Kelompok Miskin

  • Kolom Kutak-Kutik Flores Pos

Oleh Avent Saur

Kelompok Miskin

Perkara kemiskinan selalu dibicarakan di mana-mana dan oleh siapa saja. Yah, khususnya kemiskinan dari sisi ekonomi materiil (bukan spiritual).

Kalau yang membicarakan kemiskinan adalah para pejabat, pengawai negara, politikus, pengusaha dan orang-orang kelompok ekonomi menengah ke atas, maka kemiskinan dipadang sebagai kesempatan untuk bertindak “membantu”. Tapi “membantu”, bagi mereka, tidak selalu tanpa pamrih, selalu harus berpamrih. Setidaknya, mereka mempertimbangkan sejauh mana tindakan membantu itu juga membuka peluang bagi mereka untuk menerima “sesuatu”.

Bertolak dari cara berpikir inilah, muncul juga praktik kapitalisasi kemiskinan dan politisasi kemiskinan. Artinya, kemiskinan (atau orang miskin) dijadikan sarana untuk mendulang rezeki ekonomi (sekalipun sudah terima gaji), dan kemiskinan dipergunakan sebagai jembatan untuk meraup dukungan politik atau jabatan tertentu. Dalam konteks inilah, apa yang kita sebut “keserakahan, konsumerisme, penindasan ekonomi, hedonisme, egoisme, kelompokisme” terjadi secara terang-terangan.

Kalau cara berpikirnya seperti ini, dan juga kalau praksisnya seperti ini, bukankah orang kaya semakin kaya, dan orang miskin tetap bahkan semakin miskin? Bukankah solidaritas dan subsidiaritas, keadilan dan tanggung jawab sosial, hanya akan tetap menjadi prinsip moral tanpa praksis? Arus ketimpangan sosial-ekonomi-kemanusiaan pun semakin deras tak terbendung; juga kesenjangan sosial-ekonomi semakin melebar. Kita pun kadang bertanya, inikah takdir dunia? Atau masih adakah harapan untuk membongkar takdir?

Rasanya, pertanyaan-pertanyaan ini hanya perkara psikologis (hati dan pikiran), sebab takdir itu tidak ada. Contoh dahsyatnya, kolonialisme asing itu sudah berlalu, sekalipun dengan perjuangan yang militan dan panjang. Setidaknya, kemiskinan juga akan berlalu seperti kolonialisme tersebut, entah membutuhkan perjuangan seperti apa, dan entah membutuhkan waktu berapa lama.

Di negara kita, ada jutaan orang yang miskin. Entah angkanya kadang menurun dari tahun ke tahun, entah juga malah semakin menaik dari rezim ke rezim. Untuk mengentasnya, pemerintah menempuh pelbagai cara, termasuk pelbagai paket kartu sakti yang akhir-akhir ini bergema.

***

Kita tidak sedang diajak untuk “merenungi” kartu-kartu sakti tersebut. Ada satu hal lain yang setara dengan kartu itu, dan telah digalakkan setahun lalu.

Di NTT, atas “suruhan” kementerian sosial, Dinas Sosial Provinsi memberikan bantuan kepada sejumlah 1.640 Kelompok Usaha Bersama Fakir Miskin (KUBE-FM) yang tersebar di 21 kabupaten/kota. Itu dilakukan sejak 2013. Usaha bersama dimaksud tampak dalam pelbagai rupa: kelompok tani, nelayan, koperasi, dan mungkin ada rupa lain lagi.

Tiap kelompok terdiri dari 10 kepala keluarga. Itu berarti orang miskin yang terdaftar dalam pelbagai kelompok itu berjumlah 16.400, tidak termasuk istri dan anak-anak mereka. Tentu jumlah ini masih jauh dari jumlah orang miskin di NTT yang mencapai 1,29 juta orang atau 20,41 persen dari total penduduk provinsi ini (tahun 2013). Kalau setiap tahun, kelompok-kelompok seperti ini terbentuk, maka bukan tidak mungkin pada suatu saat, kelompok-kelompok itu tidak lagi disebut “kelompok fakir miskin” melainkan “kelompok sejahtera”. Apakah ini mungkin terjadi?

