Inilah Natal Kita

  • Bentara Flores Pos

Oleh Avent Saur

Hari ini telah lahir bagimu Juru Selamat yaitu Kristus, Tuhan di kota Daud. – Lukas 2:11

Waktu terus bergulir, kita pun sampai pada momen Natal untuk kesekian kalinya. Berulang kali, kisah kelahiran dan maksud kedatangan Yesus direfleksikan. Kita pun setidaknya memiliki banyak pengetahuan tentang Yesus, dan betapa diharapkan bisa memperkuat iman kita kepada-Nya.

Yah, iman kita kuat. Setidaknya, hal ini dicirikan oleh dua hal bahwa sejak dibaptis, kita tetap mempertahankan identitas kita sebagai orang Kristen (terlibat dalam sakramen-sakramen Gereja dan kewajiban lainnya); dan apabila iman (dan sarana rohani) kita dicemari oleh tindakan anarkis penganut agama lain, kita spontan bereaksi emosional (sekalipun sebetulnya, Yesus tidak perlu dibela dengan cara emosional).

Lebih dalam daripada dua hal itu, iman yang kuat sebetulnya ditunjukkan dengan tindakan nyata seperti solider, adil, damai, bersatu, jujur, tidak pilih kasih, dan pelbagai kebajikan lainnya. “Jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakikatnya adalah mati,” demikian seruan Rasul Yakobus. Atau seturut kata Paus Fransiskus melalui Ensiklik Evangelii Gaudium (Sukacita Injili), “(iman) Gereja mesti terluka dan kotor karena menceburkan diri ke jalan-jalan, daripada Gereja yang sakit lantaran tertutup dan mapan mengurus dirinya sendiri”.

Namun natal demi natal kita rayakan, khotbah demi khotbah kita dengarkan dan perdengarkan, kebajikan demi kebajikan kita tunjukkan, tapi perubahan (sosial, budaya, politik, agama, pendidikan, kesehatan) terasa tidak begitu signifikan: masih jauh dari harapan. Ada kekerasan dan dendam kesumat, ada cemburu buta dan saling merugikan, ada egoisme dan kebebasan tak terkendali, ada konsumerisme dan kemelaratan, ada otoriterisme dan rendah diri, dan sebagainya.

Khusus dalam kalangan Gereja sendiri, ada iman administratif dan prosedural, ada iman “harus hadir di Gereja” dan iman finansial (beruang, maka beriman), ada imam yang sampai lelah bergelut dengan hal-hal sakramental semata dan dengan sadar mengabaikan domba-domba yang kurang beruntung (miskin, disabilitas, yatim-piatu, sakit berat fisik pun psikis), ada imam yang otoriter (gampang marah) dan ada umat yang kurang bahkan tidak peduli, dan pelbagai litani lainnya.

Dalam keadaan-keadaan ini, kita tetap dengan gembira menyongsong dan merayakan natal, sekalipun ada umat yang karena pelbagai alasan, tidak sempat merayakan natal sesuai harapan Gereja universal (atau juga lokal). Inilah Natal kita: Yesus lahir di Betlehem diri (hati, pikiran, perbuatan) kita yang sedang tercemar; Yesus lahir di Betlehem keadaan sosial, budaya, politik, agama, pendidikan, kesehatan yang ternoda. Inilah Betlehem kita, dan di Betlehem inilah, Yesus datang dan lahir untuk kita.

Ketika kita mencermati dengan sungguh narasi kelahiran Yesus, muncul rasa prihatin, terharu bahkan marah. “Mengapa Tuhanku harus lahir di tempat tidak layak (kandang hewan)? Sadis! Terlampau hina!” “Mengapa warga Betlehem begitu berkeras hati, tidak mengizinkan bilik rumahnya didiami Yesus?” Mungkin begitu tutur hati kita.

Tapi bukankah keadaan-keadaan yang memprihatinkan di atas tadi merupakan Betlehem kita saat ini yang sedang merayakan kenangan kelahiran-Nya 2000-an tahun silam itu? Sekalipun secara teologis, terceburnya Yesus ke kandang itu menjadi bukti keterlibatan Allah dalam dosa-dosa dan masalah-masalah manusia, tapi kita juga diajak untuk membongkar kandang Betlehem itu, dan kita menyiapkan bilik rumah hati kita untuk menjadi tempat kelahiran Yesus. Dengan berbesar hati dan bangga, kita dikehendaki untuk membuka pintu rumah kita bagi keluarga kudus: Yesus, Maria, Yosef melalui pembaruan diri yang serius.

Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya (Lukas 2:14).*** (Flores Pos, Rabu, 24 Desember 2014)

Advertisements

About Avent Saur

Lahir 27 Januari 1982 di kampung Weto, Kecamatan Welak, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Bulan kelahiran ini masih diragukan, karena Mama saya bilang saya dilahirkan pada bulan usai panen jagung dan padi. Yah... sekitar bulan Juli. Di akte kelahiran dan surat baptis (agama Katolik), 27 Juli 1982.Studi filsafat dan teologi pada Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero, Maumere, Flores, NTT. Pernah menjadi wartawan pada majalah bulanan KUNANG-KUNANG (2008-2009). Sekarang, tinggal di Ende, "bantu-bantu" di harian umum Flores Pos. Blog ini dibuat, sejak 20 April 2013.
This entry was posted in OPINI and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s