Krisis Iman

  • Konteks Adven dan Natal

Oleh Avent Saur

???????????????????????????????Dalam terang adven dan natal kristiani, Pendeta Eben Nuban Timo pernah menyajikan refleksi segar melalui coretannya bertajuk “Natal yang Diduniawikan” dalam salah satu publikasi beberapa tahun lalu. Sajian segar itu berbentuk narasi dramatis perihal Natal Bersama, berawal dari Natal Oikumene di arena elite sekaliber gelanggang olah raga (GOR), berujung pada Ibadah Natal Bersama Yesus di sebuah gubuk orang miskin-sederhana. Acara di GOR natal itu dihadiri oleh ribuan orang, sedangkan di gubuk dihadiri oleh Yesus bersama sepuluh tuan gubuk.

Agaknya, kita mungkin cukup sulit mempercayai bahwa narasi itu membahasakan peristiwa faktual. Rasa “sulit percaya” ini bisa diikuti dengan pertanyaan: mana mungkin Pendeta Eben bertemu Yesus dalam acara di GOR itu, berdialog, lalu Yesus menghilang, dan apalagi di akhir kisah, Pendeta Eben menemui Yesus di sebuah gubuk orang miskin-sederhana?

Perasaan dan pertanyaan ini beralasan. Mengapa? Dari kaca mata psiko-spiritual, refleksi naratif itu adalah sebuah hasil kontemplasi atau meditasi mendalam. Dari kaca mata dunia sastra, refleksi naratif itu bersumber dari olahan kreatif-imajinatif atas realitas. Dan dari kaca mata dunia mimpi, ramalan dan idealisme spiritual, refleksi naratif itu berasal dari sebuah khayalan bermakna.

Namun “pikir demi pikir”, entah dari mana pun asalnya, ia (refleksi naratif Pendeta Eben) tetap terasa segar. Sekurang-kurangnya untuk saya. Ia memperlihatkan sebuah “celah” di tengah hingar-bingar natal bersama oikumene. Yah, sebuah celah yang sekaligus menjadi “cela” juga. Betapa tidak, natal bersama entah oikumene atau apa pun namanya, bukan lagi menjadi momentum ibadat yang melibatkan seluruh jemaat, melainkan menjadi arena dan momen gagah-gagahan dan unjuk kebolehan seorang MC (Master of Ceremony), artis-artis ibu kota, pejabat-pejabat dengan kata sambutan indah dan retorika menakjubkan, atau penari-penari dengan lenggokan organ-organ tubuhnya. Natal bersama, semestinya seperti natal di gubuk itu. Itu yang disukai Yesus (dalam kontemplasi Pendeta Eben), natal (makan) bersama orang miskin. Sebuah natal bersama yang sejatinya adalah perwujudan dari pesan-pesan di Hari Raya Natal itu sendiri.

Apalah gunanya kalau natal bersama dijadikan sebagai arena gagah-gagahan atau tunjuk kebolehan? Dalam citra natal yang demikian, seturut Pendeta Eben, tidak ada tempat bagi penguatan komitmen iman. Kalau komitmen iman tidak diperkuat, maka perwujudan iman juga tidak disuguhi motiviasi konstruktif. Itu berarti apa yang dinamakan dengan krisis iman sedang dipertontonkan, yang dalam konteks acara natal bersama, krisis itu terjadi secara massal.

***

Berbicara tentang krisis iman selalu kompleks. Krisis itu tampak berlapis-lapis dan berbelit-belit laik benang kusut yang sulit terurai. Namun kita tentu tak mau bertahan dalam kekusutan iman demi memperkuat ketahanan agama (Kristen) itu sendiri. Sekurang-kurangnya, beberapa item bisa diuraikan.

Pertama, natal bersama adalah sebuah seremoni religius sehingga ketika menghadiri natal bersama, hadirin pasti membawa serta imannya. Tapi oleh Pendeta Eben, seperti yang telah dibilang tadi, masih terdapat celah dan cela, yang saya sebut sebagai krisis iman secara massal. Maka kita bisa bayangkan, bahwa dalam seremoni bernuansa religius saja masih terdapat celah dan cela, apalagi seremoni bernuansa sekular. Tanpa menyebut seremoni apa saja yang (murni) bernuansa sekular, kita boleh mengatakan bahwa secara kuantitatif celah dan celanya banyak, dan celah atau cela itu kuat secara kualitatif.

