Tolak Tunduk: Harga Sebuah Nurani

Oleh John Mansford Prior

John Mansford Prior

John Mansford Prior, Dosen STFK Ledalero, Maumere, dan Mantan Pastor Thomas Morus (1974-1981)

Rumahnya di Kota London megah, tamannya luas, tamunya terdiri dari orang-orang kenamaan abad ke-16: pelukis, cendekiawan, malah Raja Henry, kepala negara sendiri. Orangnya tahu menikmati harta, status dan hidup dan bergaul dengan sangat luwes. Anak-anak, anak mantu, para pekerja dan pengurus rumah tangga ramai mengobrol bersama kerabat dan sahabat, dan sering memainkan alat-alat musik bersama. Jelas, dia tidak ada panggilan untuk hidup wadat; tidak sampai sebulan setelah istrinya Jane Colt meninggal, ia sudah menikah lagi dengan kenalan lama, Alice Middleton. Ditilik dari sisi mana pun, Thomas Morus adalah manusia yang beruntung, sukses dan amat bahagia.

Thomas tidak membatasi diri pada lingkungan cendekiawan dan keluarganya saja. Dia tidak juga tinggal dalam sebuah menara ilmu di perpustakaan pribadi atau duduk saja di depan meja tulis. Thomas berpraktik sebagai seorang pengacara, dan terkenal mudah memecahkan perkara (dan juga lincah meluputkan diri dari perkara!).

Lebih penting lagi, ia termasuk salah satu dari sedikit pengacara zaman itu yang tidak pernah menerima suap. Keluarga Thomas tidak memperoleh keuntungan dalam bentuk apa pun dari jabatan-jabatan yang dipegangnya. Anak mantunya, William Daunce, suami putri Elizabeth, pernah mengeluh karena tidak mendapat perhatian khusus. Morus sendiri menandaskan: “Anakku, sungguh, jika aku harus mengadili sebuah perkara dan pihak pertama adalah ayahandaku dan pihak kedua adalah iblis, dan ternyata iblis berada pada pihak yang benar, maka keputusanku harus membenarkan si iblis.”

Thomas Morus tidak membatasi ruang publiknya pada profesi membela warga; pada tahun 1510, pada umur 32 tahun, ia diangkat sebagai Wakil Ketua Pengadilan London dari posisi mana ia terjun ke medan politik.

Karena cakap, lincah, penuh humor dan tahu menjaga relasi dengan semua pihak, termasuk dengan kalangan istana dan Raja Henry sendiri, sejak 1517 Thomas Morus diangkat menjadi anggota Dewan Penasihat Raja, kemudian Ketua Parliamen (1523), dan selanjutnya, Perdana Menteri (chancellor), orang kedua dalam kerajaan (1529-1532). Dari kalangan pakar hukum yang korup, dari kaum politisi-penjilat, boleh kita harapkan sesosok manusia yang tetap tulus dan prinsipil, yang prihatin lagi saleh, seperti Thomas?

Thomas Morus

Sesungguhnya, Thomas adalah manusia penuh paradoks. Ia menikmati keenakan hidup dan kehormatan jabatan, namun memasang sehelai baju dari kain kasar/karung di bawah pakaian kebesarannya agar senantiasa teringat bahwa segala sesuatu adalah “sia-sia belaka dan usaha menjaring angin” (Pkh 4:16). Keluarga besarnya tidak pernah dikorbankannya karena kesibukannya di ruang publik, namun ia mengorbankannya demi mematuhi suara hati.

Ia bersahabat dengan setiap orang dan suka keramaian, namun pada akhir hayatnya tinggal seorang diri, sendirian, sendiri di ruang hati, petak yang paling bermakna. Sebagai anggota gerakan humanis Kristen, Thomas mengarang buku-buku sastra, dan sebagai tahanan negara, ia menulis refleksi rohani dari lubuk hatinya yang paling dalam. Namun sebagai pembela kesatuan Gereja, ia menulis secara amat kasar dan penuh sinisme ketika melihat dunia yang ia cintai, dunia yang dipersatukan oleh Gereja universal, sedang dirongrong oleh ajaran-ajaran lain.

