Diduga, Orang Gila Dibakar

???????????????????????????????

Disuap: Remigius Puji (40-an tahun), orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) sedang disuap Pater Avent Saur SVD, di ruang perawatan bedah, RSUD Ende, pada Minggu (11/1). Bibirnya berluka, bernanah, memerah yang membuat Remi sulit untuk memasukkan makanan ke mulut.

  • Sekujur Tubuh Penuh Luka
  • Dirawat di RSUD Ende

Oleh Avent Saur

Ende, Flores Pos – Warga Kampung Seulako, Desa Ngguwa, Kecamatan Ndona Timur, Remigius Puji, orang dengan gangguan jiwa (gila) diduga dibakar oleh orang tak dikenal pada hari tahun baru, pukul 06.30 Wita  di perlimaan dalam kota Ende, Kamis (1/1). Remigius yang akrab disapa Roki (40-an tahun) diantar orang keturunan Tionghoa ke RSUD Ende, yang rumahnya dekat dengan tempat kejadian.

Hal ini disampaikan para perawat RSUD Ende yang ditemui Flores Pos di ruang perawatan bedah, Sabtu (10/1) siang. Menurut para perawat, awalnya para perawat di ruang gawat darurat enggan menerima Remigius karena tidak ada keluarga yang menyatakan bertanggung jawab atas perawatannya di rumah sakit itu. Tapi oleh karena belas kasihan, rasa kemanusiaan dan keprihatinan yang mendalam, para perawat menerimanya dan merawatnya di Ruang Perawatan Bedah Sakura. Dua hari kemudian, Jumat (3/1), beberapa anggota keluarganya dari Kampung Seulako, termasuk Anggota DPRD Ende Maximus Deki dari Kampung Watumbawo, Kelurahan Lokoboko, Ndona, datang mengunjungi dan menemaninya di rumah sakit.

Disaksikan Flores Pos, di ruang Sakura, Sabtu (10/1), Remi duduk di tempat tidur dengan kepala menunduk. Sekujur tubuhnya, kepala bagian belakang sampai mendekati pantat dan bagian depan mulai dari dahi (mata, hidung) sampai perut serta bagian tulang rusuk dan ketek dipenuhi luka bakar yang masih bernanah dan mengeluarkan aroma tak sedap. Kedua tangannya juga berluka. Ia terus menunduk karena di lehernya dipenuhi luka bakar. Luka pada kedua bibirnya masih memerah dan bernanah yang membuat dia susah memasukkan makanan ke mulut, apalagi untuk mengunyah.

“Remi diantar ke ruang ini tanpa baju, dengan tubuh penuh luka mengerikan. Tiga hari pertama, ia tidak bisa makan karena mulutnya sulit dibuka. Tapi setelah luka-lukanya dirawat selama beberapa hari terakhir, ia mulai bisa makan sekalipun agak setengah mati. Ia hanya diam, tak banyak bicara, tidak bisa tidur baring, tidur posisi duduk saja,” kata perawat yang saat itu sedang membalut luka-luka di sekujur tubuh Remi.

Menurut para perawat, pada tangan Remi sempat dipasangkan jarum infus selama beberapa hari, tapi mungkin karena merasa tidak nyaman, maka ia sendiri yang melepaskannya. Remi kurang sadar membuang air kecil di tempat tidur atau di dalam ruang perawatannya, bukan di kamar WC, yang membuat ruang itu terasa agak pengap. Tapi karena rasa kemanusiaan dan keprihatinan, para perawat, beberapa anggota keluarga dan warga lain serta para pegawai dari Dinas Sosial Kabupaten Ende, pada Sabtu (10/1) tidak risih sedikit pun.

Tanggung Jawab

Anggota DPRD Ende Maximus Deki yang mengunjungi Remi, Sabtu (10/1) mengatakan, Remi biasa berjalan-jalan di pasar Wolowona, dan juga di beberapa titik dalam kota Ende. Ia biasa tidur di emperan-emperan toko dan kios serta di bawah naungan pepohonan. Ia dikenal warga sebagai orang gila yang lebih banyak diam, tidak membuat kegaduhan. Kemungkinan besar, pada pagi hari tahun baru, Remi melintasi perkumpulan orang-orang mabuk, dan tanpa sadar, orang-orang mabuk membakarnya.

