Mari Kita Berbalik Arah!

  • Mimbar Flores Pos

Markus 1:12-15

Oleh Avent Saur, SVD

Metanoia

Pada Rabu, 18 Februari, dahi kita ditandai dengan abu; yah, setidaknya dengan abu, kita diingatkan dan disadarkan bahwa kita adalah manusia rapuh: berdosa, bertobat dan berdosa lagi; dan begitulah seterusnya silih berganti dengan dinamika yang kita sendiri lebih mengetahuinya. Umat di kampung-kampung yang hanya dilayani satu pastor, tentu ada yang dahinya belum ditandai abu (akan ditandai saat pastor berpatroli), tapi mereka tetap mengetahui arti Rabu Abu tersebut.

Mulai Rabu Abu itu, kita memasuki masa prapaska (masa sebelum paska/kebangkitan). Yang dilakukan pada masa ini: puasa, pantang dan amal kasih; dan ketiga hal ini bisa dilakukan secara lahiriah (puasa-pantang makanan-minuman tertentu), juga secara rohaniah (puasa-pantang perbuatan, pikiran, kata-kata yang mencemarkan diri atau membuat diri berdosa).

Perwujudan ketiga hal ini (dalam fakta, ini dilaksanakan “kurang-lebih” konsisten) didasarkan pada permenungan akan warta pertobatan Yesus: “Bertobatlah dan percayalah kepada Injil” (Mrk 1:15) dan warta para rasul, serta pelbagai warta pertobatan para nabi dalam Perjanjian Lama. Dengan itu, inti dari masa prapaska ini adalah pertobatan. Dengan bercermin pada warta pertobatan itu, kita melihat diri (seluruh diri sejauh dapat): perilaku, tutur kata, pikiran dan perasaan.

***

Apa itu pertobatan? Berkaitan dengan pertobatan, dalam Perjanjian Lama, kata yang paling terkenal adalah syuv (bahasa Ibrani). Artinya berputar arah, berbalik kembali. Dan ini selalu mengacu pada tindakan berputar atau berbalik “kembali dari” dosa dan berputar atau berbalik “kembali kepada” Allah.

Ditemukan bahwa orang-orang yang berbalik itu lebih sering bukan dalam bentuk perorangan melainkan massal atau bangsa. Bangsa Israel (dan hanya mereka) seringkali diingatkan para nabi untuk berbalik kepada Allah setelah mereka berada dalam ketersesatan dan setelah mereka mendurhakai diri sendiri serta memutuskan hubungan dengan Yahwe; cuma sekali ajakan pertobatan untuk bangsa kafir: Niniwe (Yunus 3:7-10), oleh Nabi Yunus.

Sementara ajakan pertobatan untuk perorangan hanya terjadi pada Naaman, Yosia dan Manasye (Mzm 51:14). Dengan pemutaran atau pembalikan kembali, iman mereka diperteguh, janji-janji Allah diingat kembali dan memulai hidup baru lagi: menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya (bukan berpindah agama).

Dalam Perjanjian Baru, kata yang sering dipakai adalah metanoia (bahasa Yunani). Satu kata lagi, epistrefo (Yunani). Artinya kurang lebih sama dengan syuv: bertobat, bisa juga memperbaiki kesalahan atau menyesal. Pertobatan itu mesti menyata dalam perubahan pikiran, sikap, hati, dari kenyataan diri yang lama menuju kenyataan hidup yang baru dalam terang karya Roh Kudus sendiri.

Apa manfaat pertobatan? Yesus sendiri menuturkan bahwa pertobatan merupakan syarat mutlak untuk memperoleh keselamatan. Di awal karya-Nya, Yesus mengutarakan secara tegas seruan pertobatan itu (Mrk 1:15), dan ini diulangi lagi di akhir hidup-Nya sebelum Dia naik ke surga (Luk 24:47). Selanjutnya, seruan pertobatan itu diteruskan oleh para rasul termasuk sang rasul para bangsa: Paulus.

