Tuhan bagi Tadeus

T6

  • Kolom Kutak-Kutik Flores Pos

Oleh Avent Saur

Menemukan orang dengan gangguan jiwa (gila) di kota Ende, tidaklah sulit. Di pasar Mbongawani, mereka ada. Di pasar Senggol (Potulando) dan Wolowona, mereka ada. Di beberapa titik jalan dalam kota, mereka juga ada. Bahkan di beberapa lorong kecil dan jalan luar kota, mereka ada. Di rumah-rumah pribadi, lebih banyak lagi.

Pada Rabu (28/1) siang, salah satu di antara mereka, duduk dan berjalan merangkak agak setengah mati di pinggir Jalan Sam Ratulangi, Woloweku, Ende. Dengan kepala menunduk, kedua tangan yang jari-jarinya sudah kaku dan tidak bisa merentang lagi, menjangkau beberapa lembaran uang yang dijatuhkan pengendara motor dan mobil. Saku baju kaos berkerahnya yang kotor dan lusuh itu sudah mulai dipenuhi lembaran uang. Entah jumlahnya banyak atau sedikit, entah nilainya besar atau kecil, tidak diperhatikannya; soalnya, volume saku itu kecil, dan uang-uang itu disimpan tak karuan.

Tepat di sisinya, saya juga melintas sepulang memberikan input perihal etika kristiani kepada para postulan di Biara Kongregasi Wajah Kudus Ndona. Sejenak, saya terhenti, tapi sama sekali bukan terusik untuk memberikan selembar uang 2000 rupiah, melainkan kelucuan aksinya mengundang senyuman. Ia pun dipotret dengan Sony (pemberian orang) yang biasanya selalu menggantung di leher jika saya meninggalkan rumah.

Selain menjangkau lembaran-lembaran uang, ia juga menarik beberapa sampah: kain, bungkusan rokok dan sabun serta plastik kotor.

“Mungkin ia menyangka ada uang di balik sampah-sampah itu. Ia pengemis?” gumam saya dalam hati, sambil tersenyum. Beberapa pengendara pun ikut terhenti. Tak sabar, saya coba mendekatinya, sambil berharap, ia tidak memprotes (merontak).

***

“Orang tua, selamat siang.” Ia sontak membelalak. “Buat apa di sini?”

“Saya jalan-jalan.”

“Tapi kok berjalan merangkak? Supaya orang berikan uang?”

“Oh, tidak. Bukan uang. Saya tidak bisa berjalan berdiri. Lihat saja tangan saya, kaku dan tidak bisa merentang lurus. Lihat juga kaki, pergelangan lutut tidak bisa merentang lurus. Saya sakit sejak belasan tahun lalu. Orang bilang saya gila, lalu mereka memasung. Mereka ikat kedua tangan saya, juga kaki. Akhir tahun 2013 lalu, saya dilepaskan. Tapi tangan dan kaki sudah begini, tidak bisa baik lagi.”

“Orang tua punya rumah di mana?”

“Itu di lereng bukit, tidak jauh dari sini. Mau lihat saya punya rumah? Istri saya sudah meninggal beberapa tahun lalu. Dua anak, tadi sudah keluar rumah, entah ke mana.”

“Sudah tahu kondisi seperti ini, tapi orang tua nekat jalan-jalan. Sebaiknya, orang tua tinggal saja di rumah, sambil mengurusi tangan dan kaki. Mungkin anak-anak bisa mengompres atau mengurut, mungkin akan membaik toh.”

“Saya sudah bosan di rumah. Saya mau jalan-jalan sedikit. Tapi kamu siapa?”

“Pastor! Pater Avent Saur SVD.”

“Aduh…. Pater, minta maaf. Tolonglah saya. Normalkan jari-jari dan kedua kaki saya. Nama saya Tadeus Sida, dipanggil Deus, usia 53. Dulu saya kerja di DAMRI, tapi karena sakit, maka tidak bekerja lagi. Kasihan betul saya ini, Pater. Hidup saya sudah jadi begini.”

“Saya tidak bisa lakukan itu, orang tua. Kalau dulu Yesus bisa sembuhkan orang gila, termasuk jari tangan dan kaki seperti ini, maka pastor, suster, bruder, uskup bahkan paus yang kita sebut bapa suci itu tidak bisa lakukan itu. Apalagi saya pastor kecil seperti ini.”

