Sebulan Dirawat, Remigius Semakin Membaik

DSC04273

Bruder Anis SVD dan Remigius

  • Orang Gila Korban Luka Bakar
  • Banyak Kekurangan di Rumah Sakit

Oleh Avent Saur

Ende, Flores Pos – Kondisi korban luka bakar Remigius Puji (40-an), orang dengan gangguan jiwa (gila) yang dibakar tersangka Faisal Abubakar (21), pada Kamis (1/1), semakin membaik setelah dirawat di RSUD Ende. Disaksikan Flores Pos di ruang Sakura, pada Senin (2/2) siang, sebagian besar luka pada sekujur tubuh Remigius sudah mengering dan kulit-kulit bekas luka tampak terkelupas.

Bagian muka seperti dahi, hidung, bibir, alis mata yang dulu dipenuhi luka, sekarang sudah sembuh. Demikian juga pada bagian belakang seperti tengkuk sampai mendekati pinggang yang dulu dipenuhi luka mengerikan, sekarang tampak hanya bekas-bekas. Luka-luka pada bagian perut dan dada, juga tangan kanan sudah sembuh, dan tampak mulus memerah dan menghitam.

Namun Remi tetap menjalani perawatan karena kondisinya belum pulih sepenuhnya, dan tidak semua luka-luka itu sembuh. Disaksikan Flores Pos, luka-luka pada pipi kiri, pohon telinga dan telinga, di tengkuk, lengan kiri, pundak kiri dan dada kiri serta leher dan dagu, masih dibalut dengan kain kasa dan tampak mengeluarkan nanah-nanah. Karena luka-luka ini, Remi belum bisa memutarkan badan sendiri, dan belum bisa merebahkan tubuhnya sendiri ketika hendak tidur, serta belum bisa bangun sendiri jika sudah dalam posisi baring.

Tetap Rawat

Direktris RSUD Ende, dokter Nely Pani mengatakan, pada awal dimasukkan ke rumah sakit, Remi sendiri tidak mau dirawat. Ini yang menyebabkan perawat sulit memberikan pelayanan.

“Perawat hendak pasang infus, ia tidak mau. Namun setelah para relawan datang membujuk, baru Remi mau dirawat dan dipasangkan infus. Saya patut mengucapkan terima kasih kepada para relawan yang peduli memperhatikannya sehingga kondisinya sekarang bisa lebih baik. Pihak rumah sakit akan tetap merawatnya sampai sembuh,” kata dokter Nely.

Menurut dokter Nely, biaya perawatan Remi ditanggung Jamkesda, dan urusan Jamkesda dilakukan dengan berkoordinasi dengan dinas sosial. Tapi tetap saja ada obat-obat tertentu yang tidak tercakup dalam Jamkesda, dan obat-obat itu yang bisa dibeli di apotek di luar rumah sakit. Dokter Nely menyatakan permintaan maaf kepada Remi dan relawan atas kinerja perawat yang kadang kurang memperhatikan Remi.

“Kadang petugas memperlakukan Remi seperti pasien lain, padahal Remi itu pasien khusus yang perlu diperhatikan secara khusus. Misalnya, makanan tidak cuma diantar ke kamarnya, melainkan harus memberikan langsung kepadanya. Sebagai pengelola, kami juga akan memperhatikan pelbagai fasilitas yang masih kurang dan akan melakukan pembenahan seperlunya,” ujarnya.

Terima Kasih dan Kritik

Anggota DPRD Ende Maxi Deki, yang setiap hari mengunjungi Remi, menyampaikan ucapan terima kasih kepada dokter dan para perawat yang telah memperhatikan Remi. Luka-lukanya sudah mulai sembuh, dan diharapkan akan semakin membaik di hari-hari mendatang.

“Perlu disampaikan secara jujur bahwa ketika Remi menginap di rumah sakit, selama satu hari lebih, Remi tidak diperhatikan. Pada Kamis (1/1) pagi, Remi diantar, tapi pada Jumat (2/1) malam baru Remi mendapatkan perawatan. Ia tidak diberikan makan, tidak diberikan minuman, apalagi dirawat. Bukan terutama Remi tidak mau dirawat, melainkan karena tidak ada perawat yang dengan rasa kemanusiaan ingin merawatnya yang notabene orang kecil dan sangat tidak berdaya. Kalau sampai hari ketiga, ia tidak dirawat, maka besar kemungkinan, ia mengembuskan napasnya di rumah sakit,” katanya.

