Orang Gila dan Pastor yang Terlibat

DSC04185

Pater Avent serius mendengarkan orang dengan gangguan jiwa (gila) Tadeus Sida, di Jalan Sam Ratulangi, Woloweku, Ende, Rabu (28/1) siang.

  • Apresiasi atas Kepedulian Pater Avent Saur SVD

Oleh Dan Meni

Menulis

Dan Meni, Mahasiswa Pasca Sarjana STFK Ledalero, Tinggal di Ledalero

Belakangan ini, Pater Avent Saur SVD selalu menurunkan berita-berita seputar orang dengan gangguan jiwa (gila) yang sungguh menggugah hati kita. Berita-berita tersebut dimuat dalam media Flores Pos dan media sosial facebook atau mungkin juga beberapa media lain yang digunakan Pater Avent dalam proses pewartaannya sebagai seorang pastor/imam.

Hal yang menarik bagi saya adalah kerelaan dan kesetiaan Pater Avent untuk membantu saudara-saudari kita yang mengalami gangguan jiwa. Beberapa orang yang telah merasakan sentuhan tangan Pater Avent antara lain Anselmus Wara, Fabianus Bero, Yakobus Ari dan kini Remigius Puji, Tadeus Sida dan Eufromius Emilianus Sea. Pater Avent tidak hanya bertemu dan bercerita, tetapi juga memfasilitasi mereka untuk mendapatkan perhatian dari pemerintah dan Gereja.

Orang Gila dan Pater Avent

Pater Avent adalah rohaniwan-biarawan-misionaris Serikat Sabda Allah (SVD) yang sehari-hari berkarya sebagai editor, kolumnis dan wartawan pada Harian Umum Flores Pos. Sebagai seorang wartawan dan editor, pastor kelahiran Welak, Manggarai Barat ini tentu membutuhkan keheningan dan ketenangan untuk bisa melaksanakan tugas pewartaannya. Pater Avent tentu membutuhkan situasi kondusif untuk menelurkan ide-idenya yang kreatif, konstruktif dan inovatif.

Selain menjalani tugas harian tersebut, Pater Avent juga tidak menutup mata terhadap saudara-saudari yang gila. Jika kita mengikuti berita-berita yang dimuat di facebook, rasanya, Pater Avent begitu akrab dengan orang gila. Tak sedikit pun rasa takut yang terpancar dari wajahnya meskipun orang gila sering diidentikkan dengan kekerasan. Ada yang menyebutnya “pastor para orang gila”. Tentu hal ini tidak berlebihan karena setiap kali ada orang dengan gangguan jiwa, pasti saja keluarga dari orang gila atau pihak kepolisian mendekati Pater Avent.

Sentuhan kasih Pater Avent seolah-olah merupakan sentuhan Tuhan sendiri sehingga keakraban tampak seketika. Buktinya, orang dengan gangguan jiwa tersebut bersedia mengikuti anjuran Pater Avent untuk dibawa ke rumah sakit atau ke tempat lain untuk mendapatkan pertolongan.

Tidak hanya berhenti di situ. Pater Avent juga membangun relasi yang baik dengan pihak-pihak terkait guna mendapatkan dukungan finansial untuk membiayai perawatan baik dari pemerintah maupun pihak-pihak lain yang peduli. Dalam berbagai kesibukannya, ia menyediakan waktu khusus untuk mengunjungi mereka yang telah diantarnya ke rumah sakit. Karena usaha dan perjuangan ini, teman-teman Pater Avent dalam jejaring sosial facebook pun menilai bahwa Pater Avent memiliki kharisma khusus untuk menghadirkan Tuhan bagi orang gila. Bagi saya, Pater Avent adalah representasi Allah yang datang melawati umat-Nya yang menderita.

Kemanusiaan dan Keterlibatan

Setiap manusia dipanggil Allah dengan cara yang berbeda. Panggilan Allah bersifat pribadi karena manusia membangun relasi intens dengan Allah. Allah menghendaki sesuatu dari setiap orang, dan karena itu, Allah memberi pekerjaan tertentu kepada seseorang. Apa yang dilakukan Pater Avent adalah sebuah panggilan kemanusiaan. Allah, hemat saya, menggunakan tangan hamba-Nya Pater Avent untuk mendekati dan memberi perhatian kepada mereka yang menderita. Penderitaan sesama sudah menjadi bagian dari penderitaanya.

Hal yang terjadi saat ini, justru menampakkan kenyataan sebaliknya. Kita, pemerintah dan Gereja kurang bahkan tidak memberikan perhatian kepada orang gila. Anggota keluarga juga seolah-olah “lari” dari kenyataan tersebut. Orang gila seringkali dibiarkan berkeliaran tanpa sentuhan kasih. Kita tidak menjawab panggilan kemanusiaan kita. Kita seolah-olah lari dari tanggung jawab kita sebagai partner Allah, merusaki dan menodai relasi yang telah kita bangun dengan Allah secara pribadi.

