Menyoroti Dinas Pariwisata Lembata

Oleh Yoseph Molan Tapun

Menulis

Yoseph Molan Tapun, Mahasiswa S2 The University of Melbourne, Australia

Masyarakat Lembata kembali dibuat berkerut kening dengan berbagai gebrakan nyeleneh para birokrat. Sementara perselisihan bupati dan DPRD sudah hampir menemui titik jenuh penalaran publik, muncul lagi berita baru – yang lagi-lagi buruk – tentang kegagalan kampanye pembangunan di kabupaten pulau ini. Hal ini berkaitan dengan usulan perubahan APBD Dinas Pariwisata Kabupaten Lembata 2014 yang disinyalir tidak masuk akal dan penuh dengan kebohongan.

Wartawan Maxi Gantung, dalam ulasannya di Flores Pos, 9 Desember 2014 mengetengahkan berita tentang alotnya pembahasan usulan penambahan anggaran dan pergeseran program dan kegiatan Dinas Pariwisata oleh Komisi III DPRD Lembata.

Penambahan item kegiatan dan biaya untuk beberapa kegiatan dalam usulan ini dinilai beberapa anggota dewan sebagai kebohongan yang telanjang. Persoalan utamanya, usulan ini dilakukan justru di saat-saat akhir tutup tahun anggaran. Adalah mustahil, dalam sisa beberapa hari ini, semua item kegiatan dan belanja administratif tambahan – sebagaimana diusulkan – akan bisa dilaksanakan. Bagaimana mungkin, misalnya, item kegiatan kampanye sadar wisata di sekolah-sekolah diusulkan untuk dilaksanakan di akhir tahun sementara sekolah-sekolah pada liburan Natal dan Tahun Baru?

Kecenderungan

Kasus ini bukan sebuah fenomena baru dalam birokrasi di Indonesia, termasuk Lembata. Ini sebuah kecenderungan. Hampir lumrah, kita temukan kalang-kabutnya dinas-dinas di berbagai tingkatan pemerintahan mengadakan kegiatan-kegiatan di akhir tahun yang jumlahnya tidak sedikit. Pada saat-saat seperti ini, kita melihat kesibukan yang luar biasa dari birokrasi kita. ‘Bekerja’ dalam artian sebenarnya sedikit terefleksikan di waktu-waktu ini, walaupun tentu saja sedikit ironis.

Salah satu alasan utama membludaknya kegiatan di akhir tahun adalah untuk menyelesaikan budget sebagaimana penganggarannya. Kegiatan akhir tahun adalah kesempatan untuk menyelaraskan perencanaan dan implementasi. Masih ada pemahaman yang keliru bahwa keberhasilan pembangunan ditentukan oleh besarnya penyerapan anggaran. Logika ini tentu berbahaya. Dengan orientasi ini, orang dengan mudah menjustifikasi apa pun kegiatan dan program, sepanjang anggarannya dapat terserap. Daripada budget-nya tidak habis dan dikembalikan, sebaiknya dihabiskan.

Alur pikiran ini kerap kali menciptakan ruang-ruang korupsi dalam birokrasi. Dihadapkan pada keterdesakan waktu menghabiskan anggaran, dinas-dinas mulai berimajinasi tentang pembangunan dan menelurkan program-program dadakan yang aneh. Imajinasi dan time pressure tentu tidak menyediakan tempat untuk perencanaan yang matang dan strategis.

Usulan penambahan budget dan program dari Dinas Pariwisata Kabupaten Lembata dapat dibaca dalam cara berpikir ini. Kelucuan usulan penambahan item program – yang terlihat naïf dan melecehkan penalaran publik – dapat merupakan refleksi kecenderungan birokrasi kita untuk sekadar menyeimbangkan neraca anggarannya untuk bisa dicap ‘berhasil’.

