Politisi Santun Menghadap Tuhan

Justin

Almarhum Lambertus Bruno Demon (kiri) dan Justin L. Wejak berpose beberapa waktu silam, saat Justin berlibur di Lembata.

  • Mengenang Lambertus Bruno Demon

Oleh Justin L. Wejak

Menulis

Justin L. Wejak, Dosen Kajian Indonesia di The University of Melbourne, Australia

Lambertus Bruno Demon, anggota DPRD Lembata (2014-2019), dari Partai Hanura, meninggal dunia pada Selasa, 6 Januari 2015, di RSUD Lewoleba, Lembata, sekitar pukul 05:00 Wita. Menurut medis modern, ia meninggal akibat komplikasi lambung dan jantung. Dalam sistem kepercayaan magis lokal, kematian (khususnya kematian mendadak, apalagi dalam usia relatif muda) adalah produk dari sebuah kontes kekuatan gaib.

Putri sulung almarhum, Maya Wejak, pelajar SMU PGRI Lewoleba, sempat berkisah melalui telepon bahwa ayahnya jatuh di kamar mandi rumahnya di Lewoleba pada Senin, 5 Januari 2015 siang. Sorenya, ia dibawa ke RS Bukit Lewoleba, namun kemudian dirujuk ke RSUD Lewoleba petang yang sama. Malam itu, lanjut Maya, ayahnya sempat bangun dan duduk bersama keluarga yang menjaganya. Bahkan ia sempat berbicara sejenak dengan seorang koleganya dari peten ina (gedung dewan/DPRD) yang datang menjenguk. Kondisi ayahnya kelihatan mulai membaik malam itu. Namun, menjelang subuh, Selasa, 6 Januari 2015, sembari menggelengkan kepalanya ia menghembuskan napas terakhir.

Jenazah dikebumikan pada Rabu, 7 Januari 2015 di desa kelahirannya, Lewokukung, Baolangu, Lembata, lebih kurang 14 kilometer dari Lewoleba. Istrinya, Lina Wuwur, bersama empat anaknya (dua putri dan dua putra) kini harus menapaki hidup tanpa sang suami dan ayah yang mereka cintai.

Biodata Singkat

Almarhum Lambertus Bruno Demon lahir di Lewokukung pada 16 Maret 1962. Setelah tamat SMA PGRI Swastika Lewoleba, Lembata, pada tahun 1985, ia masuk Undana Kupang dan menyelesaikan Program D3 jurusan FKIP-PIPS Koperasi (1985-1988). Dari Kupang, ia kembali ke pulau kelahirannya, Lembata, dan sempat menjadi guru SMEA/SMK Kawula Karya, Lewoleba (1989-1993). Sebagai guru, ia dinilai berhasil mengajarkan mata pelajaran asuhannya. Ia pun dikenal sebagai guru yang keras terhadap peserta didik yang membolos atau terlambat masuk kelas.

Beberapa mantan siswanya mengakui sempat disiksa bahkan ditempeleng gara-gara terlambat. Baginya, soal disiplin belajar tak ada kompromi. Lucunya, salah seorang siswa yang ditempelengnya ternyata berstatus opu lake. Secara adat, ia terpaksa harus datang untuk meminta maaf kepada korban dan keluarga. Adat dan pedagogi adalah dua kutub yang bisa berseberangan. Tamparan pedagogis (mendidik) di sekolah mempunyai konsekensi adat. Insiden ini terkadang menjadi bahan guyonan yang menciptakan gelak tawa.

Keinginannya menjadi politisi desa terwujud ketika ia terpilih menjadi Kepala Desa Baolangu pada tahun 2000. Ia memangku jabatan ini hingga tahun 2013. Ia sempat pula dipercayakan menjadi Sekretaris Badan Koordinasi Antar-Desa/Kelurahan di Kecamatan Nubatukan (2008-2013). Dari rural politics, ia memasuki urban politics saat terpilih menjadi anggota DPRD Lembata periode 2014-2019. Politisi desa menjadi politisi kota. Namun bukan tanpa tantangan dan beban.

Tantangan dan Beban

Selama masa sosialisasi sebagai calon legislatif (Januari-April 2014), beliau banyak mengalami tantangan dan hujatan dari kubu lawan politik tertentu di Dapil 1 (Kecamatan Nubatukan, Ile Ape dan Ile Ape Timur). Macam-macam label negatif tentangnya sengaja diciptakan dan disebarkan untuk merusakkan kredibilitas dan integritas almarhum di mata publik.

Sebagai misal, ia dianggap sebagai “politisi kampung” yang tak bisa diharapkan di tingkat Kabupaten. Ia dianggap “miskin”, dan oleh karena itu, kesanggupannya untuk mengentas kemiskinan dalam masyarakat diragukan. Sekadar menyebut beberapa sebagai contoh untuk mengilustrasikan betapa ia dijelek-jelekkan demi suatu kepentingan jabatan politik semata. Ironisnya, terlepas dari banyak kecaman itu, almarhum justru terpilih, sementara oposannya lengser dari ambisi politiknya menjadi anggota dewan.

