Panggilan Kemanusiaan Seorang Murid

Petrus

Yesus pertama kali memanggil orang-orang yang akan menjadi murid-Nya. Mereka akan beralih pekerjaan, dari penjala ikan menjadi penjala manusia.

  • Mimbar Minggu
  • Markus 1: 14-20

Oleh Romo Silvi M. Mongko, Pr

Menulis

Romo Silvi M. Mongko Pr, Rohaniwan Keuskupan Ruteng, Tinggal di Seminari Kisol, Manggarai Timur

Yesus adalah pemenuhan janji Allah; Allah yang melawat dan menyelamatkan manusia. Sisi ini ditekankan Yesus sebelum ia memilih para murid-Nya dalam kisah Injil hari minggu ini. “Waktunya telah genap; Kerajaan Allah sudah dekat. Bertobatlah dan percayalah kepada Injil!” (Mrk 1:15). Kata-kata ini menjadi titik simpul muatan karya pewartaan Yesus di depan umum. Bahwa semua orang beriman hendaknya diantar kepada pengakuan iman: bertobat dan percaya kepada Injil! Itulah konsekuensi dari pilihan mengikuti Yesus. Lalu, apa makna dari kata-kata itu?

Menarik bahwa Yesus justru menegaskan visi-misi Kerajaan-Nya sebelum ia memilih para murid-Nya. Jelas ini punya maksud. Bahwa sebagai agen Kerajaan Allah, para murid mesti menjadi teladan, model bagi orang lain karena lebih awal telah diubah oleh Injil. Mereka adalah orang yang pertama-tama dibentuk oleh Sabda Allah; orang pertama yang benar-benar berkarakter Injili. Seluruh hidup dan panggilan para murid dilandasi oleh Sabda itu. Penegasan ini penting supaya pewartaan kita dapat diterima dengan baik dan berdaya mengubah hidup orang lain justru karena semua pertanyaan dan pergumulan orang lain dapat ditemukan jawabannya dalam teladan hidup kita sebagai agen pastoral. Banyak agen pastoral kurang menjadi contoh yang baik bagi umat justru karena hidupnya sendiri belum dibentuk sepenuhnya oleh Injil.

Selanjutnya, sebagai murid, kita telah menerima dan menyerahkan hidup kepada penyelenggaraan Tuhan. Untuk itu, kita mesti menanggalkan arogansi yang mengurung keselamatan dalam konsep dan tindakan yang terlampau sempit. Banyak orang beriman berjuang dengan segala kemampuan untuk menyelamatkan dirinya sendiri. Toh pada akhirnya, kita selalu berhadapan dengan situasi batas, sebuah titik di mana kita terhampar dalam ketakberdayaan. Saya kira, apa yang diwartakan Yesus itu hendak menarik semua ciptaan dan manusia khususnya untuk menikmati keselamatan yang ditawarkan-Nya. Sebagai pemenuhan janji keselamatan, Yesus meresapi setiap kerinduan dan kehendak baik umat beriman untuk boleh mengalami kasih-Nya. Maka tentu tak ada lagi sumber terakhir yang patut kita sembah, dan tugas kita ialah menunjukkan jalan yang sebenarnya ke sumber itu. Jelaslah bahwa kita bukan subyek penyembahan umat Allah.

Apa yang ditawarkan Yesus itu amat mendesak. “Kerajaan Allah sudah dekat” menjadi bahasa khas untuk menegaskan kemendesakan nilai keselamatan bagi umat manusia. Sangat diharapkan di sini suatu tanggapan positif manusia untuk membuka diri terhadap kemurahan kasih Allah. Kenyataannya, banyak orang malah bersikap acuh tak acuh dan mencari kerajaannya sendiri yang lebih mendewakan harta, jabatan atau kekuasaan dan prestise. Ini diperparah lagi karena untuk sampai ke situ, banyak orang harus memanipulasi orang lain.

***

Apa yang diminta Yesus untuk masuk dalam Kerajaan Allah? Penginjil Markus menegaskan bahwa kita harus “bertobat dan percaya kepada Injil”. Hal itu terungkap dalam kesediaan para murid pertama yang setia untuk dipilih dan diubah oleh Tuhan.

Bertobat berarti memilih cara hidup yang searah dengan Sang Guru. Ketika para murid yang terpilih berani untuk meninggalkan cara hidup lama mereka dan hidup menurut tata cara Sang Guru, maka tentu di sana mereka sedang mengalami pertobatan hidup. Tentu tidak berarti bahwa cara hidup lama sebagai penjala ikan itu tidak berkenan bagi Tuhan. Yang ditekankan di sini ialah bahwa para murid bersedia untuk memilih cara hidup yang baru sama sekali, dan itu berarti hanya mengandalkan nasib pada Dia yang memanggil. Makna pertobatan di sini ialah suatu penyerahan diri seorang murid pada penyelenggaraan Sang Guru.

