Ketika Pelita Diganti dengan Listrik

pelita

Siswa belajar dalam cahaya lampu pelita

  • Kolom Bentara Flores Pos

Oleh Avent Saur

Perusahaan listrik negara (PLN), di mana-mana dan pada pelbagai tingkat pemerintahan, selalu menjadi sorotan publik; mulai dari warga kampung, desa/kelurahan, lalu kota kabupaten, provinsi, lalu ibu kota negara.

Kabar terbaru, banjir di ibu kota negara terjadi, selain karena memang hujan terus mengguyur tanpa henti selama beberapa hari, tetapi juga karena mesin pompa air pada pelbagai titik tidak beroperasi lantaran listrik padam. Di ibu kota provinsi kita, pada akhir tahun 2014 lalu, para legislator gerah lantaran listrik padam-nyala, mati-hidup terus. Mereka pun membentuk panitia khusus untuk menelusuri kinerja PLN.

Pada tingkat kabupaten juga demikian. PLN dipanggil ke ruang sidang dewan untuk mempertanggungjawabkan pelbagai persoalan di tubuh PLN, dan untuk menjawabi pelbagai pertanyaan masyarakat soal kinerja PLN.

Kalau listrik kadang padam, katanya, karena satu mesin sedang rusak atau sedang diperbaiki. Kalau listrik sering padam, katanya, karena dua mesin sedang tidak berfungsi. Kalau listrik padam saat hujan mengguyur, katanya, sebagai antisipasi terhadap kabel yang ditimpa pohon tumbangan. Alasan-alasan ini rasional, tapi terselip di dalamnya suatu permohonan maaf. Maaf inilah yang selalu diterima begitu saja, tanpa penelusuran lebih lanjut; yah entah oleh siapa pun, terutama yang lebih bertanggung jawab atas kontrol kinerja PLN.

Di tengah sorotan terhadap kinerja perusahaan listrik negara tersebut, masyarakat pada beberapa desa di Kabupaten Ende menyalurkan aspirasinya kepada para legislator dalam tatap muka saat reses (masa beristirahat setelah bersidang). Masyarakat Desa Emburia dan Desa Embungena di Kecamatan Ende, misalnya, sudah lama dibalut malam hanya dengan cahaya lampu pelita. Secara swadaya, mereka pernah berusaha mendatangkan cahaya listrik genset, tapi sial, cahaya genset seakan-akan tak betah menyinar lama, atau seolah-olah genset terlalu lelah sehingga lekas rusak. Pelita pun diperhitungkan lagi.

Dan selama itu juga, mereka merindukan listrik negara. Betapa diharapkan, kerinduan itu segera terwujud. Kepada perusahaan BUMN itu, mereka telah mengajukan proposal, warga telah mengumpulkan uang untuk membiayai jaringan, dan bersedia membebaskan lahan untuk jalur jaringan itu (FP, 14/2).

Rasanya, tak ada lagi kendala bagi mereka untuk segera menikmati listrik negara. Paling, cuma menunggu tindakan nyata PLN, apalagi ditopang oleh desakan legislator sebagai penyambung lidah rakyat.

Namun kiranya, mereka tidak melupakan pengalaman warga kota tadi, bahwa listrik negara tidak selalu terasa nikmat. Padam-nyala, mati-hidup, seringkali terjadi. Alat elektronik ini-itu, di sini-sana seringkali dikeluhkan rusak. Dugaan bahwa pengabdi negara bidang listrik itu bermafia di balik pemadaman, selalu diutarakan warga; entah dugaan karena memang ada kebenaran atau entah hanya sebagai ungkapan emosional saja, memang belum pernah diselidiki.

Untuk Kabupaten Ende, dua pembangkit listrik sudah berfungsi sejak beberapa tahun lalu. Saat peresmiannya, perusahaan listrik komit, kedua pembangkit listrik ini bisa membebaskan masyarakat dari derita panjang padam-nyala, mati-hidupnya listrik negara. Tapi nyatanya, ini hanya sebatas komitmen yang menghibur warga, dan selanjutnya, hiburan itu justru melemahkan rasa kepercayaan masyarakat terhadap PLN.

Bukan cuma masyarakat pada kedua desa tadi, desa-desa lain juga di Kabupaten Ende sudah lama merindukan cahaya listrik negara. Cuma satu harapan: perluasan jaringan tidak dijadikan alasan listrik padam-nyala, mati-hidup. Prinsipnya, ketika pelita diganti dengan listrik, masyarakat semakin maju, bukan malah menuai persoalan baru.*** (Flores Pos, Selasa, 17 Februari 2015)

listrik

About Avent Saur

Lahir 27 Januari 1982 di kampung Weto, Kecamatan Welak, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Bulan kelahiran ini masih diragukan, karena Mama saya bilang saya dilahirkan pada bulan usai panen jagung dan padi. Yah... sekitar bulan Juli. Di akte kelahiran dan surat baptis (agama Katolik), 27 Juli 1982.Studi filsafat dan teologi pada Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero, Maumere, Flores, NTT. Pernah menjadi wartawan pada majalah bulanan KUNANG-KUNANG (2008-2009). Sekarang, tinggal di Ende, "bantu-bantu" di harian umum Flores Pos. Blog ini dibuat, sejak 20 April 2013.
This entry was posted in OPINI and tagged , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s