Menghalau Gelap Budi

  • In Memoriam Pater Roosmalen
  • Bentara Flores Pos

Oleh Avent Saur

Pater Roosmalen SVD

Pater Yan van Roosmalen SVD

Pater Roosmalen lahir di Belanda 1920, tahbisan imam 1946, ke Manggarai 1949, naturalisasi menjadi WNI 1951, Meninggal 24 Desember 2014.Profil

Di saat umat kristiani bersukacita menyambut natal, Pater Yohannes Hendricus van Roosmalen SVD, tokoh pendidikan di Manggarai raya pergi meninggalkan kita (terutama orang-orang yang mengenalnya), Rabu (24/12) pagi. Kepergian itu tentu menyisakan dukacita, tapi dalam terang iman, kepergian itu kiranya justru menambah sukacita natal.

Mengapa? Yesus Kristus lahir di dunia, Pater Roosmalen lahir di surga. Yesus datang untuk menebus dosa manusia, Pater Roosmalen pergi setelah menghalau kegelapan budi manusia. Yesus lahir di kandang hina Betlehem untuk mengangkat orang-orang hina, Pater Roosmalen lahir di rumah abadi untuk mengambil bagian dalam kebahagiaan “Tuannya”.

Kebahagiaan kekal itu patut direngkuh Pater Roosmalen karena dia telah mewujudkan spiritualitas kandang hina Betlehem itu. Seperti Yesus yang mengangkat orang-orang hina dari “persampahan” ke tempat yang manusiawi, demikianlah juga Pater Roosmalen membebaskan orang-orang buta dari kegelapan budi ke cahaya pengetahuan. Dengan itu, tepatlah, sebuah buku kenangan usia 88 tahun Pater Roosmalen diberi judul “Menjadi Abdi, Menghalau Gelap Budi, Menyingsing Fajar Pengetahuan”.

Kapela STKIP Ruteng

Kapela STKIP Ruteng

Narasi pengabdian misionaris asal Belanda ini dimulai dengan menjabat Kepala Sekolah SMP Tubi (sekolah pertama di Manggarai) pada tahun 1950. Delapan tahun kemudian, dia dengan temannya Pater H. Lommen SVD merintis pendirian panti Kursus Pendidikan Katekis (KPK), tahun 1958. Sepuluh tahun kemudian, lembaga kursus ini ditingkatkan menjadi Akademi Pendidikan Kateketik (APK), tahun 1968. Dan delapan belas tahun kemudian, panti pendidikan ini ditingkatkan lagi menjadi Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP), tahun 1986. Sekarang, bersamaan dengan kepergian sang fundator, STKIP sedang diproses menjadi universitas pertama di Manggarai raya.

Rasanya, memang tidak terlalu sulit, ketika kita menulis sejarah perkembangan panti pendidikan ini, dan bahkan bisa menulisnya secara lebih lengkap. Demikian juga cerita-cerita pengalaman Pater Roosmalen tentang langkah-langkah perjuangannya bisa diingat dengan baik. Hal yang sulit adalah membayangkan secara holistik pergumulan hati dan budi, yah pergumulan seluruh diri Pater Roosmalen sebagai “Sang Jago Tuhan” dalam menjaga dan meningkatkan kualitas sumber daya manusia.

Tapi yang pasti, pergumulan yang tentu dilakukan dalam terang iman itu menjadi dasar kokoh-kuat dalam dirinya untuk mengabdikan seluruh diri bagi sesama demi menikmati cahaya dari fajar pendidikan. Dari dasar kokoh-kuat yang sering kita sebut “komitmen” pengabdian hidup (yang dalam dunia psiko-spiritual, hal itu bersemayam di dasar lubuk hati dan budi), kita menyaksikan buah-buah segar yang siap diraih oleh siapa saja yang ingin melangkah maju. Dan dari buah segar yang tampak itu, kita pun memberikan kesaksian tentang dia, serta lebih dari itu, kita meneladaninya.

Ketua STKIP, Romo John Boilon, misalnya, menyatakan dengan amat padat: “Pater Roosmalen adalah seorang pendidik sejati yang mengabdi secara tuntas dan sungguh mengagumkan”. Demikian juga mantan muridnya Stef Agus: “Pater Roosmalen adalah pendidik yang setia dan disiplin”. Dan yang terakhir, Pater Simon Suban Tukan: “Pater Roosmalen adalah tokoh yang menjunjung pendidikan nilai dan budi pekerti” (FP, 29/12).

Tentu masih banyak hal yang bisa kita ringkat terkait jejak-jejak pengabdiannya. Dan dengan pelbagai kualitas ini, kita memiliki alasan untuk meneladani ketokohannya dalam menghalau kegelapan budi (menyingsing fajar pengetahuan), dengan cara pertama-tama adalah menjadikan diri abdi bagi sesama dalam terang iman akan Sang Mahatahu. Di kedalaman diri kita, komitmen mesti ditanamkan secara kokoh-kuat, untuk selanjutkan diwujudkan dalam kehidupan nyata.*** (Flores Pos, Selasa, 30 Desember 2014)

About Avent Saur

Lahir 27 Januari 1982 di kampung Weto, Kecamatan Welak, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Bulan kelahiran ini masih diragukan, karena Mama saya bilang saya dilahirkan pada bulan usai panen jagung dan padi. Yah... sekitar bulan Juli. Di akte kelahiran dan surat baptis (agama Katolik), 27 Juli 1982.Studi filsafat dan teologi pada Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero, Maumere, Flores, NTT. Pernah menjadi wartawan pada majalah bulanan KUNANG-KUNANG (2008-2009). Sekarang, tinggal di Ende, "bantu-bantu" di harian umum Flores Pos. Blog ini dibuat, sejak 20 April 2013.
This entry was posted in OPINI and tagged , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s