Tantangan tak selesai di masa pra pemilihan legislatif, 9 April 2014. Setelah terpilih, kubu lawan yang kalah masih mencoba melakukan perlawanan. Entahlah, oleh karena didikte rasa kecewa dan cemburu. Almarhum dilaporkan kepada kejaksaan Lewoleba atas tuduhan penyalahgunaan keuangan desa selama masa jabatannya sebagai Kades Baolangu (2000-2013).

Saverrapall Corvando (Kor Sakeng), Direktur Kelompok Aldiras, menulis dalam akun Facebook testimoninya tentang almarhum: “Di akhir hajat hidupnya, dirinya diterpa badai laporan atas sejumlah penyelewengan dana desa, tetapi ia begitu tegar dengan kerendahan hatinya menghadapi badai itu dan komit mengambil risiko walaupun penggunaan secara langsung tak pernah terintegrasi dalam dirinya,” (7 Januari 2015).

Beberapa aparat Desa Baolangu lantas dimintakan keterangan oleh pihak kejaksaan. Hasilnya, laporan tersebut tak bisa diperkarakan lantaran tak ditemukan bukti penyimpangan dana secara langsung oleh almarhum. Sebelum menjadi caleg, almarhum, seperti para caleg lain, sudah tuntas diperiksa dan dinyatakan “layak tarung” oleh KPUD.

Dalam beberapa percakapan saya dengan almarhum melalui telpon, jelas tampak kegelisahan dan kesakitan hatinya. Ia sering muram. Baginya, laporan penyalahgunaan dana desa sengaja dilakukan untuk melecehkan kredibilitas dan integritasnya. Ia merasa dihina dan difitnah.

Saya menduga laporan oknum tertentu (yang identitasnya sengaja dirahasiakan) ihwal dugaan penyalahgunaan dana Desa Baolangu merupakan beban paling berat di pundak almarhum dalam beberapa bulan terakhir pertualangan politiknya di peten ina. Mungkin beban inilah yang sempat ia sampaikan kepada anggota dewan yang menjenguknya malam sebelum ajal menjemputnya.

Kualitas Positif

Selama masa kepemimpinannya sebagai Kades Baolangu (2000-2013), ia dikenal kritis, cerdas, sederhana, rendah hati dan jujur. Bahkan dalam waktu yang relatif singkat di peten ina, ia sudah memberikan kesan positif yang kuat kepada para koleganya sebagai sosok yang rendah hati, dekat dengan masyarakat dan pencinta damai.

Ketua DPRD Lembata, Ferdinandus Koda, dalam sambutannya saat acara penerimaan jenazah di gedung dewan (peten ina), mengatakan: “Selama beberapa bulan kami sama-sama di DPRD ini, almarhum itu sangat cinta damai. Ia juga sangat mencintai rakyat, sehingga kepergiannya membuat kami sangat kehilangan. Kita memang mencintai Lamber, tapi Tuhan Lebih mencintainya,” (Poskupang.com, 7 Januari 2015).

Memang Tuhan sangat mencintainya. Dan ia pula sangat mencintai Tuhan yang ia imani. Seluruh hidup dan karyanya adalah doa yang ia persembahkan bagi masyarakat yang dilayaninya. Ia dikenal sebagai seorang pendoa khusuk. Seorang mantan camat sempat menyatakan, “Lamber itu tukang angkat doa setiap kali ada rapat”.

Kedekatannya pada Tuhan di mana Tuhan dijadikannya sumber inspirasi hidupnya diperlihatkan dalam pesan Natal dan Tahun Baru tertanggal 26 Desember 2014: “Semoga kesederhanaan Yesus Kristus dan kasih-Nya yang penuh ikhlas menjadi arah hidup kita”.

Saya melihat ini sebagai pesan terakhir almarhum. Pesan yang mencerminkan kesahajaan hidupnya terinsipirasi oleh kesederhanaan dan kasih Yesus Kristus bagi manusia.

Selamat jalan saudaraku dan sahabatku. Engkau ibarat, dalam ucapan puitis Yoseph Yapi Taum, “bunga yang layu sebelum mengembang”. Rest in peace (RIP).*** (Flores Pos, Rabu, 21 Januari 2015)

Advertisements

About Avent Saur

Lahir 27 Januari 1982 di kampung Weto, Kecamatan Welak, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Bulan kelahiran ini masih diragukan, karena Mama saya bilang saya dilahirkan pada bulan usai panen jagung dan padi. Yah... sekitar bulan Juli. Di akte kelahiran dan surat baptis (agama Katolik), 27 Juli 1982.Studi filsafat dan teologi pada Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero, Maumere, Flores, NTT. Pernah menjadi wartawan pada majalah bulanan KUNANG-KUNANG (2008-2009). Sekarang, tinggal di Ende, "bantu-bantu" di harian umum Flores Pos. Blog ini dibuat, sejak 20 April 2013.
This entry was posted in FEATURE and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s