Beriman dengan Mata Terbuka

  • Catatan atas Film “Bunga Kering Perpisahan” Karya Hanung Bramanto

Oleh Hengky Ola Sura

Menulis

Hengky Ola Sura, Peminat Sastra, Alumnus PBSI Uniflor, Koordinator Divisi Indok PBH Nusra, Maumere

Simpan bunga kering ini, Dewiku, / Sampai kau terbebas dari belenggu.

Kalau sampai waktunya nanti,
Kalau kita memang jodoh sejati,
Kirimlah bunga ini padaku kembali
Dan aku akan datang padamu. Aku janji!

“Bunga Kering Perpisahan” sesungguhnya adalah luka. Setidaknya demikian, cinta yang pada galibnya buta seolah tak pernah bisa membatasi tembok yang memisahkan, tetapi apa lacur, menonton film mahakarya Hanung Bramanto yang diadopsi dari puisi esai Denny JA ini kita dihadapkan pada dada yang bergetar dan sumpeknya menjalani hidup hanya karena perbedaan agama. Film berdurasi empat puluh lima menit ini seperti sedang menghadirkan banyak fakta yang terjadi dengan hidup ke-Indonesia-an kita yang plural.

Denny dengan puisi esainya dan Hanung sebagai sutradaranya menangkap fakta ke-Indonesia-an yang plural sebagai bagian mewujudkan Indonesia tanpa diskriminasi. Sebuah mimpi yang mulia. Lewat film ini, tokoh Albert mewakili Kristen (anak pendeta) dan Dewi mewakili Islam (anak haji) saling jatuh hati. Cinta yang memanggil mereka telah menyalibkan mereka pada luka.

Albert, dalam film ini, tampil sebagai tokoh yang sangat menghormati Dewi dan agamanya. Salah satu dari adegan yang membuktikan itu adalah ketika sama-sama dalam pendakian ke gunung, mereka sejenak berisitirahat, dan Albert mempersilahkan Dewi untuk mengambil wudhu. Albert adalah tipikal manusia yang moderat dan kritis, sedangkan Dewi adalah sosok yang menghadirkan kelembutan dan telah memperdayai hati Albert untuk tak bisa ke mana-mana. Pertemanan dari masa kanak-kanak hingga dewasa dan merasakan adanya getaran perasaan akhirnya terbentur pada agama yang berbeda.

Menonton film ini, kita disuguhkan pada situasi serba problematis. Tak bisa menyalahkan ayah Dewi yang bersikeras anaknya harus menikah dengan Joko. Tak bisa juga menyalahkan Dewi yang tak bisa mencintai Joko jadi suaminya. Hidup boleh saja harmonis tapi sesungguhnya diam-diam dalam keharmonisan itu juga tidak baik. Rumah tangga Dewi dan Joko biasa-biasa saja. Joko dalam film ini, akhirnya meninggal karena sakit. Dewi yang tetap menyimpan rasa sayang pada Albert akhirnya membantah Ayah untuk menemui Albert. Kisah tragik pun mengalir. Albert sama juga seperti Joko, telah menjadi jasad yang mati. Ia adalah simbol anak muda yang memilih tak mencintai siapa-siapa selain Dewi. Perempuan bukan hanya Dewi, tetapi mengapa Albert harus memilih pergi dan mati. Aneh tapi nyata, itulah yang namanya cinta.

Keseluruhan lakon kisah dalam film ini hanya mau menegaskan beberapa hal. Pertama, beragama tetap harus dalam kerangka kaum beragama memberikan penghargaan yang luhur terhadap dimensi keindividuan manusia (supremasi individu). Kedua, dalam kaitan dengan pembicaraan moral, kaum beragama mesti insyaf bahwa setiap individu memiliki tujuan dalam dirinya sendiri dan juga memiliki hak prerogatif untuk menentukan moralitas pribadinya (prinsip invidualitas moral dan otonomi moral)

Ketiga, non intervensi. Dalam prinsip ini, kaum beragama diharamkan untuk mengintervensi kebebasan individu dalam beragama atau berkeyakinan. Menyaksikan kisah ayah Dewi yang mengatakan Albert kafir dan ia takut murka neraka hanya karena anaknya menjalin hubungan beda agama adalah salah satu bentuk mendiskreditkan agama lain tanpa bukti yang sahih. Pertanyaannya, apakah perbedaan menjadi salah satu bentuk penegasian terhadap pluralitas kebenaran dan kebebasan individu dalam beragama atau berkeyakinan?

Dengan menonton film ini, kita diajak untuk berani keluar dari doktrin yang memasung bahwa “kitalah yang paling benar, paling suci”. Kekhawatiran hanya karena relasi beda agama tidak bisa dijadikan instrumen legitim untuk memisahkan relasi yang didasari cinta nan bening itu. Cinta Albert dan Dewi tidak sekadar rasa yang biasa. Ia, sebuah kenyataan yang pada kedalamannya mengandung energi perlawanan terhadap mainstream, serentak koreksi.

Denny JA lewat puisi esainya dan Hanung Bramanto dengan filmya adalah perpaduan dari mengangkat fakta salah kaprah yang timpang. Film ini pada akhirnya mengajarkan kepada kita agar beriman dengan iman yang dapat dipertanggungjawabkan. Jika saja ayah Dewi membiarkan Dewi tetap menjalani hubungan dengan Albert dengan tetap memberikan mereka kebebasan yang bertanggung jawab dengan dasar cinta paling tulus, lalu di mana salahnya? Iman harus dapat dipertanggungjawabkan dengan akal budi menjadi prasyaratnya. Percaya sesungguhnya bukan dalam arti yang buta, melainkan manusia beragama perlu mencoba memahami apa yang diamininya. Credo, aku percaya karena tidak masuk akal mestinya dilenyapkan. Kaum beragama sejatinya beriman dengan mata terbuka bukan dengan mata tertutup.

Film ini akan menjadi lebih dramatis jika saja, tokoh Joko itu ditampilkan sebagai sosok yang juga benar-benar mengasihi dan menyayangi Dewi. Sayangnya, Joko hanyalah figuran. Eeksplistasi film ini juga terlalu tampak lewat pembacaan puisi pada setiap adegannya. Hal yang menggiring penonton untuk mengetahui lebih dahulu jalan ceritanya. Sebagai sebuah film yang mengangkat realitas pluralitas ke-Indonesia-an film ini layak untuk ditonton. Bahwa diyakini, semua agama datang dari Tuhan, tapi yang perlu kita camkan secara baik adalah siapapun kita, dengan situasi dan latar belakang masing-masing hendaknya menjunjung tinggi nilai-nilai luhur yang kita anut sambil tetap terbuka terhadap nilai-nilai luhur yang dianut manusia lain. Iman tidak perlu melampaui siapa yang melampaui siapa. Beriman tetap harus dengan mata terbuka.*** (Flores Pos, Selasa, 30 Desember 2014)

Advertisements

About Avent Saur

Lahir 27 Januari 1982 di kampung Weto, Kecamatan Welak, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Bulan kelahiran ini masih diragukan, karena Mama saya bilang saya dilahirkan pada bulan usai panen jagung dan padi. Yah... sekitar bulan Juli. Di akte kelahiran dan surat baptis (agama Katolik), 27 Juli 1982.Studi filsafat dan teologi pada Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero, Maumere, Flores, NTT. Pernah menjadi wartawan pada majalah bulanan KUNANG-KUNANG (2008-2009). Sekarang, tinggal di Ende, "bantu-bantu" di harian umum Flores Pos. Blog ini dibuat, sejak 20 April 2013.
This entry was posted in OPINI and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s