Rumah Sakit Kusta Damian Butuh Perhatian Pemerintah

rumah sakit kusta damian lewoleba

Suster Maria Vitalis CIJ (baju putih paling kanan) dan beberapa rekan suster berbaur bersama para penderita kusta di salah satu bangsal rumah sakit.

Oleh Maxi Gantung

Lewoleba, Flores Pos Rumah Sakit Santo Damian atau lebih dikenal Rumah Sakit Kusta (Lepra) yang selama ini selain melayani pasien umum juga melayan dan menampung penderita kusta/lepra membutuhkan perhatian pemerintah.

Hal ini disampaikan Wakil Ketua DPRD Lembata Paulus Dolu Makarius dalam kunjungan kerja ke RS kusta/lepra, Senin (8/12). Dalam kunjungan ini Paulus Dolu didampingi Sekretaris Dispenda dan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah, Hendrikus Kua dan salah satu Kabid, Kristo Kares.

Dalam kunjungan tersebut Paulus Dolu diterima Direktur RS Lepra, Dokter Suster Ludgardis CIJ dan Suster Regina CIJ. Dalam pertemuan dikantor RS Lepra, Paulus Dolu mengatakan, RS Lepra selama ini telah berbuat banyak untuk masyarakat Lembata bahkan luar Lembata. Para penderita lepra tidak hanya berasal dari Lembata tapi juga luar Lembata.

Paulus Dolu mengatakan, RS ini perlu mendapat perhatian dan bantuan dari pemerintah. Karena itu, lanjutnya, DPRD akan memperjuangkan agar setiap tahun RS ini mendapat bantuan hibah berupa beras dan barang lainnya serta hibah dana untuk bantu RS Lepra yang selama ini memperhatikan dan menampung serta merawat penderita lepra atau kusta.

Sementara itu, Hendrikus Kua mengatakan, bantuan hibah bisa diberikan kepada perorangan atau lembaga berupa barang dan uang, sebagaimana diamanatkan dalam Permendagri Nomor 12 Tahun 2012.

Direktur RS Lepra Santo Damian mengatakan, penderita kusta/lepra yang datang untuk diperiksakan atau berobat di rumah sakit lepra setiap tahun terus meningkat. Ada penderita kusta/lepra yang hanya rawat jalan, tetapi ada juga rawat inap dan tidak mau kembali ke rumah atau ke kampung halamannya karena tidak diterima lagi oleh keluarganya.

Suster Lud mengatakan, “ada pasien Lepra yang sudah sembuh dan kembali ke rumah namun balik kembali ke RS dan mau tinggal di RS, karena tidak kuat untuk menanggung tekanan psikologis. Mereka dikucilkan atau tidak mau diterima lagi oleh keluarga ketika diketahui menderita lepra.”

Di RS Damian, katanya, para penderita kusta/lepra hidup membaur dengan suster dan karyawan lainnya. Dengan hidup membaur, proses penyembuhannya bisa dipercepat.

“Kita hidup membaur dengan mereka, dan hal itu bisa mempercepat proses penyembuhan bagi pasien kusta/lepra. Ada pasien yang sudah sembuh total, namun tidak mau balik ke rumah mereka, dan betah tinggal di RS Damian.”

Pasien kusta/lepra yang tinggal di RS Damian, ada yang sudah mencapai tiga puluhan tahun. Ada keluarga yang tidak datang menjenguk mereka. Karena jumlah pasien kusta/lepra yang rawat jalan cukup banyak, maka untuk memudahkan mereka, pihak RS Lepra memberikan rujukan agar mereka bisa berobat di puskesmas terdekat. Namun pasien tidak mau dengan alasan kalau mereka rawat di puskesmas akan diketahui oleh banyak orang, sehingga mereka tetap memilih untuk berobat di RS Damian.

“Kalau ketahuan bahwa mereka sakit kusta/lepra, mereka akan dikucilkan, dan ini menjadi beban bagi mereka sendiri.”

Kekurangan Alkes

Suster Lud mengatakan, selama ini RS Damian Lewoleba mengalami kekuarangan alat kesehatan (alkes) seperti kain kasa, tempat tidur bagi pasien kusta/lepra dan pasien umumnya serta alkes lainnya.

Karena itu, melalui wakil rakyat Paulus Dolu Makarius, Suster Lud meminta pemerintah Kabupaten Lembata untuk memberikan bantuan hibah berupa alkes kepada RS Damian. Paulus Dolu dan Hendrikus Kua mengatakan, untuk hibah alkes, pihak RS Damian mesti mengajukan proposal kepada pemerintah Kabupaten Lembata dalam hal ini Dinas Kesehatan Kabupaten Lembata. Paul berjanji, DPRD akan berjuang berkaitan dengan bantuan hibah berupa beras, uang dan alkes RS Lepra dalam APBD 2015.*** (Flores Pos, Rabu, 10 Desember 2014)

Baca ulasan: Jeritan Penderita Kusta

About Avent Saur

Lahir 27 Januari 1982 di kampung Weto, Kecamatan Welak, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Bulan kelahiran ini masih diragukan, karena Mama saya bilang saya dilahirkan pada bulan usai panen jagung dan padi. Yah... sekitar bulan Juli. Di akte kelahiran dan surat baptis (agama Katolik), 27 Juli 1982.Studi filsafat dan teologi pada Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero, Maumere, Flores, NTT. Pernah menjadi wartawan pada majalah bulanan KUNANG-KUNANG (2008-2009). Sekarang, tinggal di Ende, "bantu-bantu" di harian umum Flores Pos. Blog ini dibuat, sejak 20 April 2013.
This entry was posted in BERITA and tagged , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s