Kadis Pariwisata Didesak Serahkan Uang Proyek Fiktif

  • Sejumlah Rp70 Juta

Oleh Max Gantung

Lewoleba, Flores Pos – Wakil Ketua II DPRD Lembata Paulus Dolu Makarius mendesak Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Lembata Longginus Lega untuk menyerahkan uang proyek fiktif sebesar Rp70 juta kepada badan anggaran DPRD Lembata, dan selanjutnya dana tersebut akan diserahkan kepada Dinas Pariwisata Provinsi NTT.

Hal ini disampaikan Paulus Dolu dalam rapat badan anggaran dengan tim anggaran pemerintah yang membahas perubahan APBD 2014. Rapat yang dimpimpin Ketua DPRD Lembata Ferdinandus Koda, Rabu (10/12) dihadiri Ketua Tim Anggaran Pemerintah Daerah Petrus Toda Atawolo dan anggota tim anggaran pemerintah daerah.

Dalam rapat tersebut, anggota banggar Simon Krova mengangkat masalah temuan komisi III terkait dua proyek fiktif di Dinas Kebudayaan dan Pariwisata. Badan Anggaran DPRD Lembata meminta Sekda yang juga Ketua Tim Anggaran Pemerintah Daerah, Petrus Toda Atawolo untuk menghadirkan Kadis Longginus Lega guna menjelaskan proyek fiktif tersebut.

Bangun WC dan Kampung Adat

Longginus Lega datang dan menjelaskan dua proyek fiktif tersebut di hadapan banggar dan tim anggaran pemerintah daerah. Longginus menjelaskan, ada dua proyek bantuan lepas dari Dinas Pariwisata Provinsi NTT tahun 2013 yakni pembuatan WC di pelabuhan Jeti untuk mendukung kegiatan sail sebesar Rp25 juta dan penguatan kampung adat Lewohala di Ile Ape Timur sebesar Rp45 juta.

Ia menjelaskan, pada akhir tahun 2013, pihak Dinas Parwisata Provinsi NTT datang ke Lembata dan menyerahkan uang Rp25 juta. Saat staf dari Dinas Pariwisata Provinsi datang dan menyerahkan uang, mereka minta pertanggungjawaban dana tersebut. Waktu itu, kata Longginus, dirinya sempat menyampaikan bahwa tidak mungkin langsung dibuatkan pertanggungjawaban.

Lebih lanjut, Longginus mengatakan, stafnya langsung mengambil bukti pembangunan WC di pelabuhan Jeti yang dibiayai APBD II sebesar Rp25 juta. Hal yang sama juga di Lewohala, stafnya dan petugas dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi ke kampung adat Lewohala. Kebetulan saat itu, ada masyarakat yang sedang membangun rumah adat, kemudian mereka foto untuk menjadi pertanggungjawaban mereka. Ia mengaku bawah dana untuk penguatan kampung adat Lewohala sebesar Rp45 juta diserahkan langsung oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata. Total dana seluruhnya, Rp70 juta.

Tentang dana Rp25 juta, rencananya, mau digunakan untuk membangun gapura di pelabuhan Jeti dan dana Rp45 juta dipakai untuk membuat gapura di kampung adat Lewohala.

Serahkan ke Banggar

Anggota DPRD Lembata Simon Krova mengatakan, dalam pembahasan di Komisi III, ada anggota komisi yang menanyakan kepada bendahara soal dana tersebut. Dan bendahara mengaku tidak tahu soal dana Rp70 juta tersebut. Dana tersebut tidak ada dalam rekening dinas ataupun kas bendahara.

Wakil Ketua DPRD Lembata Paulus Dollu meminta Kepala Dinas Longginus Lega untuk menyerahkan uang Rp70 juta tersebut di hadapan banggar, dan dana tersebut nanti akan dibawa ke provinsi saat asistensi. Nanti sesampai di Kupang, kita panggil orang yang menyerahkan uang tersebut ke Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Lembata dan kita membuat konfrensi pers terkait proyek fiktif ini. “Kita tidak boleh tolerir dengan perilaku seperti ini,” tegasnya.

Menanggapi pernyataan keras dari Paulus Dolu dan demi menjaga wibawa Longginus Lega, sejumlah anggota badan anggaran meminta agar Kadis Kebudayaan dan Pariwisata perlu membicarakan hal itu dengan Komisi III.