Karena menjadi syarat mutlak bagi perolehan keselamatan, maka pertobatan melekat erat dalam iman. Rumusan sederhananya, keselamatan tanpa pertobatan adalah mustahil, dan iman tanpa pertobatan bukanlah iman yang membawa kepada keselamatan. Dengan itu, antara pertobatan, keselamatan dan iman, kita tidak bisa memisahkannya satu sama lain, atau kita tidak bisa membedakan mana yang lebih dahuu, dan mana yang kemudian. Bahwasanya, dengan beriman kepada Yesus, kita berbalik dari dosa, dan kita pun memperoleh keselamatan.

***

Bila pertobatan dilihat secara rasional, maka tampaknya, itu semata-mata merupakan hasil perjuangan manusia sendiri. Allah selalu mengetuk hati dan pikiran, bahkan dalam arti negatif, Allah selalu “mengganggu” kita untuk sedapat mungkin segera berbalik dari dosa dan berbalik kepada-Nya. Dengan itu, seringkali kita selalu bertanya diri, “mengapa saya belum bertobat dari dosa ini dan dosa itu?”

Namun dalam Ratapan 5:21 dinyatakan bahwa orang berdosa akan bertobat kepada Allah, jika Allah membawa orang itu kepada pertobatan. Dan dalam Gereja perdana, Paulus yang semula menjadi musuh pengikut Kristus itu bertobat, menjadi pelayan Kristus dan umat-Nya, karena Allah terlibat secara mutlak di dalam dirinya. Dalam konteks ini, pertobatan di pandang sebagai karya ilahi.

Karena pertobatan itu terjadi pada manusia, di mana ada penyesalan dan kemauan untuk berbalik arah dari hidup lama menuju hidup baru, maka tentu Allah memperhitungkan perjuangan manusia untuk menanggapi sapaan-sapaan atau ajakan-ajakan-Nya yang terus bergema di kedalaman diri kita. Dengan itu, untuk maksud pertobatan dan keselamatan itu, Paulus menyerukan, “Jika seseorang berkemauan dan bekerja sesuai kehendak Allah berkaitan dengan rencana keselamatannya sendiri, maka Allah sendirilah yang bekerja dalam diri orang itu, dan Allah-lah yang memampukan dan memotivasi dia untuk melakukan kemauannya (Flp 2:12).

***

Kita bertobat dari apa saja? Kalau mau dilitanikan tentu jumlahnya tak terhitung, tapi kita tetap sadar bahwa kita rapuh. Oleh kerendahan hati untuk berubah dan terbuka untuk diperbaiki, dalam terang rahmat pertobatan, kita akan “sungguh” menjadi pribadi baru.

Tentu kita juga tetap menyadari bahwa kita tidak akan “sungguh-sungguh” seratus persen, dan dengan itu juga, kita akan “sungguh-sungguh” menjadi pribadi baru, karena oleh tanda abu tadi, kita adalah pribadi yang rapuh. Hal inilah yang kiranya selalu menyemangati kita untuk bangun lagi ketika sempat jatuh. Puasa dan pantang rohaniah pun mesti selalu kita wujudkan, bukan hanya pada masa prapaska ini. Mari, kita berbalik arah “dari dosa, kepada Allah”. Amin.*** (Flores Pos, Sabtu, 21 Februari 2015)

Advertisements

About Avent Saur

Lahir 27 Januari 1982 di kampung Weto, Kecamatan Welak, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Bulan kelahiran ini masih diragukan, karena Mama saya bilang saya dilahirkan pada bulan usai panen jagung dan padi. Yah... sekitar bulan Juli. Di akte kelahiran dan surat baptis (agama Katolik), 27 Juli 1982.Studi filsafat dan teologi pada Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero, Maumere, Flores, NTT. Pernah menjadi wartawan pada majalah bulanan KUNANG-KUNANG (2008-2009). Sekarang, tinggal di Ende, "bantu-bantu" di harian umum Flores Pos. Blog ini dibuat, sejak 20 April 2013.
This entry was posted in RENUNGAN and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s