Pasien Kirimkan Surat Terima Kasih kepada RSUD Ende

RSUD Ende

Beberapa keluarga pasien bercerita di teras ruang Sakura khusus perawatan bedah RSUD Ende. Ketika menjalani operasi beberapa waktu, Lasarus Minggu dirawat di ruang ini. Gambar diabadikan, Minggu (11/1) siang.

Oleh Avent Saur

Pada Sabtu (10/1) siang, saya ditelepon oleh seorang pegawai Dinas Sosial Kabupaten Ende, Ibu Darmayati, dari RSUD Ende. Beliau mengabarkan, ada seorang dengan gangguan jiwa (gila), Remigius Puji (40-an), yang diduga dibakar orang tak dikenal pada malam tahun baru, Kamis (1/1) pagi sekitar pukul 06.30 Wita di perlimaan kota Ende. Katanya, ia diselamatkan warga keturunan Tionghoa yang kebetulan melihatnya tergeletak di jalan, lalu diantar ke RSUD Ende.

Siang itu juga, saya ke RSUD untuk menyaksikan dari dekat penderitaan yang dialami orang malang yang satu ini. Ah, penderitaannya sangat mengerikan. Sekujur tubuhnya dipenuhi luka, kecuali pinggang ke bawah sampai kaki. Kita berharap ia segera sembuh bukan cuma fisik, tapi juga jiwanya.

***

Dari ruang perawatan Remi, saya menemui beberapa perawat di ruang kerja mereka. Mereka menunjukkan sebuah surat seorang pasien yang pernah mereka rawat, yang berisi ucapan syukur dan terima kasih kepada dokter dan perawat RSUD Ende yang telah memberikan pelayanan serius terhadap beliau sehingga kesehatannya pulih. Para perawat menuturkan sangat bangga dengan pasien yang dengan rendah hati menyatakan syukur dan terima kasih atas jerih payah mereka yang melayani dengan sungguh.

Yah, yang kita dengar dan lihat, banyak orang bahkan pasien memberikan kritik pedas kepada para perawat dan dokter atau kepada para pengelola rumah sakit, tapi seringkali lupa bahwa ada banyak orang yang telah sembuh setelah dirawat di rumah sakit dengan bantuan tangan-tangan para perawat dan dokter dan dengan bantuan obat.

Pasien dimaksud adalah Bapak Lasarus Minggu (67), seorang duda pensiunan PNS. Ia dirawat di RSUD Ende beberapa waktu lalu, karena menderita sakit mata, dan setelah dioperasi, kesehatan matanya pulih. Biaya perawatan ditanggung kartu Askes. Setelah kembali ke kampungnya di Maunori, Kabupaten Nagekeo, Bapa Sarus mengirimkan surat itu.

Atas anjuran para perawat, saya diminta untuk memberikan catatan ini, dan terutama mempublikasikan surat tanpa tanggal itu. Berikut saya cantumkan surat Bapa Sarus, dengan perbaikan sedikit-banyak soal redaksi, bukan soal isi.

***

“Ucapan terima kasihku teruntuk para dokter dan perawat RSUD Ende, teristimewa untuk dokter spesialis mata dan perawatnya yang sudah merawat saya. Puji syukur kepada Sang Mahaluhur yang sudah mengutus tangan-tangan mulus untuk mengoperasi dan merawat dengan tulus semua orang yang matanya telah “fufuk” (rusak) sehingga dapat melihat kembali seperti dahulu. Oh Tuhan, karuniakan mereka umur yang panjang. Jikalau boleh, biarkan usianya sampai gigi gugur dan rambut memutih dari pangkal sampai ujung, sampai berjalan bungkuk. Sekali lagi, karuniakan mereka umur panjang.

Saya meminta maaf mungkin sempat mengganggu kegiatan ibu dokter dan para perawat untuk membaca surat ucapan terima kasih ini. Saya tidak melupakan jasa ibu dokter dan para perawat yang telah mengopresi dan merawat saya. Dengan penuh kasih sayang, siang dan malam, sungguh dari hati yang paling dalam, saya mengucapkan terima kasih berganda. Lagi-lagi, saya datang dan mungkin mengganggu, sehingga saya memohon maaf.