Kedua, dalam pelbagai seremoni keagamaan khususnya kalangan Katolik, keterlibatan dan partisipasi para pejabat publik diberi ruang cukup luas. Yang kita harapkan, para pejabat publik menjalankan roda pelayanan publiknya dalam terang imannya. Tapi bagai jauh panggang dari api, demikianlah harapan itu jauh dari aktualitasnya. Aneka gaya kepincangan sekian sering dipertontonkan tanpa urat malu, bahkan agama (iman) dijual demi kepentingan politik momental (politisasi agama). Etika politik berbasis agama kurang diingat, dan karena itu, dikesampingkan.

Ketiga, di dunia Barat, agama, dan dengan itu juga iman, telah mengalami kebangkrutan (krisis). Tapi jangan menyangka bahwa kebangkrutan itu cuma terjadi di Barat. Realitas agama dan iman kita di wilayah nusa tenggara juga telah lama mengalami persoalan serupa.

Hingga kini, dengan mudah, kita menemukan orang beragama yang tidak menampilkan identitas keagamaannya. Entah itu dalam kesaksian hidup dan cara berpikir di tengah interaksi sosial, maupun keterlibatan di lingkungan internal agama itu sendiri. Banyak orang menyatakan diri beragama ketika dituntut untuk menerangkan secara administratif identitas religiusnya, tapi dengan pelbagai alasan, mereka merasa “berat dan malas” mewujudkan nilai-nilai agama yang dianutnya.

Keempat, kemalasan dalam mewujudkan nilai-nilai keagamaan berujung pada munculnya pelbagai konflik sosial horisontal. Entah itu perang saudara atau perang tanding lantaran perebutan batas kepemilikan lahan, atau pun perkelahian dan saling membunuh lantaran ketersinggungan semata. Mereka yang menciptakan konflik bukan tanpa pengetahuan akan agama yang dianutnya. Dengan itu, adalah wajar, Dirjen Bimas Katolik Anton Semara Duran ketika menghadiri upacara pemberkatan salah satu gereja di Adonara pada November 2013 lalu, mengatakan “kalau masih Katolik, tinggalkan perang”. Identitas religius kita selalu digugat kapan saja manakala identitas itu dilalaikan.

***

Empat hal ini cuma menguraikan beberapa helai benang (iman) yang kusut itu. Kusutnya persoalan iman, dalam konteks internasional khususnya Katolik, telah menimbulkan keprihatinan mendalam dalam diri Paus Benediktus XVI untuk mengumandangkan Tahun Iman, mulai 11 Oktober 2012 sampai 24 November 2013 lalu. Bagi Paus, iman akan Kristus itu mesti kuat di hadapan aneka ketimpangan dalam pelbagai ranah kehidupan manusia. Iman yang kuat akan membuat kita menang di hadapan ketimpangan itu. Paus berharap kita mesti meningkatkan “kesaksian hidup” kekristenan (kekatolikan) sebagai sumbangan kita dalam mengentas pelbagai ketimpangan tersebut.

Dalam terang tahun iman dan dalam terang adventus dan natal yang ada di depan mata, setidaknya harapan mulia ini bisa kita penuhi. Lalu krisis iman, sampai kapan?

Refleksi naratif Pendeta Eben, tidak lagi sulit dipercayai, tapi sebaliknya dengan mudah diakui bahwa itu memang benar-benar membahasakan fakta. Adventus dan Natal yang kita rayakan setiap tahun, dengan demikian, hendaknya bukan lagi menjadi sebatas seremoni rutin, melainkan paling tidak, dari padanya, kita menimba (satu atau banyak) kekuatan ilahi yang membuat kita lebih percaya diri dalam melakukan kebaikan sebanyak-banyaknya demi natal eskatologis di mana Kristus akan datang untuk kedua kalinya.*** (Flores Pos, Senin, 15 Desember 2014)

Advertisements

About Avent Saur

Lahir 27 Januari 1982 di kampung Weto, Kecamatan Welak, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Bulan kelahiran ini masih diragukan, karena Mama saya bilang saya dilahirkan pada bulan usai panen jagung dan padi. Yah... sekitar bulan Juli. Di akte kelahiran dan surat baptis (agama Katolik), 27 Juli 1982.Studi filsafat dan teologi pada Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero, Maumere, Flores, NTT. Pernah menjadi wartawan pada majalah bulanan KUNANG-KUNANG (2008-2009). Sekarang, tinggal di Ende, "bantu-bantu" di harian umum Flores Pos. Blog ini dibuat, sejak 20 April 2013.
This entry was posted in OPINI and tagged , , , , , , , . Bookmark the permalink.

2 Responses to Krisis Iman

  1. Adriano says:

    Opini yg indah pun tanpa celah! Kren

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s