Mengapa Perlu Janji?

Oleh John Mansford Prior

John Mansford Prior

John Mansford Prior, Dosen STFK Ledalero, Staf Pusat Penelitian (Puslit) Candraditya, Wairklau, Maumere

Dua minggu lalu, tepatnya pada tanggal 3 November, saya celaka sepeda ketika mendayung dari arah Geliting (arah timur kota Maumere). Entah apa yang terjadi, ditabrak atau jatuh begitu saja, saya tidak ingat sama sekali. Ketika sudah sadar, saya sudah ditempatkan di belakang sebuah pick-up dan diantar ke RS Kewapantai (Kewapante). Akan tetapi dokter di Kewapantai menyuruh kami ke RSUD Maumere “di mana ada dokter spesialis”. Orang Samaria yang baik hati itu mengantar lagi saya (bersama sepeda dan ransel) dengan pick-up-nya ke Maumere. Kami tiba di RSUD sekitar pukul 16.00 Wita. Selama lima jam, yaitu hingga pukul 21.25 malam, saya bersama rekan-rekan pastor dari Puslit Candraditya dan Seminari Tinggi Ledalero menantikan pelayanan medis di UGD. Nona Getrudis, karyawati di Puslit Candraditya, mesti tolong membersihkan muka saya yang berlumuran darah.

Dokter Kepala RSUD dipanggil oleh seorang rekan pastor. Beliau datang dan kemudian memanggil dokter lain untuk melayani saya. Dokter yang dipanggil itu datang dan coba menghubungi perawat yang sudah kembali ke rumah. “Mereka akan makan dulu baru datang membantu.” Ketika berbagai petugas dan orang-orang yang mengenal para perawat itu coba mengontak lagi perawat-perawat itu, telepon tidak tersambung. Tak bisa dihubungi. Mendengar bahwa saya mendapat celaka sepeda, UGD menjadi semakin ramai. Rekan-rekan pastor dari Seminari Tinggi St. Paulus Ledalero dan beberapa orang umat/kenalan dari kota, datang mengunjungi saya.

Satu-satunya pelayanan yang saya terima selama lima jam itu adalah dari petugas rontgen; ternyata persendian bahu kanan saya mengalami dislokasi – tulang sudah keluar dari tempurungnya. Itulah sumber rasa sakit yang sangat mengerikan. Makin lama, makin saya mengeluh kesakitan. Akhirnya, rekan-rekan saya dari Puslit Candraditya memanggil ambulans dari RS Kewapantai, dan saya diantar dengan amat pelan ke RS Lela. Ketika kami tiba di Lela, sudah larut malam, pukul 22.30 lewat, akan tetapi semua petugas siap di tempat.

Beberapa menit kemudian baru Dokter Aliandoe tiba dari Larantuka. Dokter yang berumur 75 tahun itu menarik kembali tulangku ke tempurungnya. Setelah menderita selama enam jam, ternyata hanya perlu dua-tiga menit untuk mengembalikan tulang ke posisi sebenarnya. Sebetulnya, seorang dukun di kampung bisa berbuat demikian.

Membaca tulisan Jumal Hauteas timbul dua pertanyaan di benak saya. Pertama, apa saya lagi mengalami “perlakuan biasa” dari RSUD TC Hillers Maumere? Kalau saya seorang pastor yang sesekali masuk-keluar RSUD TC Hillers dalam pelayanan pastoral – rekan-rekanku di Puslit Candraditya lebih sering lagi melayani RSUD TC dengan perayaan sakramen orang sakit dan lokakarya – yang cukup dikenal diperlakukan demikian, bagaimana perlakuan para dokter dan perawat terhadap pasien-pasien yang tidak mereka kenal? Di negara lain yang pelayanan publiknya profesional, saya bisa menuntut rumah sakit agar mereka membayar kompensasi besar-besaran. Juga, sangat boleh jadi diadakan investigasi independen, dan mereka yang melalaikan tugasnya diturunkan pangkatnya atau malah dipecat tanpa hormat.

Saya membaca di koran bahwa RSUD TC Hillers Maumere menjadi suatu rumah sakit rujukan. Saya tidak bisa membayangkan penderitaan yang harus ditanggung kalau terjadi bahwa ada orang yang sakit parah atau mendapat kecelakaan berat dibawa dari jauh, semisal dari Ende atau Larantuka, mendapat perlakuan buruk dan dilalaikan seperti yang saya alami atau malah lebih buruk dari itu.

Pertanyaan saya, kedua, dengan meminjam bahasa Jumal Hauteas, “Lalu kenapa janji untuk menjalankan tugas sebagai pelayan publik di RSUD Maumere?” Jika sebuah sumpah menjadi pedoman hidup selanjutnya, sifatnya sungguh mulia, sedangkan sebuah janji kosong berarti dosa bertambah berat. Yesus bersabda: “Aku berkata kepadamu: Janganlah sekali-kali bersumpah… Jika ya, hendaklah kamu katakan: ya; jika tidak, hendaklah kamu katakan: tidak. Apa yang lebih dari pada itu berasal dari si jahat” (Mat 5: 34, 37).

Melalui dua rekan pastor di Puslit Candraditya, Kepala RSUD Maumere mengirim pesan pendek minta maaf atas kelalaian di UGD itu. Tentu saja, di samping janji yang direkam oleh Jumal Hauteas itu, kiranya seluruh staf RSUD TC Hillers Maumere juga rela dan dengan ikhlas meminta maaf kepada segenap pasien yang mungkin saja dilalaikan selama ini.*** (Pos Kupang, Rabu, 18 November 2009)

About Avent Saur

Lahir 27 Januari 1982 di kampung Weto, Kecamatan Welak, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Bulan kelahiran ini masih diragukan, karena Mama saya bilang saya dilahirkan pada bulan usai panen jagung dan padi. Yah... sekitar bulan Juli. Di akte kelahiran dan surat baptis (agama Katolik), 27 Juli 1982.Studi filsafat dan teologi pada Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero, Maumere, Flores, NTT. Pernah menjadi wartawan pada majalah bulanan KUNANG-KUNANG (2008-2009). Sekarang, tinggal di Ende, "bantu-bantu" di harian umum Flores Pos. Blog ini dibuat, sejak 20 April 2013.
This entry was posted in OPINI and tagged , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s