“Harus Terus Belajar”

Oleh Avent Saur

Anies Baswedan4

Anies Baswedan, Menteri Kebudayaan dan Pendidikan Dasar dan Menengah

Pilihlah jalan mendaki karena (jalan) itu akan mengantar kita ke puncak-puncak baru.Anies Baswedan

Bangga dan terima kasih. Rasa bangga meliputi keluarga besar SDK Santa Ursula Ende, akhir pekan lalu. Betapa tidak, untuk ketiga kalinya, mereka merengkuh Juara I Lomba Sains Tingkat SD se-Kabupaten Ende. Karena prestasi gemilang ini, maka Piala Gubernur NTT yang sebetulnya berstatus “bergilir”, akhirnya, beralih status menjadi “tetap”.

Nama-nama peraih Juara I itu patut dicatat. Pejuara Matematika: Cleopatra Lutvina, Silvano L.H. Kusuma, Michael A. Wahyudi (satu regu). Dan Pejuara IPA: Vikanova R. Bintang Pande, Ermelinda Ue Repi, Elisabet E. Se’a (satu regu). Mereka mengalahkan regu-regu lain yang berasal dari 22 SD.

Sesuatu yang mengikuti rasa bangga adalah ucapan terima kasih. Tak segan, seorang guru pendamping para pejuara berucap, “terima kasih kepada Tuhan (iman) dan terima kasih atas pelbagai kerja keras (mental) semua orang di sekolah”.

Apa yang mau ditimba dari prestasi seperti ini? Pertama, di usia yang masih kecil, anak-anak telah berbuat baik (sosial) untuk lembaga. Kedua, mereka telah menampilkan kepada publik bahwa mereka sebagai pribadi dan mereka sebagai lembaga memiliki kualitas yang patut diperhitungkan.

Dan memang sesungguhnya, untuk tujuan inilah, lomba sains itu digelar. Pihak SMPK Ndao sebagai penyelenggara menegaskan, lomba sains merupakan sebuah ajang persaingan positif demi meningkatkan kecerdasan dan kualitas pendidikan peserta didik. Anak-anak dipacu untuk belajar dan mengekspresikan diri, sementara para guru didorong untuk belajar dan membagikan ilmunya.

Oleh siapa pun, baik siswa maupun guru, prestasi dan kualitas serta suasana pendidikan seperti ini pasti sangat dirindukan. Tapi kerinduan ini, hendaknya, bukan terutama hanya untuk merengkuh hadiah berupa piala atau piagam atau apapun jenisnya; bukan juga terutama hanya untuk mengharumkan nama pribadi, lembaga atau daerah melainkan terutama untuk membentuk kualitas diri manusia itu sendiri. Kualitas ini tidak dicapai hanya dengan perjuangan sekali saja, melainkan berkali-kali, bahkan terus-menerus.

Dalam konteks ini, benar apa yang dikatakan Kadis PPO Ende (Petrus Guido No), kepada peserta didik (saat penyerahan hadiah Lomba Sains). “Perjuangan anda tidak boleh berakhir di sini dan tidak boleh puas pada tahap ini saja. Anda harus terus belajar demi masa depan yang gemilang, dan perjuangan itu harus dimulai dari sekarang.”

Lanjutnya, “Kalian (peserta lomba) adalah orang-orang hebat, orang terbaik dari sekolah anda dan di tempat ini. Anda diberi pengalaman dan wawasan baru bahwa tentang ilmu pengetahuan, Anda tidak boleh bertahan pada apa yang sudah ada. Anda harus terus belajar demi sebuah masa depan yang lebih cerah.”

Perjuangan atau upaya belajar terus-menerus, dalam bahasa Anies Baswedan (Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah), bisa dianalogikan dengan “berjalan mendaki”. Mengapa? Karena “jalan mendaki akan mengantar kita kepada puncak-puncak baru”. Dan kita harus memilih jalan mendaki tersebut. Inilah norma etis dari perjuangan di panti-panti pendidikan demi membentuk dan mencapai manusia yang berkualitas.

Dorongan etis seperti ini memang harus terus-menerus diperdengarkan, untuk selanjutnya dihidupi, mengingat realitas destruktif di pelbagai panti pendidikan saat ini. Misalnya, ada kekerasan fisik dan kekerasan psikis (guru terhadap siswa dan juga antar-siswa), ada kasus korupsi dana bantuan operasional dan proyek sekolah, ada plagiat karya akademik, dan ada juga kecenderungan bisnis pendidikan.

Dalam konteks kasus-kasus ini, siswa dan guru bukan lagi “berjalan mendaki”, bukan juga “berjalan di dataran”, melainkan “berjalan menurun” yang akan menghantar mereka ke lembah-lembah baru yang lebih dalam dan terjal.

Kita yang mungkin berada di lembah mesti bertekad untuk bangun dan menatapi puncak dengan penuh harapan. Ketika berada di puncak-puncak, kita tidak akan hanya merasa bangga dan mengucapkan kata “terima kasih” (seperti keluarga besar SDK Santa Ursula tadi) karena hadiah-hadiah yang direngkuh, melainkan terutama karena kualitas diri yang terbentuk tanpa henti. Marilah, “harus terus belajar!”*** (Kolom Bentara Flores Pos, Kamis, 20 November 2014)

Advertisements

About Avent Saur

Lahir 27 Januari 1982 di kampung Weto, Kecamatan Welak, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Bulan kelahiran ini masih diragukan, karena Mama saya bilang saya dilahirkan pada bulan usai panen jagung dan padi. Yah... sekitar bulan Juli. Di akte kelahiran dan surat baptis (agama Katolik), 27 Juli 1982.Studi filsafat dan teologi pada Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero, Maumere, Flores, NTT. Pernah menjadi wartawan pada majalah bulanan KUNANG-KUNANG (2008-2009). Sekarang, tinggal di Ende, "bantu-bantu" di harian umum Flores Pos. Blog ini dibuat, sejak 20 April 2013.
This entry was posted in OPINI and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s