Perhatian yang mendalam tentu saja perlu diarahkan pada kemungkinan terjadinya praktik korupsi. Program-program dadakan dan berjubel di akhir tahun seperti ini dapat saja sengaja dirancang untuk mengaburkan monitoring dan pengawasan. DPRD Lembata – yang kelihatan sungguh kritis membahas usulan ini – mesti terus kritis menjalankan fungsi kontrolnya.

Kritis dalam menjalankan fungsi anggaran mesti diikuti secara konsisten pula dalam fungsi pengawasan, yang seringkali disinyalir paling lemah implementasinya oleh dewan yang terhormat. DPRD Lembata perlu awas dan tidak dibodohi oleh praktik-praktik seperti ini.

Manajemen Gagal

Fenomena usulan perubahan APBD di akhir tahun sebenarnya juga dapat dibaca sebagai kegagalan manajemen dalam pemerintahan. Yang perlu disoroti pertama-tama: perencanaannya. Dalam contoh kasus di atas, Dinas Pariwisata Kabupaten Lembata gagal merencanakan programnya.

Benar bahwa usulan perubahan APBD terkadang penting untuk mengakomodasi inisiatif-inisiatif yang baik dalam pembangunan. Namun ketika dia menjadi tujuan “di dalam dirinya”, maka hal ini jelas menggambarkan kegagalan perencanaan strategis pembangunan. Mestinya, setiap program sudah dipikirkan dengan matang di awal tahun anggaran termasuk penganggarannya.

Adanya kecurigaan anggota dewan bahwa ada kemungkinan usulan penambahan dana ini untuk menutupi pengeluaran yang sudah dilakukan dapat menjadi sebuah persoalan serius baru. Hal ini perlu ditelusuri karena kalau demikian, praktik ini mengangkangi keberadaan legislatif dalam menjalankan fungsi anggarannya.

Dana-dana pembangunan yang digunakan tanpa persetujuan dan pengesahan legislatif dapat merupakan sebuah pelanggaran serius. Dan kalau ini bukan hal baru dalam praktik birokrasi kita di Lembata, maka ini tentu bukan kebiasaan yang benar. Yang kita tunggu tentu saja ketegasan legislatif akan mengembalikan perannya yang sedang disepelekan.

Efektivitas dan Efisiensi

Kepemimpinan nasional yang baru (Jokowi-JK) sangat menekankan pentingnya birokrasi yang efektif dan efisien. Beberapa gebrakan baru seperti pemotongan anggaran untuk belanja aparat dan penambahan anggaran untuk belanja publik adalah salah satu contohnya. Kasus di atas tentu mengabaikan spirit ini.

Kita tentu berharap bahwa pemerintahan, dalam berbagai tingkatannya, termasuk Lembata berada dalam kereta perubahan yang sama. Reformasi birokrasi yang menekankan efektivitas dan efisiensi mesti diimplementasikan dengan sungguh. Sudah saatnya program-program pembangunan direncanakan dengan matang dan memberikan porsi anggaran yang lebih besar kepada belanja publik.

Dengan demikian, usulan aneh Dinas Pariwisata Kabupaten Lembata ini perlu juga dimaknai sebagai kesempatan untuk belajar memperbaiki pola kerja birokrasi kita dalam perencanaan dan implementasinya.*** (Flores Pos, Jumat, 19 Desember 2014)

Advertisements

About Avent Saur

Lahir 27 Januari 1982 di kampung Weto, Kecamatan Welak, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Bulan kelahiran ini masih diragukan, karena Mama saya bilang saya dilahirkan pada bulan usai panen jagung dan padi. Yah... sekitar bulan Juli. Di akte kelahiran dan surat baptis (agama Katolik), 27 Juli 1982.Studi filsafat dan teologi pada Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero, Maumere, Flores, NTT. Pernah menjadi wartawan pada majalah bulanan KUNANG-KUNANG (2008-2009). Sekarang, tinggal di Ende, "bantu-bantu" di harian umum Flores Pos. Blog ini dibuat, sejak 20 April 2013.
This entry was posted in OPINI and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s