi berjalan optimal dan efektif. Realitas politik ‘terbelah’ yang terjadi di parlemen saat ini menunjukkan bahwa komunikasi politik dengan legislatif (DPR) tidak mudah. Pemerintah (presiden) perlu melakukan mediasi, konsultasi dan negosiasi secara intensif agar program kerakyatan yang digulirkan dapat terwujud.

Ketiga, kelompok-kelompok gerakan kritis dalam masyarakat. Dalam upaya penguatan civil society, peran dan keterlibatan masyarakat dalam proses penyelenggaraan negara sangat penting. Gerakan kritis dapat menjadi barometer kontrol agar kebijakan publik sungguh-sungguh mencerminan geliat hati rakyat. Kelompok gerakan kritis ini terjelma dalam pelbagai macam organisasi dan komunitas sosial, seperti LSM, Ormas, maupun organisasi-organisasi kemahasiswaan yang selama ini dikenal cukup aktif dalam mempengaruhi dinamika politik nasional. Mereka memiliki peran penting dalam proses pengkajian kebijakan politik dan pembentukan opini publik secara efektif. Karena itu, pemerintah mesti menjamin ruang publik yang terbuka dan komunikatif, seperti yang dicita-citakan pemikir sosial Jerman, Jüergen Habermas.

Keempat, kelompok media massa. Peran media massa dalam pengelolaan kebijakan publik sangat signifikan. Media massa bukan terutama menjalankan fungsi pencitraan, melainkan fungsi sosialisasi dan pencerahan publik. Media massa berperan penting dalam upaya menjaring aspirasi publik secara artikulatif dan komunikatif. Karena itu, media pemberitaan atau institusi penyiaran tidak boleh terkooptasi oleh kepentingan pribadi, kelompok, pemodal atau parpol tertentu. Ia harus independen dan bebas ideologi, agar fungsi pendidikan politik dan pencerdasan masyarakat dapat berjalan baik. Media massa tidak boleh bersifat partisan. Media massa harus selalu menjaga kredibilitas dan akuntabilitas pemberitaan demi mempertahankan stabilitas politik dan kohesitas sosial dalam bingkai NKRI.

Seluruh rakyat Indonesia menaruh harapan besar pada Jokowi-JK. Lautan massa yang menyambut mereka pasca pelantikan mengungkapkan hal itu. Kiranya sambutan dan dukungan yang spektakuler ini bersenyawa satu menjadi kekuatan besar untuk membangun Indonesia baru. Rakyat pasti tersenyum bangga kalau perubahan sungguh terwujud. Tetapi mereka akan sangat kecewa, bahkan mengumpat kalau ternyata Jokowi-JK tidak mampu mengemban amanat luhur rakyat ini. Untuk itu, tetaplah menjadi pemimpin yang berintegritas. Jadilah pemimpin yang tidak mudah terkooptasi oleh mesin-mesin parpol atau kekuatan politik lain sehingga kepentingan rakyat selalu ‘menang’. Selamat bekerja Jokowi-JK!***(Flores Pos, Selasa, 4 November 2014)

Advertisements

About Avent Saur

Lahir 27 Januari 1982 di kampung Weto, Kecamatan Welak, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Bulan kelahiran ini masih diragukan, karena Mama saya bilang saya dilahirkan pada bulan usai panen jagung dan padi. Yah... sekitar bulan Juli. Di akte kelahiran dan surat baptis (agama Katolik), 27 Juli 1982.Studi filsafat dan teologi pada Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero, Maumere, Flores, NTT. Pernah menjadi wartawan pada majalah bulanan KUNANG-KUNANG (2008-2009). Sekarang, tinggal di Ende, "bantu-bantu" di harian umum Flores Pos. Blog ini dibuat, sejak 20 April 2013.
This entry was posted in OPINI and tagged , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

One Response to Bercermin pada Kalbu Rakyat

  1. boykolot says:

    rakyat menagih janji2, bisakah mereka memakmurkan rakyat?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s