Orang Gila, Gereja dan Pemerintah

Oleh Avent Saur

???????????????????????????????

Remigius Puji, orang dengan gangguan jiwa (gila) sedang disuap Pater Avent Saur, Minggu (11/1).

Setelah orang dengan gangguan jiwa Anselmus Wara (30), Fabianus Biru (50) dan Yakobus Ari (29), kini giliran Remigius Puji (40) tersandung nasib nahas (baca juga di sini). Kalau Anselmus dipasung sampai luka borok dengan maksud dibiarkan mati di pasungan, dan Fabianus diusir dari rumah Dinas DPRD Ende lalu dibiarkan berkeliaran lagi tak terurus, juga Yakobus ditahan di sel Polsek Ende lalu dibiarkan berkeliaran lagi, kini Remigius menderita luka mengerikan di sekujur tubuhnya diduga dibakar orang tak dikenal.

Mereka adalah rakyat Kabupaten Ende dan umat Keuskupan Agung Ende. Bukan cuma mereka, ada lagi puluhan orang gila yang berkeliaran di Kota Ende dan sekitarnya, belum terhitung yang berdiam di kampung dan rumah mereka masing-masing. Ada yang terpasung dan ada yang berkeliaran tak terurus.

Tragedi Remigius terjadi pada malam tahun baru di perlimaan dalam kota Ende, Kamis (2/1) dini hari. Oleh warga keturunan Tionghoa (seturut kabar para perawat) yang kebetulan melintas, ia diselamatkan dan diantar ke RSUD Ende. Sekalipun setelah warga Tionghoa mengantar lalu tidak lagi mengurusinya lebih lanjut, tapi praksis solidaritas dan kemanusiaannya menjadi langkah pertama penyelamatan jiwa Remigius. Lalu langkah penyelamatan selanjutnya ditempuh oleh siapa?

Mgr Vincentius Sensi Potokota Pr

Pemimpin Gereja Lokal Keuskupan Agung Ende, Mgr Vincentius Sensi Potokota Pr

Pertanyaan ini bukan hanya berkaitan dengan penyelamatan Remigius, melainkan juga penyelamatan semua orang gila di Ende dan Keuskupan Agung Ende, atau juga di daerah lain. Mengapa? Sakit jiwa di mana penderitanya terlampau sepi perhatian baik dari tokoh adat/masyarakat maupun tokoh agama (Gereja) dan pemerintah sebetulnya merupakan nasib nahas yang tidak boleh dibiarkan berlarut. Mereka nahas: tak berdaya, melarat, terasingkan. Yang terjadi, ketika mereka tertimpa tangga nahas berikutnya (dipasung, dibakar) baru mereka ditolong, dan itupun dengan berat hati dan bersusah payah.

Sebetulnya, pihak-pihak dimaksud mengetahui lebih baik keadaan ini. Tokoh adat/masyarakat yang notabene tinggal dekat orang gila, misalnya, menaruh keprihatinan terhadap mereka, tapi keprihatinan itu tak kunjung menjadi sebuah praksis. Mereka berpetuah tentang kesetiakawanan, tapi petuah itu hanya terus bertengger di ujung bibir.

Sementara Gereja dan pemerintah tentu lebih mengetahui perkara ini. Gereja (gembala), misalnya, bukan cuma menyelipkan keadaan nahas orang gila (tak berdaya, melarat, terpinggirkan) dalam setiap teks khotbahnya, melainkan terutama menjadikan kenahasan itu sebagai inti khotbah. Tapi apa hendak dikata, khotbah adalah khotbah. Itu adalah teks/kata-kata, visi-misi kekristenan, rumusan mulia-menyentuh iman Kristen tapi kenahasan orang gila tetap tak tersentuh sedikit pun. Nahas adalah nahas.

Marsel Y.W. Petu

Bupatai Kabupaten Ende, Marsel Y.W. Petu

Demikian pula, pemerintah (politisi), misalnya, menjadikan keadaan nahas itu dalam rumusan visi-misi pemerintahannya atau dalam visi-misi keterwakilannya di lembaga legislatif dan menyuarakan itu dalam pelbagai momen blusukan dan ritus kenegaraan. Tapi yah, tak sedikit pun praksis visi-misi itu dirasakan orang gila, sekurang-kurangnya di kota Ende.

Tragedi Remigius mengingat terutama Gereja dan pemerintah bahwa pengetahuan tentang keadaan nahas orang gila sedapat mungkin diaktualisasikan menjadi praksis nyata: keterlibatan-keperpihakan. Kalau keberpihakan dari pemerintah ditopang oleh visi “kemanusiaan yang adil dan beradab”, maka Gereja ditopang oleh sabda “Roh Tuhan ada pada-Ku untuk menyampaikan kabar baik kepada orang miskin, tertawan, tertindas”. Demi Indonesia raya dan demi Gereja yang membebaskan, pemerintah dan Gereja mesti bersatu menyentuh orang gila dalam kebijakan politis dan kebijakan pastoral, lalu mengaktualisasikannya. (Soal orang gila, lihat artikel Bentara sebelumnya, FP, 25 November 2014. Klik di sini).*** (Flores Pos, Selasa, 13 Januari 2015)

Advertisements

About Avent Saur

Lahir 27 Januari 1982 di kampung Weto, Kecamatan Welak, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Bulan kelahiran ini masih diragukan, karena Mama saya bilang saya dilahirkan pada bulan usai panen jagung dan padi. Yah... sekitar bulan Juli. Di akte kelahiran dan surat baptis (agama Katolik), 27 Juli 1982.Studi filsafat dan teologi pada Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero, Maumere, Flores, NTT. Pernah menjadi wartawan pada majalah bulanan KUNANG-KUNANG (2008-2009). Sekarang, tinggal di Ende, "bantu-bantu" di harian umum Flores Pos. Blog ini dibuat, sejak 20 April 2013.
This entry was posted in OPINI and tagged , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

One Response to Orang Gila, Gereja dan Pemerintah

  1. Pingback: Pelaku Pembakaran Orang Gila Dibekuk | SENTILAN

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s