Jalan Menuju Kemuliaan

  • Mimbar Minggu Flores Pos

Oleh Silvi M. Mongko, Pr

Menulis

Romo Silvi M. Mongko Pr, Staf Pembina Seminari Kisol, Keuskupan Ruteng, Manggarai Timur

Kisah injil hari Minggu Prapaska kedua ini hendak menegaskan makna terdalam dari kemuliaan. Jika diterjemahkan secara amat manusiawi, kemuliaan itu bisa dimengerti sebagai kehormatan atau harga diri.

Setiap orang tentu mempunyai kerinduan akan kehormatan atau harga diri. Ia bahkan menjadi salah satu kekuatan keberadaan kita sebagai manusia. Harganya demikian mahal, sehingga untuk mendapatkannya, orang harus mengorbankan banyak hal.

Kehormatan kadang mendikte penggemarnya. Ia bisa menggiring manusia terjebak dalam dua tegangan yang saling berlawanan: pilihan positif atau negatif. Karena desakan untuk kehormatan demikian kuat, hingga menjadi salah satu kebutuhan hidup, orang bisa memaknainya secara positif tatkala orang berjuang sungguh-sungguh demi kesuksesan. Ketika seseorang sukses meraih posisi atau jabatan tertentu, ia merasa puas, dan bersamaan dengan itu, ia merasa hidupnya terhormat di antara yang lain. Kehormatan demikian, boleh jadi, merupakan buah dari prestasi atau perjuangan seseorang.

Tapi kehormatan juga dapat menjadi energi negatif yang menuntun seseorang untuk bertindak sewenang-wenang. Demi meraih jabatan tertentu, seseorang bisa menindas atau memanipulasi yang lain. Kehormatan dapat menjadi kekuatan destruktif untuk meraih jabatan dengan cara yang curang. Contoh, seseorang yang berhasrat menjadi dewan rakyat, bupati atau wali kota dengan cara memanipulasi suara atau melancarkan politik uang. Lantas, kita tergolong orang terhormat model mana? Pertama atau kedua?

***

Yesus dalam injil Mrk 9:2-10, menunjukkan teladan akan kehormatan atau harga diri yang dimaknai secara positif. Bahwa untuk mencapai kemuliaan hidup, orang mesti siap untuk memberikan diri atau berkorban, bukan saja bagi diri sendiri tapi terutama untuk orang lain. Kemuliaan Yesus di Gunung Tabor sejatinya adalah gambaran tentang kemuliaan yang akan datang pasca kematiaan-Nya. Di situ, Yesus hendak mengarahkan para murid-Nya untuk menggali makna kehormatan atau kemuliaan hidup melalui jalan salib, jalan pengorbanan dan perjuangan. Itulah panggilan hidup sebagai murid Kristus. Dan sekitar tiga abad SM, seorang filsuf Yunani kuno Sokrates telah menunjukkan kepada orang-orang pada zamannya tentang tujuan tertinggi hidup manusia, yakni kebahagiaan atau kesempurnaan hidup. Dan jalan menuju kesempurnaan itu ialah arete, atau virtue, yang tak lain adalah kebajikan atau keutamaan diri. Atas maksud yang kurang lebih sama, sebagai pengikut Kristus, orang mesti memiliki kemuliaan yang tak lain adalah kebajikan, keutamaan hidup: kejujuran, keadilan, perjuangan melawan kelaliman dan lain-lain.

Kemuliaan bagi Yesus tak akan mungkin diraih melalui jalan cari gampang, atau praktik tidak adil, atau menindas, atau memanipulasi orang lain. Makna sejati akan kemuliaan ditemukan dalam pengorbanan salib itu sendiri dan perjuangan melawan ketidakadilan termasuk struktur kekuasaan yang menindas orang-orang lemah. Orang akan mencapai kemuliaan atau memiliki kebajikan hidup, jika tanggap terhadap situasi yang tak adil, berjuang melawan penindasan terhadap hak-hak asasi manusia serta memiliki kepekaan nurani untuk selalu menentang kejahatan sosial-politik. Dengan kata lain, kemuliaan orang-orang beriman dimaknai dalam kesediaannya untuk menjadi martir keadilan bagi sesama. Di situlah kemuliaan menuntut pengorbanan salib dan kesediaan untuk memberikan diri bagi sesama.

