“Kau, Romo Gadungan”

  • Kolom Kutak-Kutik Flores Pos

Oleh Avent Saur

“Satu belum selesai diurus, datang lagi satu.” Ini rintihan batin yang dengan terang dituangkan dalam akun media sosial fecebook saya, Kamis (29/1) malam.

Apa sebetulnya yang terjadi? Sehari sebelumnya, tepat siang bolong, saya berpapasan dengan orang gila Tadeus Sida (53) di pinggir Jalan Sam Ratulangi, Woloweku, Ende. Setelah berdialog dan mengantarnya ke rumah, ada dua janji yang sempat ditinggalkan kepadanya. Satu, “Berupaya mendatangkan obat untuk pemulihan kesehatan fisik dan psikisnya.” Dua, “Akan berkoordinasi dengan Dinas Sosial Kabupaten Ende untuk mengurusi Bapak agar dirawat di tempat rehabilitasi.”

Dalam rencana, dua janji ini akan direalisasikan pada pekan sesudahnya. Sekitar lima hari lagi. Tapi apa hendak dikata, belum berbuat sesuatu pun untuk Tadeus dan belum memikirkan lebih mendalam tentang orang malang yang notabene sudah lumpuh karena dipasung selama 8 tahun ini, pada Kamis (29/1) pagi, saya ditelepon Kapolsek Ende, Yohanes Djawo.

Tuturnya, “Pater, saya mau meminta bantuan. Sekarang, ada seorang dengan gangguan jiwa sedang berada di Mapolsek Ende. Ia diantar oleh keluarganya. Mengapa? Keluarga merasa tidak nyaman, karena ia mengancam bunuh orangtua dan keluarganya. Jendela di rumahnya juga sudah ia bongkar. Tolong, datang dulu, entah apa yang mau kita buat terhadap orang ini.”

***

Siapakah dia? Namanya, Eufromius Emilianus Sea; disapa, Efen. Usianya masih muda belia, 24 tahun. Ia bukan orang biasa seperti Remigius Puji (40-an) atau Fabianus Bero (50-an) [baca juga] yang hanya tamat sekolah dasar. Di kota karang, Kupang, tepatnya di Universitas Nusa Cendana (Undana), ia sudah menuntut ilmu teknik elektro selama kurang lebih 4,5 tahun. Kini ia memasuki semester 9. Jiwanya terganggu sejak 26 Desember 2014. Sempat pulih, tapi kambuh lagi, dan akhirnya, ia sendiri kembali ke kampung Arereke (Paroki Roworeke), awal Januari 2015.

Oleh pelbagai kesibukan penting, sekitar tengah hari, baru permintaan Kapolsek itu saya kabulkan. Tiba di Mapolsek, orang gila dan keluarganya yang dikawal ketat oleh personel polisi, sudah diantar ke rumahnya. Dengan Kapolsek, saya pun melanjutkan perjalanan ke sana.

“Itu siapa? Siapa dia?” kata orang gila itu ketika kami tiba di halaman rumahnya yang sejak pagi dikerumuni warga. “Itu Pater Avent,” ujar warga spontan yang telah mengenal. Maklum, tahun 2012-2014, saya sering melayani umat Paroki Roworeke.

“Lalu kau datang untuk apa di sini? Kau romo gadungan! Kau bohong,” kata Efen sambil meraih kerah baju saya. Tentu warga dan beberapa anggota keluarga yang duduk dekatnya tidak membiarkan hal itu berlangsung lama. Mereka menarik tangannya. “Saya Pater, bukan romo. Saya Pater Avent SVD. Saya datang ingin bercerita-cerita dengan kamu, Efen. Dan itu perbuatan baik, kan? Masa saya diperlakukan begini,” ujar saya lembut sembari tersenyum, sekalipun dalam hati berharap cemas, ia tidak langsung menghajar saya.

“Kau romo gadungan, duduk! Dan kau juga polisi, kau polisi gadungan. Hanya bajunya saja polisi, orangnya tidak. Panggil lagi orang lain, entah tentara, entah brimob, entah raja, atau apalagi. Saya tidak takut. Supaya kalian semua tahu, saya ini raja Ende,” katanya, berwajah menyeramkan dan ganas.

***

Kata-katanya bukan hanya sampai di situ. Ada yang lain lagi, dan sangat banyak. Bicaranya teratur, nyambung, tapi kadang ikuti kemauannya sendiri dan bernada tinggi serta penuh ancaman: atau pukul atau bunuh. Tapi mujur, ada dua anggota keluarganya yang dia taati kalau diatur.

“Kau romo gadungan” bukanlah sebuah kalimat tanpa makna, sekalipun kalimat ini lahir dari pikiran yang kacau, hati yang tak keruan, atau psikis yang dilanda gangguan serius atau juga kesadaran yang tiada bentuk.

Tapi setidaknya, “kau romo gadungan” mengingatkan saya, bahwa memang sesungguhnya, ada banyak hal “gadungan”, pertama-tama dalam diri saya; selanjutnya, dalam diri orang-orang lain di sekitarnya, atau juga dalam diri orang-orang lain yang lebih bertanggung jawab terhadap nasib orang-orang gila. Mungkin orang-orang lain itu patut kita sebutkan, seperti para tokoh masyarakat, tokoh agama dan pemerintah. Tentu bukan bermaksud mempersalahkan orang-orang lain ini, tapi sekadar menuntut sebuah tanggung jawab moral sosial.

Saya, misalnya, memiliki dan memakai jubah putih kemilau, tapi hati, pikiran, tutur dan tingkah laku kadang atau sekian sering tidak mencerminkan spirit jubah putih itu. Demikian juga biarawan-biarawati, misalnya, selalu berjubah putih, tapi di medan pastoral praktis atau dalam pergaulan sehari-hari, tidak menampilkan identitas keputihan itu. Para petugas medis di pelbagai panti kesehatan, misalnya, selalu mengenakan pakaian putih, tapi kadang atau sering, melalaikan komitmen dan sumpah mulianya.

Demikian juga, para pejabat negara, misalnya, yang setelah terpilih oleh rakyat telah menyatakan sumpah sebelum mewujudkan visi-misinya, kadang atau sekian sering, menodai sumpahnya, dan mengaburkan visi-misinya dalam kerangkeng kecenderungan-kecenderungan pribadi dan tidak bermoral.

Yah, tentu ada banyak hal lagi yang bisa disentil. “Kau romo gadungan. Kau polisi gadungan, atau lain-lainnya” sama sekali bukan menggugat keabsahan pastor atau polisi secara administratif, melainkan menyentil secara mendalam soal praksis nilai-nilai moral dalam tugas-tugas formal dan soal praksis moral kemanusiaan yang kreatif. Untuk itu, sambil mencari solusi terhadap kegilaannya, kita juga mencari solusi terhadap kegadungan kita.*** (Flores Pos, Jumat, 6 Februari 2015)

Advertisements

About Avent Saur

Lahir 27 Januari 1982 di kampung Weto, Kecamatan Welak, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Bulan kelahiran ini masih diragukan, karena Mama saya bilang saya dilahirkan pada bulan usai panen jagung dan padi. Yah... sekitar bulan Juli. Di akte kelahiran dan surat baptis (agama Katolik), 27 Juli 1982.Studi filsafat dan teologi pada Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero, Maumere, Flores, NTT. Pernah menjadi wartawan pada majalah bulanan KUNANG-KUNANG (2008-2009). Sekarang, tinggal di Ende, "bantu-bantu" di harian umum Flores Pos. Blog ini dibuat, sejak 20 April 2013.
This entry was posted in FEATURE and tagged , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s