Hati Tergerak, Tangan Bergerak

Penderita Kusta

Oleh Avent Saur, SVD

Saya sendiri belum pernah melihat orang sakit kusta. Kecuali dalam gambar cetakan, atau juga di internet. Di televisi juga, berita tentang mereka, saya belum pernah menonton, sehingga samasekali belum pernah melihat bagaimana orang kusta itu berjalan atau bergerak-gerik, juga belum pernah melihat bagaimana style kepala atau leher orang kusta ketika sedang berpikir, atau juga belum pernah mendengar bagaimana orang kusta berbicara. Tapi melihat orang-orang yang kadang diperlakukan seperti orang kusta, sudah pernah dan banyak kali, dan ada banyak di sekitar kita, bahkan mungkin kita sendiri yang memperlakukan orang di sekitar kita seperti terhadap orang kusta.

Pada zaman nabi Musa, saat ia membawa keluar umat Israel dari perbudakan Mesir, terdapat banyak orang menderita kusta. Ketika masih mengalami gejala kusta, seseorang harus melaporkan diri atau dilaporkan keluarganya kepada imam. Mengapa sakit kusta dihubungkan dengan imam? Karena sakit kusta yang tergolong luar biasa itu dipandang sebagai akibat kutukan Yahwe. Mereka diasingkan: tinggal di luar perkemahan, jauh dari pergaulan. Pakaiannya juga tercabik-cabik, rambutnya harus terurai, dan lagi harus menutup mata sembari menyerukan kata najis berkali-kali. Mengapa? Karena kusta itu tergolong salah satu penyakit menular.

Orang kusta seperti inilah yang datang kepada Yesus dalam Injil Markus tadi. Bukan cuma bahwa orang kusta itu masih ada pada zaman Yesus, melainkan juga pandangan bahwa kusta itu penyakit karena kutukan Yahwe, dan perlakuan bahwa orang kusta ditelantarkan, terbawa juga sampai pada zaman Yesus. Karena mereka ditelantarkan, maka sesungguhnya, tidak ada lagi orang sehat yang memperhatikan mereka; tidak ada lagi imam Yahudi yang memperhitungkan hidup mereka; tidak ada lagi orang sehat yang menjadi teman dialog mereka; dengan itu juga, kita tahu dalam Injil lain, di mana 10 orang kusta datang bersama kepada Yesus, bukan datang dengan orang sehat. Oleh karena situasi sosial negatif seperti inilah, maka ketika mereka baru disembuhkan Yesus, hal pertama yang mereka buat adalah melaporkan diri kepada imam, untuk selanjutnya, imam akan mengumumkan secara resmi kepada umat bahwa orang-orang itu sudah terbebas kusta dan kembali ke tengah keluarga dan masyarakat; tapi kita dengar dalam Injil tadi, seorang kusta yang telah sembuh itu, justru menyebarkan sendiri berita kesembuhannya.

Bagi Yesus, pandangan negatif tentang mereka, bukanlah suatu rintangan untuk membantu mereka; perlakuan buruk kepada mereka, bukanlah suatu halangan untuk membantu mereka. Cuma satu yang Yesus tunjukkan kepada seorang kusta itu, dan demikian juga, cuma satu yang Yesus tunjukkan kepada kita sekalian sebagai pengikut Yesus, yakni gerakan hati yang berbelaskasihan; dan lebih dari sebuah gerakan hati, Yesus sendiri menggerakkan tangannya, mengulurkan tangan itu dan menjamah seorang kusta itu, dan berkata: “Jadilah engkau tahir, atau jadilah engkau sembuh.” Dan orang itu pun sembuh.

Pesan penyembuhan ini adalah bahwa Yesus menolong orang-orang yang memang perlu ditolong. Yesus membongkar pandangan negatif tentang orang sakit, seberapa pun berat sakit itu, seberapa pun berbahayanya penyakit itu. Yesus menyodorkan pesan bahwa orang Yahudi mesti saling menerima satu sama lain. Atau sebagaimana dinasihati Paulus kepada umat Korintus tadi, “Berusahalah menyenangkan hati semua orang dalam segala hal, bukan terutama untuk kepentingan diri kita sendiri, melainkan untuk kepentingan orang banyak supaya mereka memperoleh keselamatan.”

Di sekitar kita, mungkin tidak ada orang sakit kusta. Tapi kadang atau sekian sering, ada perlakuan kita yang persis seperti perlakuan terhadap orang kusta. Kadang atau sekian sering, kita mengabaikan orang lain di sekitar kita oleh karena kita menganggap bahwa orang lain itu kurang bermanfaat bagi kita, atau oleh karena kita merasa dan memang demikian dalam kenyataan, bahwa orang lain itu malah menyusah-nyusahkan kita, merepotkan kita, menganggu kelancaran tugas kita, mengusik kenyamanan tidur kita. Dalam pikiran dan hati kita, kadang atau sekian sering, kita menghindari pergaulan dengan orang-orang yang kita anggap berdosa, atau yang kurang pergi ke gereja, atau orang-orang lanjut usia yang kurang rapih lagi dalam mengatur diri. Atau bahkan, kadang atau sekian sering, kita spontan senang sedikit kalau melihat orang lain mendapat hal-hal menyedihkan, padahal ia sebetulnya membutuhkan pertolongan kita. Dan tentu ada banyak kekurangan lain lagi dalam diri kita, entah kita sendiri yang tahu atau orang lain juga mungkin tahu.

Yesus mengajak kita untuk memiliki hati yang berbelaskasihan, untuk saling menolong di antara kita, apalagi orang-orang yang kita anggap sangat membutuhkan pertolongan kita. Yesus mengajak kita, untuk tidak hanya sampai pada rasa kasihan atau prihatin, tapi mesti lebih dari pada itu, mewujudkan belaskasihan dan keprihatinan kita secara nyata sejauh kemampuan kita, entah dalam hal kecil ataupun sedang, ataupun juga hal-hal besar.

“Tergeraklah hati Yesus oleh belaskasihan, lalu Ia mengulurkan tangan-Nya dan menjamah orang itu.” Amin. (Biara Santo Konradus Ende, Minggu, 15 Februari 2015; Bacaan: Im 13:1-2.45-46; 1Kor 10:31-11:1; Mrk 1:40-45)

Advertisements

About Avent Saur

Lahir 27 Januari 1982 di kampung Weto, Kecamatan Welak, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Bulan kelahiran ini masih diragukan, karena Mama saya bilang saya dilahirkan pada bulan usai panen jagung dan padi. Yah... sekitar bulan Juli. Di akte kelahiran dan surat baptis (agama Katolik), 27 Juli 1982.Studi filsafat dan teologi pada Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero, Maumere, Flores, NTT. Pernah menjadi wartawan pada majalah bulanan KUNANG-KUNANG (2008-2009). Sekarang, tinggal di Ende, "bantu-bantu" di harian umum Flores Pos. Blog ini dibuat, sejak 20 April 2013.
This entry was posted in RENUNGAN and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s