Krisma dan Kesaksian

Oleh Avent Saur

Mgr Vincentius Sensi Potokota Pr

Uskup Agung Ende, Mgr Vincentius Sensi Potokota Pr

Mereka diwajibkan lebih ketat lagi untuk menyebarkan dan membela iman sebagai saksi-saksi Kristus sejati, baik dengan perkataan maupun dengan perbuatan. – Lumen Gentium, Nomor 11

Sejumlah 1.117 anak remaja (sekolah menengah) dan umat lainnya menerima sakramen Krisma di Gereja Paroki Onekore, Keuskupan Agung Ende, Minggu (23/11). Mereka berasal dari tiga paroki dan satu paroki persiapan yang berada di kota Ende.

Kepada mereka, Uskup Agung Ende Mgr. Vincentius Sensi Potokota, dalam khotbahnya, menyinggung hakikat misioner dari sakramen krisma. “Sakramen krisma melahirkan umat yang dewasa dan bermutu. Kedewasaan dan kualitas itu ditunjukkan melalui relasi yang baik dengan Tuhan (vertikal), dengan sesama (horizontal) dan alam ciptaan. Umat dengan identitas seperti inilah yang sangat dibutuhkan Gereja dan dunia.”

Namun hakikat misioner dari krisma mustahil digapai tanpa bantuan orang tua, yang notabene menjadi orang-orang yang lebih dekat dengan anak-anak. Dengan itu, Uskup Sensi mengajak orang tua untuk bertanggungjawab mendidik anak-anaknya supaya “dewasa dan bermutu”, juga “cerdas dan bertanggungjawab”. Karena demikian pentingnya tanggung jawab orang tua, maka apa pun tantangannya, orang tua mesti berkorban demi anak. Jika orang tua lalai, dan dengan demikian, anak-anak juga tidak dewasa dan tidak bermutu, tidak cerdas dan tidak bertanggung jawab, maka orang tua-lah yang berdosa.

Ajakan misioner ini, pada dasarnya, mengarahkan anak-anak dan orang tua untuk mewujudkan salah satu tugas Gereja yakni kesaksian. Sebagaimana ditegaskan Lumen Gentium nomor 11, buah Konsili Vatikan II, inti dari kesaksian Gereja itu mesti ditunjukkan dalam perkataan dan perbuatan. Dengan kesaksian itu, perayaan sakramen krisma tidak lagi hanya menjadi ritus, melainkan juga sebuah praksis hidup Gereja. Ketika ritus dan praksis hidup berjalan serasi, maka pada saat itulah, Gereja yang dewasa dan berkualitas akan tercapai.

Ajakan misioner untuk bersaksi dari seorang gembala kepada domba-dombanya, sesungguhnya sangatlah penting untuk selalu diperdengarkan mengingat perilaku Gereja (umat) yang cenderung mengarah kepada “kesaksian tandingan” yang berlawanan dengan identitasnya sebagai anggota Gereja. Anak-anak, misalnya, malas bersekolah, cenderung berkelahi dengan teman-teman, lebih banyak waktu untuk bermain-hura-hura, lebih suka berparkir di deker dan jalan-jalan, atau menghadiri upacara doa lebih sebagai kewajiban ritual tanpa intensi yang serius. Yah, sekalipun intensitas kesaksian berlawanan ini tampak “kurang atau lebih” pada anak yang berbeda.

Demikian juga orang tua. Sekalipun intensitasnya “kurang atau lebih”, tapi “kesaksian tandingan” yang berlawanan dengan identitasnya sebagai anggota Gereja selalu tampak dalam pelbagai aspek hidupnya. Yang paling popular, misalnya, dalam bidang politik adalah praktik korupsi, kolusi dan nepotisme, manipulasi, kritik destruktif, pengabdian rendah, balas dendam dan balas budi yang sempit, otoriter dan apatis terhadap kritik konstruktif, serta pelbagai kesaksian tandingan lainnya.

Demikian juga dalam hidup keluarga dan sosial. Yang sering terjadi adalah kekerasan dalam rumah tangga, perceraian dan perselingkuhan, kepedulian sosial yang rendah, egoistis, dan sebagainya.

Dengan ajakan misioner itu, baik anak-anak (sekurang-kurangnya anak-anak remaja yang menerima sakramen krisma) maupun orang tua mereka, disadarkan untuk mengingat pelbagai kesaksian tandingan itu, dan segera berbalik untuk bersaksi sebagai anggota Gereja yang sejati.

Jumlah 1.117 bukanlah jumlah yang kecil. Kalau anak-anak remaja itu dan orang tuanya masing-masing sungguh konsisten dengan komitmen kesaksiannya, maka bukan tidak mungkin, ideal perubahan dunia dan Gereja (sekurang-kurangnya) di kota Ende, pasti akan terwujud. Pengurapan dan peletakan tangan uskup atas anak-anak itu pun tidak menjadi sia-sia.

Semuanya ini tentu membutuhkan perjuangan. Dan dalam perjuangan itu, sebetulnya, kita anggota Gereja telah dikuatkan untuk mampu berjuang sampai berhasil, melalui pengurapan dan peletakan tangan gembala kita. Sekali lagi, kita “diwajibkan untuk lebih ketat lagi” dalam bersaksi: perkataan dan perbuatan, sebagaimana diamanatkan oleh Lumen Gentium.*** (Kolom Bentara Flores Pos, Kamis, 27 November 2014)

Advertisements

About Avent Saur

Lahir 27 Januari 1982 di kampung Weto, Kecamatan Welak, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Bulan kelahiran ini masih diragukan, karena Mama saya bilang saya dilahirkan pada bulan usai panen jagung dan padi. Yah... sekitar bulan Juli. Di akte kelahiran dan surat baptis (agama Katolik), 27 Juli 1982.Studi filsafat dan teologi pada Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero, Maumere, Flores, NTT. Pernah menjadi wartawan pada majalah bulanan KUNANG-KUNANG (2008-2009). Sekarang, tinggal di Ende, "bantu-bantu" di harian umum Flores Pos. Blog ini dibuat, sejak 20 April 2013.
This entry was posted in OPINI and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s