Hapus Pajak, Atasi Kesenjangan

orang kaya

Oleh Avent Saur

Sejatinya, pajak dipungut demi kesejahteraan rakyat. Tapi seringkali, pembayaran pajak terkatung. Jika penghapusan pajak atas tanah dan tempat tinggal bisa meringankan beban rakyat, maka ini mesti segera diterapkan. – Ferry Mursyidan Baldan

Ada dua terobosan (rencana) baru kementerian agraria: menghapus nilai jual objek pajak dan menghapus pajak bumi dan bangunan. Mengapa dan untuk apa?

Selama ini, tanah yang di atasnya belum dibangun rumah (bangunan) atau usaha-usaha ekonomi, dikenai pajak. Dan pengenaan pajak itu dilakukan setiap tahun. Ini menyebabkan harga tanah mahal dan akan semakin mahal. Yang merasakan beban adalah pemilik dan pembeli tanah, atau rakyat yang ingin mengembangkan usaha kecil mikro.

Bukan rahasia lagi, telah terjadi kapitalisasi tanah dan bangunan; tanah dan bangunan dijual dengan harga yang tinggi sehingga menyusahkan dan membebankan pembeli (terpaksa membeli dengan rela terbeban utang). Belum lagi, masyarakat yang mengurungkan niatnya untuk mengembangkan usaha ekonomi kecil tertentu lantaran keterbatasan modal untuk membeli tanah dan bangunan.

Dari kapitalisasi tanah tersebut, negara meraup keuntungan, yakni pajak bernilai besar. Di sini, ada tali-temali sengkarut penetapan pajak, harga tanah melambung, perkembangan usaha mikro kecil melambat dan melebarnya kesenjangan sosial-ekonomi.

Memang, pajak menjadi salah satu sumber pendapatan daerah. Tapi kata Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional Ferry Mursyidan Baldan, “coba pikirkan sebaik-baiknya, untuk apa mengumpulkan pendapatan setinggi-tingginya bagi daerah, tapi rakyat terus mengeluhkan pajak? Dan adalah ironis, bermaksud untuk meningkatkan pembangunan daerah, tapi justru rakyat pemilik daerah itu dibebani hal-hal yang menyusahkan”. Menteri Ferry sudah mengantisipasi penolakan kepala daerah dan wakil rakyat di daerah terhadap terobosan ini. Di Flores, penolakan itu sudah mulai terungkap, sebagaimana diutarakan Bupati Nagekeo (FP, 23/2).

Dalam dua terobosan itu, Menteri Ferry akan melakukan beberapa hal. Pertama, bebas pajak hanya berlaku bagi bangunan pribadi, sekolah, rumah sakit dan panti sosial karena bangunan itu tidak diperuntukkan bagi bisnis (non komersial). Demikian juga soal tanahnya. Ditenggarai bahwa pemungutan pajak yang telah diberlakukan kepada pelbagai bangunan lembaga-lembaga dan tanah tersebut, merupakan praktik legal ketidakadilan negara. Bagaimana mungkin negara memugut pajak dari orang-orang dan lembaga-lembaga yang tidak mendapatkan keuntungan atau yang justru membutuhkan bantuan sesamanya?

Kedua, pajak atas tanah hanya diberlakukan saat pengalihan hak atas tanah tersebut dengan cara pembelian atau pemindahtanganan.

Ketiga, bangunan yang diperuntukkan bagi kepentingan bisnis mesti diwajibkan membayar pajak. Biaya pajak dapat diambil dari pendapatan bisnis tersebut. Misalnya, rumah kos, perumahan, rumah toko, toko besar, hotel, restoran dan pelbagai bangunan bisnis lainnya. Sementara usaha mikro berskala kecil sekalipun bertujuan bisnis, dibebaskan dari pungutan pajak. Pendapatan daerah bisa diperoleh dari pajak atas tanah dan bangunan berkepentingan bisnis tersebut.

Tujuan dari semuanya ini adalah menekan praktik kapitalisasi tanah dan bangunan, mengurangi keluhan masyarakat dan mengatasi perasaan-pengalaman susah rakyat. Lebih dari itu, terobosan itu mengatasi satu persoalan tua yang tanpa henti dicarikan solusinya yakin kesenjangan sosial.

Pemerintah terus mencari solusi untuk mengurangi lebar dan dalamnya jurang kesenjangan sosial tersebut. Terobosan Menteri Ferry patut diapresiasi, dan sudah banyak kalangan yang mendukungnya. Pemerintah daerah juga diharapkan mendukungnya sekalipun berimplikasi pada pengurangan pendapatan daerah. Bersama Menteri Ferry, pemerintah daerah mesti memikirkan kesejahteraan rakyat tanpa membebankan rakyat itu sendiri, yah, rakyat yang kita maksudkan di sini, adalah rakyat kelas menengah ke bawah.*** (Flores Pos, Selasa, 24 Februari 2015)

About Avent Saur

Lahir 27 Januari 1982 di kampung Weto, Kecamatan Welak, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Bulan kelahiran ini masih diragukan, karena Mama saya bilang saya dilahirkan pada bulan usai panen jagung dan padi. Yah... sekitar bulan Juli. Di akte kelahiran dan surat baptis (agama Katolik), 27 Juli 1982.Studi filsafat dan teologi pada Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero, Maumere, Flores, NTT. Pernah menjadi wartawan pada majalah bulanan KUNANG-KUNANG (2008-2009). Sekarang, tinggal di Ende, "bantu-bantu" di harian umum Flores Pos. Blog ini dibuat, sejak 20 April 2013.
This entry was posted in OPINI and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s