Pikiran sederhana ini hendaknya diinsafi setiap murid atau pengikut Kristus supaya hidup itu sungguh-sungguh dimaknai bukan saja untuk menciptakan kenyamanan bagi diri sendiri tapi terutama untuk mewujudkan kebahagiaan bagi orang lain. Ini sekaligus sebuah koreksi terhadap cara pandang orang-orang yang lebih mengagungkan hidup yang terlampau ingat diri dan mengabaikan sesama. Orang-orang demikian akan mengurung kesuksesannya bahkan melokalisir semua alasan, tujuan dan maksud kebahagiaan demi diri mereka sendiri. Dengan mindset demikian, mereka akhirnya memaknai kehormatan diri sebagai keterpisahan dari yang lain, atau membangun jarak dengan sesama. Orang-orang demikian akan merasa terhormat dan begitu menikmati kehormatan itu kalau disegani, ditakuti dan dijauhkan dari orang lain.

Tak sedikit penguasa yang membangun kehormatan atau harga diri yang semu. Mereka merasa terhormat kalau diterima dan dijemput dengan segala kemewahan saat melakukan blusukan, dan merasa sebaliknya, kehormatan dan harga diri tercopot jika tidak diterima secara mewah. Tak sedikit pengalaman membuktikan bahwa jabatan yang diraih akhirnya mengubah watak dan pola relasi seseorang terhadap sesama. Sebelum seseorang menjadi pejabat atau menduduki posisi terhormat, ia begitu akrab dengan tetangga atau rakyatnya. Begitu dilantik menjadi orang besar, ia mengambil jarak dengan rakyat karena takut kehilangan harga diri atau kehormatan jika menyatu dengan orang-orang kecil dan terlantar.

Saya cemas, penyakit harga diri semu seperti ini juga menyebar dalam tubuh Gereja, sehingga Gereja menjadi kumpulan orang-orang egois atau mereka yang mencari titik nyaman bagi diri sendiri. Dalam bahasa Paus Fransiskus, Gereja dirasuki oleh suatu fenomena “globalisasi ketidakpedulian”, sehingga penguasa-penguasa atau mereka yang merasa memiliki kuasa dalam Gereja justru membangun jarak dengan umat yang dilayani.

Saya kira, kemuliaan atau pengalaman Tabor Gereja hendaknya terjadi dalam pergumulan konkret dengan mereka yang sering tergusur secara sosial-politik, mereka yang hak-haknya selalu ditindas, mereka yang menjadi korban kekerasan dan kriminalitas sosial, mereka yang kemanusiaannya diperjualbelikan. Pengalaman Tabor Gereja tak mungkin ditemukan dalam kesombongan atau arogansi religius, tapi dalam keberanian untuk menjadi martir pembela keadilan dan perdamaian, keberanian untuk melawan dan meruntuhkan struktur kekuasaan yang selalu menindas. Gereja tidak perlu mewah-mewah, tapi mesti selalu menampilkan wajah kesederhanaan dan sanggup berbela rasa dengan mereka yang tersisih.

Keberhasilan misi Gereja diukur dengan sejauh mana ungkapan nyata dari sikap bela rasanya dengan mereka yang tertindas dan miskin. Dalam perhatian yang konkret dan nyata bagi mereka itulah Gereja merayakan Tabor kemuliaannya; di dalamnya Allah yang berbela rasa sungguh-sungguh menjadi pribadi yang konkret.

Itulah juga hendaknya menjadi pengalaman Tabor sosial-politik penguasa atau para pemimpin politik. Mereka mesti sanggup menunjukkan kemuliaan dari jabatan mereka dengan selalu berpihak pada nasib rakyat dan orang-orang yang sering kali hak-haknya ditindas. Pejabat yang memiliki kemuliaan atau kehormatan ialah mereka yang tahu apa yang menjadi kewajibannya bagi rakyat dan mereka yang sanggup mempertanggungjawabkan kepercayaan atau mandat rakyat. Semoga!*** (Flores Pos, Sabtu, 28 Februari 2015)

Advertisements

About Avent Saur

Lahir 27 Januari 1982 di kampung Weto, Kecamatan Welak, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Bulan kelahiran ini masih diragukan, karena Mama saya bilang saya dilahirkan pada bulan usai panen jagung dan padi. Yah... sekitar bulan Juli. Di akte kelahiran dan surat baptis (agama Katolik), 27 Juli 1982.Studi filsafat dan teologi pada Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero, Maumere, Flores, NTT. Pernah menjadi wartawan pada majalah bulanan KUNANG-KUNANG (2008-2009). Sekarang, tinggal di Ende, "bantu-bantu" di harian umum Flores Pos. Blog ini dibuat, sejak 20 April 2013.
This entry was posted in RENUNGAN and tagged , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s