Tiada sesuatu pun yang saya miliki untuk membalas jasa ibu dokter dan para perawat. Saya hanya membalas dengan kata-kata yang tentu tidak berarti apa-apa. Memang, saya adalah orang biasa, yang miskin. Andaikan saya ini seorang pejabat, atau orang kaya raya, saya pasti akan menghadiahkan emas atau intan permata kepada ibu dokter dan para perawat. Hanya dengan kelahiran Sang Juru Selamat di malam Natal dan melalui doa yang saya panjatkan sepanjang masa, itulah hadiah terindah untuk ibu dokter dan para perawat. Semoga Tuhan menghadiahkan semua umur panjang. Kalau dapat, biarlah usia kalian melebihi satu abad.”

***

“Memang, Tuhan sudah mengatur. Tuhan telah mengutus tangan-tangan halus untuk mengoperasi dan merawat mata saya yang sudah lapuk agar kembali berfungsi seperti masa lalu. Oh Tuhan, inilah salah satu doa saya kepada Dikau, sekali lagi, berikanlah mereka usia panjang.

Ini memang kehendak Tuhan. Selama saya dirawat di rumah sakit, saya sungguh dirawat dengan hati oleh ibu dokter yang cantik dan tangan-tangan halus para perawat yang manis, sehingga sekalipun saya sangat lama di rumah sakit, rasanya, seperti sehari saja. Mengapa? Karena selain dirawat dengan hati, saya juga dirawat dengan tangan kasih. Semoga Tuhan membalas jasa ibu dokter yang cantik dan para perawat yang manis dengan karunianya beribu-ribu kali.

Saya, sekali lagi, mohon maaf. Mungkin sudah terlalu lama ibu dokter dan para perawat membaca surat ini yang mungkin tidak berharga apa-apa. Mengakhiri ucapan terima kasih ini, saya mengucapkan salam damai natal bagi ibu dokter dan para perawat yang merayakannya. Jika ada kata-kata yang menyinggung perasaan, maafkan saya. Semua kebaikan dan kasih ibu dokter dan para perawat dibalas dengan rahmat-Nya berlipat ganda.

Saya juga mengucapkan selamat Tahun Baru. Saya selalu berdoa untuk kalian semua. Pelayanan kalian tidak bisa dinilai dengan angka seratus (100), biarkanlah Tuhan yang tahu pembalasannya. (Maunori, dalam kesendirian, tertanda Lasarus Minggu).”

***

Itulah isi surat Bapak Sarus. Dengan surat ini, kita diingatkan untuk dengan sadar memberikan penghargaan berupa ucapan syukur dan terima kasih baik kepada para dokter, perawat dan pengelola rumah sakit, maupun kepada Tuhan,  yang memberikan kita kesempatan untuk mengalami kesembuhan setelah sakit, entah sakit apa saja, entah dalam waktu singkat atau lama. Sejauh ini, yang pernah saya alami, para dokter dan para perawat di ruang Sakura (khusus perawatan bedah) RSUD Ende telah merawat dengan sungguh pasien sakit jiwa Anselmus Wara yang menderita luka borok beberapa waktu lalu selama enam bulan (April-Oktober 2014). Terima kasih untuk kalian semua. Salam semangat dalam pelayanan terhadap orang-orang yang dititipkan Tuhan kepada kita sekalian.

Saya pun teringat akan kata-kata dalam Kitab Suci Kristen.

“Ketika Aku lapar , kamu memberi Aku makan; ketika Aku haus, kamu memberi Aku minum; ketika Aku seorang asing, kamu memberi Aku tumpangan; ketika Aku telanjang, kamu memberi Aku pakaian; ketika Aku sakit, kamu melawat Aku; ketika Aku di dalam penjara, kamu mengunjungi Aku.”

“Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku.” (Matius 25:31-46). Terima kasih.*** (Flores Pos, Selasa, 13 Januari 2015)

Advertisements

About Avent Saur

Lahir 27 Januari 1982 di kampung Weto, Kecamatan Welak, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Bulan kelahiran ini masih diragukan, karena Mama saya bilang saya dilahirkan pada bulan usai panen jagung dan padi. Yah... sekitar bulan Juli. Di akte kelahiran dan surat baptis (agama Katolik), 27 Juli 1982.Studi filsafat dan teologi pada Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero, Maumere, Flores, NTT. Pernah menjadi wartawan pada majalah bulanan KUNANG-KUNANG (2008-2009). Sekarang, tinggal di Ende, "bantu-bantu" di harian umum Flores Pos. Blog ini dibuat, sejak 20 April 2013.
This entry was posted in ASPIRASI and tagged , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

2 Responses to Pasien Kirimkan Surat Terima Kasih kepada RSUD Ende

  1. Juita pasaribu says:

    Pater tugasmu mulia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s