Natal di Kekeruhan Politik

  • Mimbar Minggu
  • Lukas 1: 26-38

Oleh Romo Silvi M. Mongko, Pr

Menulis

Romo Silvi M. Mongko Pr, Rohaniwan Keuskupan Ruteng, tinggal di Seminari Kisol

Penginjil Lukas berbicara tentang seorang perempuan istimewa yang dipanggil untuk menjadi Bunda Penebus. Perempuan itu ‘istimewa’ karena ia masih tergolong anak dara yang sudah dibicarakan oleh nabi-nabi Perjanjian Lama, seorang perawan yang belum tersentuh oleh hubungan khusus dengan seorang lelaki.

Tampak di sini bahwa karya agung Allah itu sudah direncanakan jauh-jauh sebelumnya. Dari pihak lain, peristiwa itu dimungkinkan oleh keperawanan Maria. Tidak terlalu penting di sini berdebat soal keperawanan Maria sebelum, selama dan sesudah melahirkan Yesus. Bagi saya, keperawanan Maria hendaknya dilihat dalam konteks ketulusan dan kemurnian hati Maria untuk menerima rencana Allah.

Jelas di sini bahwa rencana keselamatan Allah atas manusia terjadi jika manusia memiliki ‘keperawanan’ hati seorang murid. Ini menjadi pesan penting dari Adven dan Natal supaya setiap orang memiliki hati yang pantas untuk menerima kedatangan Tuhan. Keperawanan merangkum hati yang tulus dan jujur, hati yang tak berbengkok-bengkok dan hati yang merendah. Ini sejalan dengan pesan para nabi: “luruskanlah jalan bagi Tuhan!” Itu tak lain berarti luruskanlah hati dan laku kita yang berbengkok-bengkok. Itulah sikap yang pantas untuk menyonsong kelahiran Tuhan.

Maka tentu tidak terlalu penting dengan persiapan natal yang melulu lahiriah. Banyak orang Kristiani lupa apa yang jauh lebih penting dipersiapkan untuk menyambut Natal. Banyak orang terjebak dalam persiapan-persiapan yang tidak terlalu penting pada tata lahiriah hingga lupa merombak pola pikir lama dan menata aspek batiniah yang menyentuh unsur substansial dari perayaan Natal. Orang lebih sibuk ‘mempercantik’ diri dan aneka persiapan lahiriah yang tak lebih dari ekspresi kebangkitan religiositas sesaat. Perawan Maria mengungkapkan satu hal yang jauh lebih penting bagi kita menyambut kedatangan Tuhan, yakni miliki keperawanan hati.

Dalam kisah Perjanjian Lama, sebagaimana tercatat dalam bacaan pertama, usaha manusia untuk ‘membangun’ apa yang tampak lahiriah itu terekam dalam niat Daud untuk mendirikan rumah bagi Tabut Tuhan. Baik bahwa Daud merasa terganggu karena sebagai raja, ia tinggal di rumah yang terbuat dari kayu aras yang indah dan mapan, sedangkan Tabut Tuhan ditelantarkan di kemah. Karena itu, ia berniat untuk membangun rumah bagi Tuhan.

Apa yang diinginkan Daud menggambarkan ambisi manusia untuk menyumbangkan rasa aman bagi Tuhan. Ambisi yang tentu saja terasa sedikit aneh, karena melaluinya Allah digambarkan sebagai subjek yang begitu lemah dan tak berdaya, sehingga Ia perlu disumbangkan sesuatu oleh manusia. Ambisi ini sekaligus membahasakan sikap arogan manusia untuk menguasai Allah. Pada titik ini, Allah menyapa Daud dengan mengingatkannya kembali tentang karya besar Allah yang telah membimbing orang Israel keluar dari perbudakan Mesir dan melintasi padang gurun untuk sampai ke tanah terjanji. Jawaban Allah ini dimaksudkan untuk menyadarkan Daud bahwa bukan manusia yang memberikan rasa aman kepada Allah, sebaliknya justru manusia harus bergantung kepada Allah. Ambisi ini menodai keperawanan, ketulusan dan kemurnian hati manusia untuk selalu bersandar kepada Allah.

Natal adalah sebuah teguran terhadap arogansi manusia yang berambisi untuk menyelamatkan dirinya sendiri, serta usahanya untuk memberikan perlindungan kepada Allah. Sebab itu, kedatangan Yesus hendaknya dilihat sebagai karya istimewa Allah untuk memulihkan nasib manusia, karena dengan kesanggupannya sendiri manusia tak dapat menyelamatkan dirinya. Keterlibatan Yesus dalam sejarah serentak menegaskan eksistensi manusia yang begitu rapuh untuk memperjuangkan hidupnya di dunia, karena kecenderungan untuk lebih bersekutu dengan dosa. Di sinilah rahmat penebusan Natal dapat memulihkan hati manusia yang sudah dicemari oleh dosa. Natal mengembalikan “keperawanan” dan kemurnian hidup manusia.