Maka tentu lebih dari sekadar dipilih, para murid mengalami suatu transformasi radikal dalam pola pikir, tindakan dan orientasi hidup mereka. Mereka diubah oleh rahmat kasih Allah untuk menjadi ‘penjala manusia’. Titik perhatian di sini, bukan terutama kehebatan manusia yang digadaikan kepada Tuhan, tapi justru kerelaan hati untuk dituntun oleh kasih-Nya. Di sanalah aspek ilahi meresapi kemanusiaan seorang murid, sehingga dari yang sederhana akan lahir sesuatu yang luar biasa untuk keselamatan orang lain. Sebab itu, ada dua pesan penting yang patut direnungkan.

Pertama, meninggalkan ke-aku-an diri. Termasuk di sini soal kecenderungan manusia untuk memperbesar narasi tentang kehebatannya sendiri. Pola pikir egosentris yang berjuang untuk menarik semua alasan akan kesuksesan orang lain kepada diri kita sendiri tidak akan membuat kita menjadi lebih baik. Dengan kata lain, kita tidak mempunyai alasan apa pun yang patut dibanggakan sebagai sebab, alasan, causa dari semua kesuksesan orang lain. Ini menjadi semakin aneh manakala kita terlampau percaya diri bahwa tanpa kita tampaknya orang lain tidak bisa menjadi lebih baik.

Virus ini sering kali menyerang para pemimpin kita di setiap lapisan dan bentuk, entah pemimpin religius, sosial, politik pun tokoh-tokoh masyarakat dan adat. Maka tak jarang, ada pemimpin ingin betah pada status quo karena dirasuki oleh corak pola pikir egosentris demikian. Panggilan Yesus bagi para murid-Nya ialah panggilan untuk keluar dari egosentrisme.

Kedua, transformasi radikal. Revolusi mental dan struktural telah menjadi orientasi panggilan Yesus. Masuk dalam Kerajaan Allah berarti masuk dalam cara berpikir dan bertindak yang sepadan dengan-Nya. Ini tuntutan radikal yang tidak mudah. Yesus memanggil para murid-Nya dan mengubah secara radikal hidup dan orientasi mereka dari penjala ikan menjadi ‘penjala manusia’. Di sini saya merekam suatu perubahan visi kehidupan dari yang berorientasi pada hasil (ikan) kepada visi pemberdayaan (manusia).

Tampaknya, manusia tidak bisa hanya dikenyangkan oleh makanan jasmani (ikan) saja tapi juga yang jauh lebih penting ialah bagaimana pengalaman konkret menghantar orang untuk sampai menemukan kasih Allah. Orang harus mengubah pola pikir yang selalu berorientasi pada diri sendiri kepada suatu visi perberdayaan komunitas. Untuk itulah Yesus membentuk paguyuban para murid supaya mengambil bagian pada visi pemberdayaan itu. Maka tentu penting kekuatan atau gerakan bersama untuk mengubah mental, perilaku dan mindset serta struktur penunjang yang terlampau ingat diri. Persekutuan para murid pertama itu menjadi model paguyuban cinta kasih yang sarat dengan visi kemanusiaan.

Kita ingat, para murid itu kemudiaan diberikan kuasa dan diutus untuk mewartakan Kerajaan Allah, menyembuhkan yang sakit, membebaskan yang tertawan dan menunjukkan jalan pengharapan bagi yang putus asa. Itu berarti, panggilan kemuridan hendaknya diarahkan kepada misi kemanusiaan itu. Ia melampaui setiap sekat-sekat sosial, agama, etnik dan teritorial. Karena itu, misi Yesus selalu berarti ‘meninggalkan’: meninggalkan kepentingan dan kemapanan diri sendiri, menerobos tembok egoisme agar bisa menjumpai yang lain. Para murid yang sedang asyik dengan pekerjaannya sebagai penjala ikan kemudiaan meninggalkan segala sesuatu – mungkin juga yang menjadi kesenangan mereka selain keluarga dan harta benda – untuk mengikuti Yesus secara penuh dan sukarela.

Untuk masuk dalam cara berpikir dan bertindak demikian, pada zaman ini kita berhadapan dengan gelombang individualisme dan kapitalisme yang dibangun dalam jaringan struktur yang begitu kuat. Dengan kata lain, tidak mudah untuk mengubah mental dan struktur pada saat ini manakala pribadi-individu sangat diagungkan dan ketika kejahatan menjadi muatan dari struktur sosial, politik dan ekonomi global. Untuk itu, kita membutuhkan suatu gerakan kemanusiaan bersama yang bervisi liberatif.*** (Flores Pos, Sabtu, 24 Januari 2014)

Advertisements

About Avent Saur

Lahir 27 Januari 1982 di kampung Weto, Kecamatan Welak, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Bulan kelahiran ini masih diragukan, karena Mama saya bilang saya dilahirkan pada bulan usai panen jagung dan padi. Yah... sekitar bulan Juli. Di akte kelahiran dan surat baptis (agama Katolik), 27 Juli 1982.Studi filsafat dan teologi pada Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero, Maumere, Flores, NTT. Pernah menjadi wartawan pada majalah bulanan KUNANG-KUNANG (2008-2009). Sekarang, tinggal di Ende, "bantu-bantu" di harian umum Flores Pos. Blog ini dibuat, sejak 20 April 2013.
This entry was posted in RENUNGAN and tagged , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s