Menimba Ilmu di Gubuk Bambu Reot

gubuk1

  • Kolom Bentara Flores Pos

Oleh Avent Saur

Era sekarang, pelbagai lembaga pendidikan sedang gencar melakukan beberapa hal positif. Pertama, membangun ruang kelas baru karena siswa bertambah banyak, atau juga merenovasi bangunan-bangunan tua. Kedua, menambah fasilitas sekolah dan jumlah guru.

Hal lain, ketiga, mengoptimalkan pembelajaran dan pelatihan demi meningkatkan kualitas intelektual dan karakter siswa serta memberanikan diri tampil bersaing di antara lembaga pendidikan. Keempat, mendirikan lembaga pendidikan baru dengan mempertimbangkan kekuatan modal dan potensi calon siswa.

Yah, sekalipun semuanya ini dilakukan selalu dibarengi dengan pertimbangan bisnis, tetapi yang paling utama, lembaga pendidikan mengedepankan pembentukan kualitas siswa. Yah, sekalipun juga, siswa kurang mengindahkan visi-misi lembaga pendidikan, di mana pada pelbagai lembaga pendidikan, selalu saja terdapat siswa yang kita sebut bandel, sarat masalah atau lamban maju. Namun mereka menimba ilmu dan memperkaya diri, atau guru menyalurkan ilmu dan membagi diri di tempat yang kurang-lebih layak dan keadaan yang kurang-lebih menyenangkan. Ini sudah biasa dan sudah ada di pelbagai daerah kita.

Namun ketika kita mendengar kabar bahwa siswa Sekolah Dasar Inpres (SDI) Haba di Manggarai Barat belajar di gubuk bambu reot, sebagaimana diberitakan Flores Pos, Senin (9/2), rasanya, itu luar biasa. SDI ini terletak di Kampung Kolong, Desa Lewat, Kecamatan Macang Pacar. Katanya, ini sudah berlangsung lama entah sejak kapan. Dari gambar, terlihat atap ijuk yang sudah usang dan berlubang-lubang. Dindingnya terbuat dari pelepah bambu yang juga sudah usang dan berlubang-lubang.

Entah di dalamnya terdapat meja dan kursi untuk guru, atau meja dan kursi untuk siswa tidak diutarakan dalam berita itu. Demikian juga, papan dan kapur tulis, apalagi buku-buku dan pelbagai fasilitas lain baik untuk siswa maupun guru.

Rasanya, kita sulit membayangkan bagaimana mengoptimalkan dan memaksimalkan proses belajar-mengajar di lembaga pendidikan milik negara tersebut. Kalau ilmu diibaratkan dengan air, maka siswa bukan tidak bisa menimba air itu melainkan alat timbanya bocor dan tak berguna lagi. Air ada, tapi untuk menimbanya, siswa membutuhkan timba.

Guru juga membutuhkan sarana untuk menuangkan air itu ke dalam alat timba siswa. Air ada, tapi untuk menuangkannya, guru membutuhkan wadah yang baik. Rasanya, proses belajar-mengajar di SDI itu bukan cuma kurang melainkan tidak maksimal, tidak optimal.

Dengan itu, setidaknya, ada beberapa hal yang mesti dipikirkan dan segera dilakukan. Pertama, hendaknya, kita tidak bersikap melankolis, bahwa dari gubuk bambu reot itu, para guru dan siswa masih bisa membentuk generasi penerus bangsa yang berkualitas, lalu kita membiarkan kondisi gawat darurat itu terus berlangsung lama-tak terurus. Gubuk bambu reot itu bukanlah sebuah realitas kesederhanaan yang berkualitas, melainkan kemelaratan yang perlu segera ditangani.

Kedua, kalau lembaga pendidikan itu milik swasta, agaknya, kenyataan itu masih masuk di akal sekalipun kita tidak mengatakan bahwa itu layak. SDI Haba itu milik pemerintah, masa, SKPD terkait “tidak pernah” memperhatikannya secara serius? Kereotan SDI Haba adalah bukti paling sadis kelalaian negara.

Ketiga, DPRD dari wilayah Kecamatan Macang Pacar bukan baru ada sekarang, dan bukan baru sekarang DPRD melakukan reses, melainkan sudah dari dulu. Masa, baru DPRD sekarang yang menyuarakan kereotan SDI Haba? Kereotan SDI Haba adalah bukti paling buruk kelalaian wakil rakyat sebagai penyambung lidah rakyat.

Kita berharap, SDI Haba segera diurus agar guru tidak membagikan ilmu, siswa tidak menimba ilmu dalam keadaan “terpaksa” saja. Membebaskan pendidikan dari keterpaksaan, dan pendidikan yang membebaskan, sudah saatnya terwujud.*** (Flores Pos, Selasa, 10 Februari 2015)

Baca Terkait: Siswa Bersekolah di Gubuk Bambu Reot

Advertisements

About Avent Saur

Lahir 27 Januari 1982 di kampung Weto, Kecamatan Welak, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Bulan kelahiran ini masih diragukan, karena Mama saya bilang saya dilahirkan pada bulan usai panen jagung dan padi. Yah... sekitar bulan Juli. Di akte kelahiran dan surat baptis (agama Katolik), 27 Juli 1982.Studi filsafat dan teologi pada Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero, Maumere, Flores, NTT. Pernah menjadi wartawan pada majalah bulanan KUNANG-KUNANG (2008-2009). Sekarang, tinggal di Ende, "bantu-bantu" di harian umum Flores Pos. Blog ini dibuat, sejak 20 April 2013.
This entry was posted in OPINI and tagged , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s