“Lalu saya nanti begini terus?”

“Entahlah, orang tua. Saya coba bantu dengan beberapa hal. Pertama, anak-anak di rumah akan mengompres dan mengurut tangan dan kaki bapa. Mungkin akan pulih. Kedua, saya coba temui pihak dinas sosial, mungkin mereka bisa bantu untuk menghantar bapa ke tempat rehabilitasi jiwa. Orang tua kan gila, itu berarti sakit jiwa. Semoga berjalan lancar.”

“Pater, saya minta kontas (rosario).”

“Saya tidak punya rosario, orang tua. Lihat saja, saya tidak pakai rosario. Tapi saya berdoa rosario. Kalau ada anak muda yang menggantungkan rosarionya di leher, minta saja pada mereka yah. Sebelum orang tua peroleh rosario, mulai saja berdoa rosario.”

“Ok, baik kalau begitu.”

Yuk, orang tua berdiri, berjalan menuju rumah.”

Beberapa di antara kami, coba membantu Tadeus berdiri. Susah memang, tapi sedikit bisa, sekalipun dengan lutut menekuk. Tadeus berjalan, dan bertahan hanya sampai sekitar lima meter, lalu berhenti, lalu berjalan lagi, berhenti lagi, berjalan lagi hingga sampai di rumah.

Dalam perjalanan menuju rumah itu, saya mencobai dia. “Orang tua sakit, saya dan orang-orang menonton ini sehat. Bupati berjalan pakai mobil dinas, anda berjalan kaki tanpa sandal. Bupati pakai baju dinas, anda pakai celana lusuh. Bupati tinggal di rumah negara, anda tinggal di rumah usang. Bupati terima gaji, anda terima uang di jalan. Tuhan sungguh tidak adil, bukan?”

“Tidak, Pater. Tuhan itu adil. Tuhan berikan napas yang sama, kepada saya dan kepada orang sehat. Beruntung, saya masih hidup sampai sekarang, sekalipun sakit.”

***

Itulah keadilan bagi Tadeus. Itulah Tuhan bagi Tadeus. Suatu keyakinan dan konsep ketuhananan serta konsep keadilan yang keluar dari hati, pikiran dan mulut seorang yang seringkali secara total tidak diperhitungkan oleh banyak orang.

Baginya, yang terpenting, adalah napas, bukan rezeki dalam usaha, juga bukan makanan dan uang atau jabatan, sekalipun ia menghirup dan mengembuskan napas itu dalam keadaan sakit.

Dan kita? Napas yang dalamnya ada karya Tuhan, seringkali kita gunakan secara salah. Dalam keadaan sehat, kita menodai imamat (umum atau khusus) dan mencederai kaul-kaul kebiaraan. Dalam keadaan sehat, kita mengingkari sumpah jabatan, mengambil hak milik rakyat dan mempermiskin orang yang sudah miskin. Dalam keadaan sehat, kita menodai janji-janji perkawinan, menyepelekan petuahan-petuahan orang bijak (kearifan lokal) dan mengotori diri dan tubuh dengan nafsu-nafsu tak teratur. Demikian juga, dalam keadaan sehat, kita selalu ingin cari untung dengan cara-cara kurang sedap.

Kalau dilitanikan terus, akan ada banyak kepingan soal yang mesti ditata ulang, dan kita sendiri tahu, semuanya tidak akan tertata tuntas. Ujaran Tadeus tadi, kiranya menyadarkan kita akan apa yang masih menjadi “pekerjaan rumah” kita.*** (Flores Pos, Jumat, 30 Januari 2015)

Advertisements

About Avent Saur

Lahir 27 Januari 1982 di kampung Weto, Kecamatan Welak, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Bulan kelahiran ini masih diragukan, karena Mama saya bilang saya dilahirkan pada bulan usai panen jagung dan padi. Yah... sekitar bulan Juli. Di akte kelahiran dan surat baptis (agama Katolik), 27 Juli 1982.Studi filsafat dan teologi pada Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero, Maumere, Flores, NTT. Pernah menjadi wartawan pada majalah bulanan KUNANG-KUNANG (2008-2009). Sekarang, tinggal di Ende, "bantu-bantu" di harian umum Flores Pos. Blog ini dibuat, sejak 20 April 2013.
This entry was posted in FEATURE and tagged , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s