Menurut Maxi Deki, setelah dirinya mendesak perawat, baru para perawat mulai mengobati luka-lukanya yang mengerikan. Dalam proses perawatan selama satu bulan ini, kadang perawat tidak memperhatikannya.

“Karena luka-luka itu, Remi tidak bisa rebahkan badannya kalau hendak tidur, maka ia mesti ditidurkan. Demikian juga, pagi hari, ia tidak bisa dibangunkan, tidak bangun sendiri. Bagaimana mungkin, perawat tidak bisa membangunkan Remi untuk diobati? Tunggu siang hari, saat relawan ke rumah sakit, baru Remi dibangunkan, dimandikan, dan meminta perawat untuk mengobati luka-lukanya. Perawatan pun selalu terlambat,” kata Maxi.

Maxi melanjutkan, “karena Remi dibangunkan pada siang hari oleh relawan, maka pada saat itu juga baru ia menikmati makan pagi. Padahal kita orang sehat saja kalau makan terlambat pasti merasa lapar sekali, apalagi orang sakit parah seperti Remi. Saya berharap perawat tidak memberikan pelayanan hanya karena tugas semata, melainkan terutama karena rasa kemanusiaan dan hati yang jernih.”

Maxi juga meminta pihak rumah sakit untuk membenahi pelbagai fasilitas yang kurang di rumah sakit. Di beberapa kamar pada ruang Sakura, ada pasien yang tidur tanpa bantal. Bahkan sendok makan dan air minum untuk pasien juga tidak ada. “Bagaimana mungkin pasien akan cepat sembuh kalau fasilitas-fasilitas kecil dan primer seperti ini tidak disediakan?”

Relawan dari Komunitas Sastra Rakyat Ende (SARE) Sutomo Hurint, mengatakan sebenarnya, perawat bisa memberikan pelayanan yang baik kepada Remi kalau perawat melayaninya dengan hati yang peka. Menurut Sutomo yang setia memandikan Remi dan membersihkan kamar serta pakaian Remi, “perawat hendaknya tidak boleh memperlakukan Remi seperti pasien lain. Pasien lain itu memiliki keluarga yang setia menjaga, tetapi Remi tidak. Kita harus bekerja sama untuk menolong saudara kita yang malang ini.”

Dinas Sosial

Kepala Bidang Bantuan Jaminan Sosial dari Dinas Sosial Kabupaten Ende Romanus Tato dan beberapa pegawai yang mengunjungi Remi, Sabtu (10/1) lalu mengatakan, pihak Dinsos telah mendengar kejadian yang menimpa Remi beberapa hari lalu. Beberapa kali, pihak dinas sosial sudah menyumbangkan beberapa kain dan perlengkapan lain yang dibutuhkan Remi.

“Kami akan memperhatikan proses perawatan Remi selanjutnya. Untuk sementara, kami akan memberikan bantuan makanan kepada anggota keluarga yang menjaga Remi di rumah sakit. Setelah luka-lukanya sembuh, kami akan pikirkan langkah selanjutnya untuk perawatan jiwanya,” ujar Magnus.*** (Flores Pos, Kamis, 5 Februari 2015)

About Avent Saur

Lahir 27 Januari 1982 di kampung Weto, Kecamatan Welak, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Bulan kelahiran ini masih diragukan, karena Mama saya bilang saya dilahirkan pada bulan usai panen jagung dan padi. Yah... sekitar bulan Juli. Di akte kelahiran dan surat baptis (agama Katolik), 27 Juli 1982.Studi filsafat dan teologi pada Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero, Maumere, Flores, NTT. Pernah menjadi wartawan pada majalah bulanan KUNANG-KUNANG (2008-2009). Sekarang, tinggal di Ende, "bantu-bantu" di harian umum Flores Pos. Blog ini dibuat, sejak 20 April 2013.
This entry was posted in BERITA and tagged , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s