Kaki Terputus, Petrus Minta Kaki Palsu kepada Dinas Sosial

DSC04368

Penderita putus kaki Petrus Sebhi Sena (tengah), Kepala Bidang Rehabilitasi Sosial Dinsos Ende Fabianus Pau (kiri) dan Pater Avent Saur SVD (kanan) di ruang kerja Kepala Dinas Sosial Ende, Jumat (13/2) siang.

  • Kadis Sosial: Kami Akan Bantu

Oleh Avent Saur

Ende, Flores Pos — Warga Kampung Pu’uwaru, Desa Ndorurea I, Kecamatan Nangapanda, Ende, Petrus Sebhi Sena (65) yang menderita putus kaki kiri karena kecelakaan lalu lintas mendatangi Dinas Sosial Kabupaten Ende, Jumat (13/2) untuk meminta bantuan kaki palsu. Disaksikan Flores Pos, di ruang kerja Kadis Sosial, kaki kiri Petrus terputus tepat pada bagian bawah lutut. Ia berjalan dengan menggunakan kruk ketiak (tongkat).

Petrus mengatakan, ia mengalami kecelakaan lalu lintas pada Januari 2012 lalu, saat ia bekerja di Brau, Kalimantan Timur (Kaltim). Sebenarnya, kakinya tidak putus total, tapi karena tidak ada kemungkinan untuk sembuh total, maka oleh dokter bedah, kakinya diamputasi saat dirawat di salah satu rumah sakit di Kaltim.

“Saya bekerja di kebun kelapa sawit, di Kaltim selama kurang lebih 18 tahun sejak 1994 sampai 2012. Tapi entah sial apa, pada Januari 2012, mobil (pribadi) yang saya tumpangi menabrak mobil lain, yang mengakibatkan kaki saya patah, lalu diamputasi. Setelah kaki sembuh, saya bersama istri dan anak-anak (8 orang) pulang ke kampung Pu’uwaru, Nangapanda, dan bekerja memelihara babi dan ayam,” katanya.

Petrus melanjutkan, “Di rumah, saya memelihara babi dan ayam, sekalipun jumlahnya tak seberapa. Saya sulit mencari makanan untuk hewan peliharaan itu, karena terhalang cacat kaki. Saya meminta bantuan kaki palsu kepada Dinas Sosial, supaya saya bisa bekerja lebih baik lagi. Bahkan saya ingin dinas sosial juga memberikan modal untuk dikembangkan di kampung berupa usaha-usaha kecil yang bisa saya lakukan. Ada dua anak saya yang masih menjalani pendidikan SMA, tentu dengan keadaan cacat, tanggung jawab saya agak berat. Istri bekerja sebagai petani.”

Dinsos Akan Bantu

Kepala Dinas Sosial Kabupaten Ende Stefanus Soga mengatakan, pemerintah Kabupaten Ende, melalui dinas yang dipimpinnya, akan membantu Petrus Sebhi Sena untuk mendapatkan kaki palsu dengan mengajukan usulan kepada Dinas Sosial Provinsi NTT. Usulan tersebut akan segera dibuat dengan melampirkan data diri dan foto warga peminta bantuan sebagai bukti.

“Kami mengajukan usulan kepada Dinas Sosial Provinsi karena Dinas Sosial Ende mengalami keterbatasan anggaran untuk pembelian kaki palsu. Anggaran yang tersedia di Dinsos Ende hanya diperuntukkan bagi orang-orang cacat yang membutuhkan tongkat dan kursi. Kita berharap Dinas Sosial Provinsi segera merespons usulan ini,” katanya.

Staf Dinas Sosial Darmiyati mengatakan, semestinya, kepala desa setempat mendata secara khusus warganya yang mengalami cacat fisik melalui Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD), sehingga di tingkat kabupaten, anggarannya bisa dirancang secara baik. Tetapi seringkali, kepala desa mengabaikan hal ini, sehingga ada warga yang dengan inisiatif pribadi mendatangi dinas sosial.

“Pemerintah mengakomodasi orang-orang cacat yang meminta bantuan. Pada tahun 2014, kami membantu 27 orang cacat dengan rincian 9 orang mendapat kursi roda, 9 orang mendapat tongkat biasa dan 9 orang mendapat tongkat kruk ketiak. Dengan bantuan Dinas Sosial Provinsi, ada juga orang yang mendapat bantuan alat dengar dan kaki palsu. Setelah mendapat alat-alat itu, mereka kembali ke keluarga untuk beraktivitas semampunya,” ujarnya.

Pada tahun 2015, Dinsos Ende menganggarkan pemberian bantuan kepada 50 orang cacat fisik. Dinas sosial juga sedang mencari orang-orang cacat berusia produktif 18-25 tahun yang ingin bersekolah di panti sosial selama kurang lebih 1-2 tahun. Sekurang-kurangnya, orang-orang cacat dimaksud bisa membaca dan menulis agar bisa menjalankan pendidikan dengan baik. Setelah menjalankan pendidikan di panti sosial, mereka akan bekerja seturut ilmu yang mereka peroleh.*** (Flores Pos, Sabtu, 14 Februari 2015)

Advertisements

About Avent Saur

Lahir 27 Januari 1982 di kampung Weto, Kecamatan Welak, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Bulan kelahiran ini masih diragukan, karena Mama saya bilang saya dilahirkan pada bulan usai panen jagung dan padi. Yah... sekitar bulan Juli. Di akte kelahiran dan surat baptis (agama Katolik), 27 Juli 1982.Studi filsafat dan teologi pada Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero, Maumere, Flores, NTT. Pernah menjadi wartawan pada majalah bulanan KUNANG-KUNANG (2008-2009). Sekarang, tinggal di Ende, "bantu-bantu" di harian umum Flores Pos. Blog ini dibuat, sejak 20 April 2013.
This entry was posted in BERITA and tagged , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s