“Sampai sekarang, keluarga belum melaporkannya kepada polisi. Yang paling penting, kita merawatnya supaya luka-lukanya bisa sembuh,” ujar Maxi Deki.

Menurut Maxi Deki, Remi memiliki rambut cukup panjang, tapi semuanya ludes terbakar. Itu yang membuat kepalanya penuh luka. “Banyak orang merasa risih jika berpapasan dengan Remi karena badannya berbau tak sedap. Tapi seringkali, jika lapar, ia memasuki rumah-rumah makan di sekitar Wolowona, dan duduk terpekur di dalamnya. Supaya ia segera meninggalkan rumah makan, biasanya, pemilik warung sesegera mungkin memberikan makanan. Setelah kenyang, ia beranjak pergi. Ia ditinggalkan keluarga dan warga sekampungnya,” lanjut Maxi.

Maxi mengetahui Remi menderita luka bakar ketika ia mengunjungi seorang anggota keluarganya yang dirawat di rumah sakit itu, tak jauh dari ruang perawatan bedah. “Awalnya, saya mendengar orang bercerita tentang orang gila yang dirawat karena diduga dibakar orang tak dikenal, dan tidak memiliki keluarga untuk menjaganya. Saya pun pergi ke ruang tempat Remi dirawat, dan saya mengatakan kepada perawat, biar saya yang bertanggung jawab atas perawatannya,” ujar Maxi.

Beberapa anggota keluarga Remi mengatakan, ia menderita sakit jiwa sejak menamatkan pendidikan sekolah dasar. Ada beberapa kakak dan adik kandungnya, tapi mereka tidak tinggal di Kampung Seulako. Mereka merantau ke Kupang, Malaysia dan Kalimantan.

“Dahulu, ia memiliki rumah di kampung, tapi karena tidak dirawat, maka perlahan rusak dan sekarang rumah itu sudah ambruk. Puluhan  tahun, ia tidak pernah ke kampung, ia hanya berjalan-jalan saja di kota Ende. Kami berharap Remi bisa sembuh, bukan hanya luka-luka di sekujur tubuhnya, tapi juga jiwanya,” ujar salah seorang anggota keluarga, Yohanes Lana.

Dinas Sosial

Kepala Bidang Bantuan Jaminan Sosial dari Dinas Sosial Kabupaten Ende Romanus Tato dan beberapa pegawai yang mengunjungi Remi, Sabtu (10/1) siang mengatakan, pihak Dinsos telah mendengar kejadian yang menimpa Remi beberapa hari lalu.

“Kami akan memperhatikan proses perawatan Remi selanjutnya. Untuk sementara, kami akan memberikan bantuan makanan kepada anggota keluarga yang menjaga Remi di rumah sakit. Setelah luka-lukanya sembuh, kami akan pikirkan langkah selanjutnya untuk perawatan jiwanya,” ujar Magnus.*** (Flores Pos, Senin, 12 Januari 2015)

Baca berita terkait: 

Polisi Siap Usut Kasus Bakar Orang Gila

Pelaku Pembakaran Orang Gila Dibekuk

Orang Gila, Gereja dan Pemerintah

Revolusi Gaya Interogasi

Advertisements

About Avent Saur

Lahir 27 Januari 1982 di kampung Weto, Kecamatan Welak, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Bulan kelahiran ini masih diragukan, karena Mama saya bilang saya dilahirkan pada bulan usai panen jagung dan padi. Yah... sekitar bulan Juli. Di akte kelahiran dan surat baptis (agama Katolik), 27 Juli 1982.Studi filsafat dan teologi pada Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero, Maumere, Flores, NTT. Pernah menjadi wartawan pada majalah bulanan KUNANG-KUNANG (2008-2009). Sekarang, tinggal di Ende, "bantu-bantu" di harian umum Flores Pos. Blog ini dibuat, sejak 20 April 2013.
This entry was posted in BERITA and tagged , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s