Seusai studinya di bidang bahasa klasik, hukum dan teologi di Universitas Oxford (1499-1501), Thomas bermagang sebagai seorang pengacara, dan selama empat tahun (1501-1505) menginap dalam sebuah biara di London. Di situ, ia belajar hidup berdisiplin, malah bertindak keras dengan dirinya sendiri sambil berdoa dan bermatiraga. Thomas tidak pernah menjadi calon biarawan. Boleh jadi, ia pernah berpikir untuk ditahbiskan, namun pada tahun 1505, ia pindah dari tempat penginapannya di biara dan dua tahun kemudian menikahi Jane Colt.

Thomas menikmati hidup dalam segala kemurahannya. Namun dalam dirinya, ia menemukan satu ruang yang memberi makna pada keseluruhannya: suara hati. Kesalehan Thomas terlihat dalam upaya terus-menerus untuk mencari kehendak Allah dengan mempelajari setiap pilihan yang ia hadapi. Ia mengambil sikap dengan sadar berdasarkan ratio yang diilhami iman. Kontroversi tentang sah-tidaknya perkawinan Raja Henry memicu satu proses studi hukum dan teologi selama tujuh tahun lebih; sebuah proses yang memungkinkan Thomas mengambil sikap yang jelas sesuai dengan pemahamannya tentang ajaran Gereja, sikap yang, menurut dia, tidak bertentangan dengan hukum negara.

Bagi Thomas, tidak ada jurang pemisah antara iman yang ia hayati dan ilmu yang ia tekuni, antara kesalehan dan nalar, antara gagasan untuk membarui dunia (utopia) dan devosinya pada Gereja konvensional. Karena proses studi diiringi dengan doa, maka ia berani menanggung segala akibat yang harus ia pikul: dijauhkan dari kehidupan yang lumayan mewah, diasingkan dari kerabat-sahabatnya, dipisahkan dari istri dan anak-anak kesayangannya, dan dibuang ke dalam sel penjara Tower of London. Hal yang lebih menyakitkan ialah pencemaran nama baiknya dan terlantarnya keluarganya. Ketika Thomas terkurung dalam penjara, istrinya, Alice Middleton, menantang dia: “Apakah hati nuranimu lebih berharga daripada kasih sayang seorang suami?”

Thomas hidup menurut prinsip yang jelas, prinsip yang dipahaminya berkat studi. Karena itu, ketika harus mengambil sikap, ia berpendirian dengan tenang, tegas dan tanpa kehilangan rasa humornya. Ketika seluruh parliamen tunduk, Thomas tolak tunduk. Ketika Konferensi Waligereja Canterbury dan York menyerah, kecuali seorang uskup lansia yang nyaris buta, yakni John Fisher, Thomas tolak menyerah. Ketika negaranya bergolak, Thomas tolak membelok. Ketika kepala negara main kuasa sewenang-wenangnya, Thomas mematuhi setiap peraturan, hukum dan undang-undang secara bebas dan konsekuen. Ketika sistem pengadilan Inggris diracuni korupsi, Thomas memilih hidup jujur. Ketika para politisi hidup untuk dirinya sendiri, dan kepala negara mengutamakan stabilitas nasional di atas segala pertimbangan lain, Thomas memilih hidup bagi kebenaran yang melampaui kepentingan keluarga dan negara. Ketika tokoh-tokoh suka menonjolkan diri sebagai pahlawan, Thomas berupaya semaksimal mungkin untuk meluputkan diri dari panggung kemartiran. Malah, ketika dibujuk oleh istri serta putri kesayangannya untuk menyesuaikan diri sama seperti hampir semua warga negara yang lain, Thomas berdiri sebatang kara. Ia memilih berdiam diri dan tidak melawan, tetapi tidak menyokong juga.