Perjuangan Pater Avent sebetulnya merupakan perwujudan teologi terlibat. Ketika dimintai pendapatnya tentang perjuangannya tersebut beliau mengatakan bahwa roh yang menyemangati dan menguatkan perjuangannya adalah paham keberpihakan Gereja terhadap kaum kecil dan terpinggirkan yang didapatinya selama mengikuti Studi Teologi Jalur Magister Teologi Kontekstual STFK Ledalero Maumere. Bagi saya, Pater Avent melihat model keterlibatan Gereja terhadap kaum kecil dan terpinggirkan menyata dalam diri orang gila.

Baginya, “arti keterlibatan memang tidak diutarakan secara eksplisit. Yang tampak cuma mengatakan Allah menawarkan diri demi keselamatan adalah Allah yang terlibat, dan tanggapan terhadap tawaran keselamatan itu adalah iman yang terlibat. Itu berarti terlibat adalah menawarkan diri demi keselamatan. Bisa juga, berarti keselamatan. Allah yang menyelamatkan adalah Allah yang melibatkan diri.” Begitu tulisnya dalam pengantar tesis berjudul “Menyelisik Pemikiran Franz Magnis suseno tentang Keterlibatan Gereja dalam Kehidupan Bermasyarakat di Indonesia”.

Teologi terlibat sebenarnya bukan merupakan teologi baru. Teolog Paul Budi Kleden dalam bukunya “Teologi Terlibat. Politik dan Budaya dalam Terang Teologi” menegaskan bahwa “berteologi merupakan refleksi atas iman yang merupakan tanggapan manusia atas tawaran diri Allah demi keselamatan manusia. Di dalam definisi ini sudah terkandung keyakinan akan keterlibatan diri Allah. Allah yang menawarkan diri demi keselamatan manusia adalah Allah yang melibatkan diri dalam nasib dan sejarah manusia, Allah yang peduli akan manusia dan kehidupannya. Kalau demikian, tanggapan yang diberikan manusia kepada Alah yang demikian adalah tanggapan yang terlibat. Iman pada dasarnya berarti melibatkan diri dalam gerakan keterlibatan Allah. Iman adalah tanggapan yang terlibat”, tegas Kleden (Paulus Budi Kleden, 2003: viii). Dalam terang teologi keterlibatan inilah, Pater Avent terlibat dalam penderitaan orang gila.

Empat Nilai

Perjuangan Pater Avent menghadirkan empat nilai moral. Pertama, solidaritas. Orang mengalami kegilaan tentu bukan kemauan sendiri, melainkan gangguan yang dilatari oleh pelbagai persoalan pelik yang kadang sulit terurai. Karena itu, kita mesti mampu bersolider dengan keadaan mereka sejauh kemampuan kita.

Kedua, cinta kasih. Perhatian terhadap orang gila merupakan wujud cinta kasih kepada sesama baik yang sehat maupun sakit. Apa yang dialami oleh saudara Remigius Puji sungguh jauh dari nilai cinta kasih. Ia bukan dicintai, melainkan malah dibakar.

Ketiga, pelayanan. Usaha yang dilakukan Pater Avent merupakan pelayanan kemanusiaan yang luar biasa. Pater Avent ingin mengajak sekaligus menyadarkan kita bahwa pelayanan merupakan tanggung jawab semua orang. Dalam melayani, kita hendaknya tidak membuat pembedaan antara yang sehat dan sakit.

Keempat, terlibat. Keterlibatan Pater Avent kepada orang terpinggirkan kiranya mendorong kita untuk terlibat. Seorang beriman semestinya turun dari singgasana ideologi, dan berani terlibat.

Pater Avent, kami patut mengapresiasi perjuanganmu untuk merangkul dan membantu saudara-saudari kita yang mengalami gangguan jiwa. Terima kasih karena telah membantu kami untuk berefleksi tentang iman yang harus melibatkan diri secara nyata dan tampak. Semoga apa yang telah Pater mulai, memacu kami untuk memperhatikan sesama di sekeliling kami yang membutuhkan pertolongan kami. Kiranya kami bukan hanya mampu berteologi melainkan juga melibatkan diri. Selamat melanjutkan karya muliamu.*** (Flores Pos, Senin, 2 Februari 2015)

Advertisements

About Avent Saur

Lahir 27 Januari 1982 di kampung Weto, Kecamatan Welak, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Bulan kelahiran ini masih diragukan, karena Mama saya bilang saya dilahirkan pada bulan usai panen jagung dan padi. Yah... sekitar bulan Juli. Di akte kelahiran dan surat baptis (agama Katolik), 27 Juli 1982.Studi filsafat dan teologi pada Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero, Maumere, Flores, NTT. Pernah menjadi wartawan pada majalah bulanan KUNANG-KUNANG (2008-2009). Sekarang, tinggal di Ende, "bantu-bantu" di harian umum Flores Pos. Blog ini dibuat, sejak 20 April 2013.
This entry was posted in FEATURE and tagged , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s