Siapa pun orangnya, pasti mengharapkan hal ini terjadi, sebab semua orang ingin hidup sejahtera. Tapi motivasi dan cara pemerintah yang diwakili oleh “suara” Kadis Sosial NTT, Wihelmus Foni membuat kita “lemah” sebelum “berjuang” (FP, 22/11).

Katanya, “bantuan, entah berapa besarnya, yang diberikan kepada KUBE-FM merupakan sebuah rangsangan. Diharapkan, kelompok miskin dikuatkan dari sisi modal untuk bersemangat mengembangkan usahanya (produktif), dan ujung-ujungnya, kemiskinan bisa dientas.” Dengan itu, ujar Foni, kunci pengentasan kemiskinan adalah anggota kelompok itu sendiri, sementara pemerintah hanya sebagai perangsang dalam rupa modal.

Kalau penyebab kemiskinan adalah semata-mata modal, maka ujaran Foni tersebut sangat benar adanya. Soalnya, Foni mengutarakan pelbagai sebab kemiskinan, semisalnya, kesenjangan struktural melebar, kondisi geografis parah, kualitas SDM rendah, sarana dan sistem transportasi belum memadai. Yah, belum lagi mental masyarakat (aspek budaya) yang perlu ditangani dari sisi motivasi. Itu berarti orang miskin perlu dibentuk dari pelbagai aspek, bukan parsial.

Rupanya, variasi sebab inilah yang belum diperhitungkan oleh Foni, sekalipun dia telah mengetahuinya. Efektivitas program pemberian bantuan itu pun patut diragukan. Kecurigaan atau pesimisme pun berlanjut, apakah pemberian bantuan itu hanyalah sebuah bentuk kapitalisasi orang miskin? Apakah ini sebuah upaya politisasi orang miskin? Di sinilah, praktik korupsi punya peluang. Dan sesungguhnya itulah yang sering terjadi.

***

Benar apa yang dikatakan pada awal tadi, tidak ada pemberian bantuan tanpa berpamrih untuk pemberi itu sendiri. Ada begitu banyak kesempatan, di mana pemerintah akan membentuk lebih banyak lagi kelompok miskin yang sebetulnya justru menjadi “ladang” untuk menuai hasil untuk diri sendiri atas nama orang miskin.

Sampai pada titik ini, saya pun teringat akan pengalaman beberapa waktu lalu ketika menyelamatkan Anselmus Wara (gila) dari pasungan sadis warga kampungnya sendiri. Ketika saya mengucapkan terima kasih kepada seorang pejabat yang memimpin evakuasi penyelamatan, ia menuturkan: “Saya tidak patut menerima ‘terima kasih itu’, sebaliknya saya-lah yang patut berterima kasih kepada kalian. Mengapa? Saya bekerja dan menerima gaji, tapi kalian bekerja sosial tanpa pamrih.”

Entahlah. Tapi yang paling fundamental adalah pejabat itu menggunakan “kekuasaannya” untuk pengabdian terhadap kemanusiaan. Gaji adalah sesuatu yang wajib mereka terima, asalkan, jangan menerima lebih daripada apa yang seharusnya. Kalau upaya pengentasan kemiskinan berjalan dalam kerangka pengabdian ini, maka “kelompok miskin” akan berubah menjadi “kelompok sejahtera”.*** (Flores Pos, Rabu, 3 Desember 2014)

Advertisements

About Avent Saur

Lahir 27 Januari 1982 di kampung Weto, Kecamatan Welak, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Bulan kelahiran ini masih diragukan, karena Mama saya bilang saya dilahirkan pada bulan usai panen jagung dan padi. Yah... sekitar bulan Juli. Di akte kelahiran dan surat baptis (agama Katolik), 27 Juli 1982.Studi filsafat dan teologi pada Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero, Maumere, Flores, NTT. Pernah menjadi wartawan pada majalah bulanan KUNANG-KUNANG (2008-2009). Sekarang, tinggal di Ende, "bantu-bantu" di harian umum Flores Pos. Blog ini dibuat, sejak 20 April 2013.
This entry was posted in OPINI and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s