Dan kehadiran seorang mantan pejabat yang terkenal jujur, lurus, kredibel, kendati pun sudah mengasingkan diri jauh dari khalayak ramai, “saksi bisu” ini lebih menggoncangkan ketenangan Raja Henry serta antek-anteknya daripada seandainya ia melawan Raja secara terbuka dan blak-blakan. Maka, pada tahun 1533, sebuah undang-undang baru disahkan parliamen: setiap warga harus bersumpah dan mengakui raja selaku Kepala Negara. Tanpa memberi tahu alasannya, Thomas, satu dari segelintir warga, tolak bersumpah. Orang-orang ‘bijak’ menyesuaikan diri dengan kehendak penguasa sambil berpikir: mau apa melawan? Pikir mereka: nanti Henry VIII meninggal dan Gereja dapat pulang pada posisinya semula.

Thomas dipenjarakan selama 15 bulan. Terus-menerus ia dibujuk agar menyerah dan bersumpah sama seperti istri dan anak-anaknya. Thomas menolak; akibatnya, ia diadili pada bulan Mei-Juli 1535. Tetap lincah sebagai seorang pakar hukum, Thomas meluputkan diri dari setiap tuduhan sehingga Richard Rich harus disogok (dengan jabatan) untuk menjadi saksi palsu. Berkat fitnahnya, Thomas dijatuhkan hukuman mati sebagai seorang pengkhianat negara. Pada tanggal 6 Juli 1535, kepalanya dipenggal di bukit Tyburn.

Thomas berdiri sendiri, sebatang kara. Tidak ada seorang pun dari keluarganya yang bisa memahami keputusannya untuk menolak “loyalitas tunggal” yang ditetapkan pemerintahan Henry VIII. Bagi Raja Henry, Thomas adalah seorang pengkhianat negara, bagi Ketua Majelis Tinggi “keledai yang tolol”, bagi rekan-rekan pengacara, “orang angkuh tanpa bandingan”, bagi kenalan-sahabat dan keluarganya sendiri, sebuah teka-teki. Untuk apa ia harus meninggal? Kita juga bertanya: berapa harga sebuah nurani?

Thomas Morus adalah manusia yang sungguh utuh-merdeka. Ia meninggalkan teladan hidup yang utuh-integral, tulus-lugu, tegas-konsekuen, dan karena itu, dijuluki oleh rekan budayawan dan kawan akrabnya, Erasmus, sebagai omnium horarum homo – “manusia bagi segala zaman”. Dari panggung eksekusi, ia mengucapkan kata-katanya yang terakhir: “Aku mati tetap sebagai abdi raja yang setia, tetapi di atas segala-galanya, aku adalah abdi Allah.”

Proficat untuk segenap warga Paroki Thomas Morus, Maumere, yang tahun depan merayakan Pesta Pancawindunya (1971-2011). Proficiat pula bagi tokoh-tokoh paroki yang pada 1971 berani memilih Thomas sebagai pelindung umatnya.*** (Pos Kupang, 22 Juni 2010)

Advertisements

About Avent Saur

Lahir 27 Januari 1982 di kampung Weto, Kecamatan Welak, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Bulan kelahiran ini masih diragukan, karena Mama saya bilang saya dilahirkan pada bulan usai panen jagung dan padi. Yah... sekitar bulan Juli. Di akte kelahiran dan surat baptis (agama Katolik), 27 Juli 1982.Studi filsafat dan teologi pada Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero, Maumere, Flores, NTT. Pernah menjadi wartawan pada majalah bulanan KUNANG-KUNANG (2008-2009). Sekarang, tinggal di Ende, "bantu-bantu" di harian umum Flores Pos. Blog ini dibuat, sejak 20 April 2013.
This entry was posted in OPINI and tagged , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s