***

Sejumlah persoalan mewarnai perayaan natal di pengujung tahun politik ini. Kita merayakan natal di tengah keruhnya medan sosial-politik karena disesaki oleh para politikus yang busuk hatinya. Karena nafsu untuk berkuasa, maka politik kita kian tak beradab. Ada hati yang terus mengeras dan nurani yang kian mati rasa terhadap jeritan rakyat jelata. Juga ada hati yang kian tamak akan harta, uang dan kekuasaan. Kita merayakan natal di tengah suasana kehidupan berbangsa dan bernegara sedang ditampar oleh krisis ekonomi dan politik, masalah kemiskinan struktural, persoalan dehumanisasi dan perdagangan manusia.

Kita merayakan natal di hadapan wajah hukum yang kian lusuh hingga tak bertenaga untuk menjadi pembela kebenaran dan keadilan. Hukum telah menjadi milik penguasa dan mereka yang berduit. Hukum menjadi benteng untuk melindungi kekayaan penguasa sekaligus mencekik kaum lemah. Kita merayakan natal di tengah dunia yang compang-camping karena dicabik oleh hati yang keji dan rakus. Kita merayakan natal di hadapan terjungkalnya minoritas oleh perlakuan mayoritas yang tak sungkan-sungkan menindas minoritas. Kita juga merayakan natal di hadapan potret pendidikan yang terus sibuk mencari model tapi tak pernah sampai menyentuh substansi pemanusiaan.

Pendeknya, kita merayakan natal di hadapan wajah keindonesiaan yang bopeng, borok, dan jorok serta menebarkan aroma politik yang tak sedap. Semuanya itu telah menodai hati Ibu Pertiwi, hati semua anak Allah untuk menyambut Emmanuel.

Pada suasana yang lebih umum, kita juga merayakan natal di tengah pengalaman banyak orang yang terluka hatinya, karena perlakuan kasar dalam rumah tangga, karena fitnah, karena dendam, iri hati, benci dan permusuhan, serta karena sikap yang tidak menerima kenyataan diri. Suasana hati demikian membuat kita merasa kurang pantas untuk menerima kedatangan Tuhan, dan karena itu, kita merasa lebih aman untuk mengunci pintu hati kita.

Maka, Natal itu terlalu dahsyat bagi Maria. Ia merasa tak sanggup untuk menerimanya. Ia mengalami pergolakan batin justru karena Maria tidak percaya diri bahwa rencana sebesar itu akan terjadi atas dirinya. Ia malah menggugat eksistensi dirinya karena merasa tak layak untuk menjadi Bunda Almasih. Itulah sebabnya ia tidak langsung mengerti dan menerima ketika Malaikat Tuhan membawa kabar keselamatan Tuhan atas dirinya.

Keberatan Maria mewakili ruang hati manusia dan suasana hidup sosial-politik kita yang sudah tercemar. Manusia tidak percaya diri di hadapan rencana Allah yang mahaagung untuk memulihkan dunia dan manusia. Dan itu yang kurang dipikirkan oleh manusia. Ternyata, kemurahan dan penebusan Allah melampui setiap kesanggupan manusia untuk memahaminya. Itulah yang terjadi pada peristiwa Natal. Allah menyapa manusia dan merealisasikan janji penebusan-Nya yang melampui daya akal kita untuk memikirkannya. Maka, mewakili kita semua, Maria hanya dapat berujar: “Terjadilah padaku menurut perkataan-Mu”.

Adventus adalah saat untuk memulihkan keperawanan, kemurnian dan kesucian hati kita sebagai pribadi, juga hati kita sebagai penguasa yang angkuh. Itulah makna persiapan Natal bagi kita di tikungan terakhir menyonsong natal dan di depan wajah Ibu Pertiwi yang kian tercabik oleh perlakuan busuk penguasa akhir-akhir ini. Semoga!*** (Flores Pos, Sabtu, 20 Desember 2014)

Advertisements

About Avent Saur

Lahir 27 Januari 1982 di kampung Weto, Kecamatan Welak, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Bulan kelahiran ini masih diragukan, karena Mama saya bilang saya dilahirkan pada bulan usai panen jagung dan padi. Yah... sekitar bulan Juli. Di akte kelahiran dan surat baptis (agama Katolik), 27 Juli 1982.Studi filsafat dan teologi pada Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero, Maumere, Flores, NTT. Pernah menjadi wartawan pada majalah bulanan KUNANG-KUNANG (2008-2009). Sekarang, tinggal di Ende, "bantu-bantu" di harian umum Flores Pos. Blog ini dibuat, sejak 20 April 2013.
This entry was posted in RENUNGAN and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s