Wakil Rakyat Soroti Rakyat

  • Kolom Bentara Flores Pos

Oleh Avent Saur

Kesenjangan sosial

Kesenjangan sosial dan ekonomi semakin melebar dan meluas. Tampak gedung pencakar langit orang kaya dan gubuk orang miskin.

Kesenjangan sosial, itulah kenyataan yang selalu kita temukan dalam kehidupan harian. Kenyataan ini melekat dalam pelbagai ranah kehidupan.

Pada ranah ekonomi, para pejabat negara, misalnya, menumpangi mobil negara, sementara rakyat berdesak-desakan menumpangi bis kayu. Orang kaya menumpangi mobil pribadi ke mana saja ia kehendaki, sementara orang miskin menunggu mobil umum berjam-jam tanpa kepastian. Pejabat negara dan orang kaya membeli sebanyak mungkin tanah dan membangun aneka bentuk rumah elite, sementara rakyat miskin memejamkan mata di bawah kolong jembatan atau yang lain berkutat membangun gubuk di atas tanah milik tetangga.

Demikian juga pada ranah pendidikan. Orang yang beruang mencari ilmu untuk memperoleh pelbagai gelar akademik dan menjelajahi panti-panti pendidikan di pelbagai negara, sementara orang yang tidak berpunya merasa nyaman dengan map merah berisi ijazah sekolah dasar.

Pada ranah politik, kaum elite serius berdebat dan berdiskusi, pandai berpidato dan berkampanye, sementara rakyat bawah menyisihkan sedikit waktu untuk pergi ke tempat pemungutan suara. Selebihnya, rakyat membiarkan politik dijalankan oleh tangan-tangan politisi. Cukup nama presiden yang diingat, nama-nama lain tidak perlu dikenal.

Dalam pelbagai ranah kehidupan, kita bisa membuat litani sebanyak mungkin realitas kesenjangan itu. Apalagi kalau kita mencari sebab-sebab kesenjangan, pasti jumlahnya tak terhitung, dan uraian kritis apa pun tidak akan selesai.

Yang pasti, kesenjangan adalah sebuah persoalan yang mesti diatasi. Tetapi mengatasi kesenjangan tidak berarti bahwa kita ingin membangun negara tanpa kelas sosial, di mana semua anggota komunitas politik adalah sama dalam pelbagai aspek, sebagaimana pernah digagaskan oleh Karl Marx (ideolog dan filsuf Jerman, 1818-1883). Kita ingin kesenjangan itu tidak diperlebar, sebaliknya dipersempit. Hal ini hanya mungkin dicapai jika negara tidak hanya mengaktualisasi keadilan sosial dan solidaritas formal-legal, tapi juga keadilan sosial substansial dan solidaritas spontan. Demikian juga masyarakat pada umumnya, selain mendesak negara untuk mengaktualisasi tugasnya, kita juga didesak oleh kebutuhan sesama dan hati nurani kita sendiri (moral sosial) untuk mengaktualisasikan keadilan sosial-substansial dan solidaritas spontan tersebut.

Sampai pada titik ini, kita pun tahu bahwa sebetulnya kesenjangan terjadi karena dua hal utama: negara tidak menjalankan tugas dengan baik, bahkan mencaplok harta rakyat (korupsi) dan masyarakat umum kurang peduli terhadap kebutuhan sesama.

Johny G Plate

Johny G. Plate, Anggota DPR RI Fraksi Nasdem

Tapi anehnya, ketika Johny G. Plate (anggota DPR RI) melakukan reses ke Manggarai Raya, ia mengajak masyarakat untuk lebih berpartisipasi aktif dalam pelbagai upaya pembangunan supaya rakyat hidup sejahtera. Kalau rakyat sejahtera, kesenjangan pun sedikit demi sedikit bisa diatasi: tidak melebar, tidak meluas.

Rasanya, agak risih mendengar atau membaca ajakan dan nasihat tersebut. Sebagai sebuah ajakan dan nasihat, itu benar adanya. Tapi apakah masalah kesenjangan sosial (ketidaksejahteraan) disebabkan oleh ketidakaktifan rakyat dalam pembangunan?

Soalnya, Johny Plate sebagai wakil rakyat hanya bertandang di kota, belum (bahkan mungkin tidak) ke kampung-kampung. Karena fasilitas jalan dan air kurang memadai? Di kampung-kampung, orang bekerja secara sungguh, tapi hasil kerja mereka kurang dihargai pemerintah. Harga BBM naik, misalnya, tapi harga kemiri, kelapa, jambu mete, jagung justru turun. Jalan-jalan menuju kampung diaspali dan dirabati, tapi kualitasnya rendah karena kaum kelas menengah dan kelas atas bermental korup. Rakyat jadi sasaran, rakyat adalah korban. Lalu apakah ajakan partisipasi aktif tadi masih benar dalam konteks ini?

Rakyat terus disoroti, diajak dan dinasihati (karena dipandang salah dan serba kurang) oleh elite politik. Dalam hati, rakyat tetap tahu dan sadar bahwa penderitaan rakyat disebabkan oleh penyorot, penasihat dan pengajak. Rakyat lebih membutuhkan tanggung jawab serius negara dan solidaritas sosial.*** (Flores Pos, Selasa, 16 Desember 2014)

About Avent Saur

Lahir 27 Januari 1982 di kampung Weto, Kecamatan Welak, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Bulan kelahiran ini masih diragukan, karena Mama saya bilang saya dilahirkan pada bulan usai panen jagung dan padi. Yah... sekitar bulan Juli. Di akte kelahiran dan surat baptis (agama Katolik), 27 Juli 1982.Studi filsafat dan teologi pada Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero, Maumere, Flores, NTT. Pernah menjadi wartawan pada majalah bulanan KUNANG-KUNANG (2008-2009). Sekarang, tinggal di Ende, "bantu-bantu" di harian umum Flores Pos. Blog ini dibuat, sejak 20 April 2013.
This entry was posted in OPINI and tagged , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s