Wakil Ketua I DPRD Lembata Yohanes De Rosari mengatakan, apa yang dilakukan oleh Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata adalah pelanggaran dan hal itu menjerat dirinya sendiri. “Orang korupsi Rp20 juta saja diproses secara hukum , apalagi 70 juta,” ujarnya.

Rosari menyarankan, kalau uang itu belum digunakan, kadis melakukan koordinasi dengan Komisi III apakah dana tersebut dikembalikan ke provinsi atau digunakan untuk kepentingan masyarakat Lembata.

Penipuan Berjenjang

Anggota Badan Anggaran Lorens Karangora mengatakan, apa yang dilakukan oleh Dinas Pariwisata Provinsi dan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Lembata menunjukkan bahwa ada penipuan berjenjang mulai dari provinisi hingga kabupaten.

Wakil Ketua DPRD Lembata Yohanes De Rosari melihat ini sebagai sebuah penipuan yang dilakukan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi dan Kabupaten. Tidak hanya itu, Kepala Dinas Longginus Lega menyalagunakan kewenangannya untuk melakukan sebuah tindakan yang merugikan keuangan negara.

Terlalu Berani

Sekda Petrus Toda Atawolo, selaku Ketua Tim Anggaran Pemerintah Daerah
mengatakan, apa yang dilakukan oleh Kadis Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Lembata Longginus Lega terlalu berani, yakni menandatangan berita acara dan menerima uang serta menggunakan bukti proyek APBD II untuk dijadikan bukti pertanggungjawaban proyek APBD I.

Anggota Banggar Simon Krova juga melihat Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Lembata terlalu berani melakukan seperti itu. “Mengapa Dinas Pariwisata Kabupaten Lembata sangat berani menggunakan bukti proyek APBD II untuk pertanggungjawaban Proyek APBD Provinsi?” tanyanya.

Sementara Anggota Banggar Palmasius Gokok menanyakan di mana tempat simpan uang Rp70 juta tersebut. Pertanyaan Gokok ini tidak ditanggapi. Dalam rapat tersebut juga tidak jelas apakah selama satu tahun ini dana tersebut masih ada atau sudah dipakai. Kalau masih ada, maka pertanyaannya, simpan di rekening milik siapa, sebab bendahara Dinas Kebudayaan dan Pariwisata tidak tahu ada dana Rp70 juta tersebut.

Proses Hukum

Berbeda dengan anggota badan anggaran lainnya, Lorens Karangora. Lorens mengatakan bahwa persoalan ini merupakan penipuan atau fiktif yang merugikan rakyat. Karena itu, tegas Lorens, kita tidak bisa membiarkan perilaku seperti ini. Masalah ini harus diselesaikan dengan mekanisme atau aturan hukum yang berlaku.

Anggota Banggar Frans Limawai tidak sependapat dengan anggota banggar lainnya jika masalah ini diselesaikan dengan berkoordinasi dengan Komisi III atau berkonsultasi dengan pihak provinsi. Menurutnya, ada kemungkinan bahwa ada di antara anggota banggar atau masyarakat lain yang melaporkan kasus ini ke Jaksa atau polisi.

Dalam rapat tersebut, disepakat, perihak terkait akan melakukan konsultasi dengan Pemerintah Provinsi soal dana tersebut.*** (Kamis, 11 Desember 2013)

Baca terkait: Usulan Dinas Pariwisata Tidak Masuk Akal

Advertisements

About Avent Saur

Lahir 27 Januari 1982 di kampung Weto, Kecamatan Welak, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Bulan kelahiran ini masih diragukan, karena Mama saya bilang saya dilahirkan pada bulan usai panen jagung dan padi. Yah... sekitar bulan Juli. Di akte kelahiran dan surat baptis (agama Katolik), 27 Juli 1982.Studi filsafat dan teologi pada Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero, Maumere, Flores, NTT. Pernah menjadi wartawan pada majalah bulanan KUNANG-KUNANG (2008-2009). Sekarang, tinggal di Ende, "bantu-bantu" di harian umum Flores Pos. Blog ini dibuat, sejak 20 April 2013.
This entry was posted in BERITA and tagged , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s