Jeritan Penderita Kusta

Penderita Kusta

Penderita kusta

  • Kolom Bentara Flores Pos

Oleh Avent Saur

Kusta, penyakit tertua di dunia. Kisah yang paling popular tentang penderita kusta, kita kenal melalui kitab suci agama-agama abrahamik: Yahudi, Islam dan Kristen. Kini, penyakit kusta diderita oleh begitu banyak orang, tersebar di seluruh dunia.

Seturut data Kementerian Kesehatan RI tahun 2013, Indonesia berada pada peringkat ketiga dunia, dengan penderita berjumlah 23.169 orang. India peringkat pertama: 126.800 penderita, dan Brazil peringkat kedua: 34.894 penderita.

Dari kisah-kisah biblis dan pengalaman penderita di pelbagai belahan dunia, kita mengenal lima hal getir yang membuat mereka senantiasa menjerit dalam diam. Pertama, secara fisis, mereka menderita sakit: saraf tangan dan kaki mati, kulit terkelupas bahkan jari tangan atau kaki terlepas, dan pelbagai ciri khas lainnya. Kedua, dalam keadaan begitu, secara ekonomi, mereka tergolong orang tidak beruntung.

Ketiga, secara sosial, mereka diasingkan dari tengah masyarakat. Alasannya, kusta tergolong penyakit menular. Padahal, penularan itu tidak semudah yang dibayangkan dan ditakuti. Lihat saja para perawat termasuk suster di Rumah Sakit Kusta (Lepra) Santo Damian di Lewoleba. Setiap hari mereka bergaul membaur dengan penderita kusta, dan sedikit pun tidak tertular.

Ketakutan akan ketertularan sering bergeser kepada bukan saja perlakuan diskriminatif, melainkan juga muncul pengecapan (stigma) negatif terhadap penderita kusta. Masyarakat memandang penderita kusta sebagai orang yang tidak layak lagi tinggal di masyarakat. Bukan cuma masyarakat luas, tetapi juga anggota-anggota keluarga mereka. “Ada pasien kusta (lepra) yang sudah kembali ke rumah setelah sembuh, tetapi kembali lagi ke Damian dan mau tinggal di Damian karena di masyarakat, mereka mengalami tekanan psikologis: dikucilkan, tidak diterima oleh anggota keluarganya,” (FP, 10/12).

Keempat, diskriminasi dan stigma sosial ternyata juga dilakukan oleh penyelenggara negara. Semisal di Lembata, wakil rakyat Paulus Dolu baru angkat bicara, mendesak pemerintah Lembata untuk membantu penderita kusta di RS Santo Damian. Rencana pemberian bantuan akan diperjuangkan dalam APBD 2015.

Agaknya memang memprihatinkan, usia RS Damian sudah memasuki tahun yang ke-55, dimulai tahun 1959, sementara mengakomodasi kebutuhan penderita kusta dalam APBD baru dilakukan. Hak orang sakit sebagai rakyat dalam sebuah komunitas politik diabaikan.

Kelima, seturut kisah-kisah biblis agama-agama abrahamik, masyarakat menelantarkan penderita kusta bukan hanya karena takut tertular melainkan juga karena memandang penyakit kusta sebagai kutukan Yahwe (aspek religius). Kutukan datang karena dosa berat. Diskriminasi dan stigma juga lahir dari agama.

Meneladani Yesus yang datang menyelamatkan penderita kusta, Mgr Gabriel Wilhelmus Manek SVD dan Ibu Isabella Diaz Gonzales menginisiasi pendirian RS untuk penderita kusta, yang dimulai di rumah pribadi milik umat (Bernardus Weka Lejab). Pastoral kesehatan ini dilanjutkan oleh Mgr Antonius Thijssen SVD, Mgr Darius Nggawa SVD, Ibu Gisella Borowka, dan sekarang suster-suster Kongregasi Pengikut Yesus/Conggregatio Imitationis Jesu (CIJ).

Adakah Gereja lokal meneladani kesaksian hidup Yesus dan para inisiator itu? Seringkali, para gembala lebih berkutat dengan administrasi paroki dan prosedur-prosedur pastoral, menuntut umat untuk membayar ini dan itu, mengajak umat untuk menghadiri ekaristi, dan berjuang membangun gereja megah. Pernahkah mereka mengunjungi domba-dombanya yang mendekam di Damian? Atau menyisihkan satu sen untuk kesejahteraan “batu-batu hidup” penderita kusta, atau domba-domba sakit pada umumnya?

Kehidupan penderita kusta senantiasa diusik dari pelbagai penjuru mata angin: fisis, ekonomi, sosial (juga budaya), politik dan agama. Mereka pun terus menjerit dalam diam: memohon kepedulian sesama, meminta tanggung jawab sosial negara, dan menyentuh hati pemimpin agama untuk lebih merangkai “batu-batu hidup” (membangun Gereja umat Allah, tidak hanya membangun gedung gereja).*** (Flores Pos, Kamis, 11 Desember 2014)

Baca terkait:Rumah Sakit Kusta Damian Butuh Perhatian Pemerintah

Advertisements

About Avent Saur

Lahir 27 Januari 1982 di kampung Weto, Kecamatan Welak, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Bulan kelahiran ini masih diragukan, karena Mama saya bilang saya dilahirkan pada bulan usai panen jagung dan padi. Yah... sekitar bulan Juli. Di akte kelahiran dan surat baptis (agama Katolik), 27 Juli 1982.Studi filsafat dan teologi pada Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero, Maumere, Flores, NTT. Pernah menjadi wartawan pada majalah bulanan KUNANG-KUNANG (2008-2009). Sekarang, tinggal di Ende, "bantu-bantu" di harian umum Flores Pos. Blog ini dibuat, sejak 20 April 2013.
This entry was posted in BERITA and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s