Kualitas Pelayanan RSUD Ende Diharapkan dari Dokter Internsip?

  • Kolom Bentara Flores Pos

Oleh Avent Saur

Internsip

Sejumlah 21 dokter internsip (bukan intersip, dalam Flores Pos, Sabtu, 28 Februari) yang dikirim oleh Kementerian Kesehatan RI, diterima Bupati Ende dan jajarannya di Rujab Bupati pada Jumat (27/2). Kepada 21 dokter muda ini, kita tentu mengucapkan welcome. Dalam perencanaan, mereka akan ditempatkan di RSUD Ende dan pelbagai puskesmas terdekat di sekitar kota Ende.

Sebagai program nasional, pengiriman dokter internsip bukan cuma teruntuk Ende, melainkan juga daerah lain. Entah sudah berapa kali Ende menerima dokter internsip, sejak program ini dieksekusi pada Februari 2010, kita kurang memiliki informasi lengkap.

Dokter yang mengikuti program ini adalah dokter yang baru menyelesaikan studi kedokteran. Program ini harus diikuti sebagai prasyarat untuk karier profesional mereka dalam bekerja entah di rumah sakit, puskesmas atau pun klinik pribadi. Ini dimulai tahun 2010 melalui Peraturan Konsil Kedokteran Indonesia Nomor 1/KKI/PER/I/2010 dan diperbarui melalui UU No. 20/2013 tentang Pendidikan Kedokteran.

Itu berarti bekerja sebagai dokter internsip, adalah kesempatan penerapan pelbagai ilmu yang diperoleh di bangku kuliah dan mengembangkan profesionalitasnya melalui pengalaman melayani pasien. Kesempatan ini hanya berlangsung selamat satu tahun, dibimbing (di-supervisi) oleh dokter ahli. (Bahasa Inggris, internship: tugas dokter yang sedang dilatih di rumah sakit atau masa belajar keahlian).

Entah ke-21 dokter internsip di Ende sudah langsung bekerja atau belum (mungkin masih mengikuti orientasi), ketika mereka diterima, Bupati Ende menegaskan bahwa kedatangan dan pengabdian mereka diharapkan bisa meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan terhadap masyarakat Ende. Pertanyaannya, apakah pelayanan yang berkualitas bisa diharapkan dari dokter internsip? Toh, mereka hanya bekerja sebagai “pembantu” dokter; datang untuk berpraktik dan mulai berprofesi atau bermagang.

Sebetulnya, kualitas pelayanan tenaga medis, bukan terletak pada bertambahnya jumlah dokter (apalagi hanya dokter magang), melainkan pada kesungguhan tenaga medis dalam menjalankan tugasnya; kalau sebelumnya “belum sungguh”, maka harus diperbaiki menjadi “lebih sungguh”. Kualitas pelayanan juga terletak pada pengelola RSUD yang menyediakan pelbagai fasilitas memadai dan kesungguhan perawat yang berada lebih dekat dengan pasien di ruang perawatan.

Tanpa menafikan pelbagai prestasi RSUD Ende, kiranya kita harus jujur bertanya begini. Bagaimana mungkin pelayanan RSUD Ende berkualitas, kalau sendok makan dan air minum untuk pasien tidak disediakan? Kalau kain sprei dan bantal kurang disediakan, atau kain sprei dan sarung batal untuk beberapa minggu tidak dicuci atau kamar tidur dan mandi-WC pasien kurang dibersihkan? Kalau dalam satu ruang perawatan hanya tersedia satu wadah untuk menadah BAK beberapa pasien sakit berat?

Lanjut, kalau dua pasien gila Remigius Puji (sekarang masih di RSUD Ende) dan Anselmus Wara (beberapa bulan lalu) pernah diabaikan, tak terawat? Kalau perawat juga mengoperasikan game di komputer atau menonton televisi sementara beberapa kekurangan di ruang pasien tadi tidak diperhatikan? Kalau kritik konstruktif yang diungkapkan masyarakat di media massa ditanggapi secara kurang dewasa oleh perawat dan pengelola rumah sakit? Kalau para pengelola hanya menginginkan berita yang baik-baik saja di koran, sedangkan kekurangannya disembunyikan? Ada lagi yang lain.

Kita berbangga dengan kedatangan dokter internsip itu, tapi kualitas pelayanan pemerintah terhadap masyarakat, sekali lagi bukan terletak pada penambahan jumlah tersebut, melainkan pada pembaruan komitmen (semangat pelayanan) para dokter dan perawat yang sudah ada, dan pemenuhan pelbagai kekurangan bukan cuma di RSUD, melainkan juga di pelbagai wadah pelayanan kesehatan masyarakat di Ende. Itulah yang mau dipelajari dokter internsip, bukan cuma menerapkan ilmunya.*** (Flores Pos, Selasa, 3 Maret 2015)

Baca: Ende Mendapat 21 Dokter Internsip

Advertisements

About Avent Saur

Lahir 27 Januari 1982 di kampung Weto, Kecamatan Welak, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Bulan kelahiran ini masih diragukan, karena Mama saya bilang saya dilahirkan pada bulan usai panen jagung dan padi. Yah... sekitar bulan Juli. Di akte kelahiran dan surat baptis (agama Katolik), 27 Juli 1982.Studi filsafat dan teologi pada Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero, Maumere, Flores, NTT. Pernah menjadi wartawan pada majalah bulanan KUNANG-KUNANG (2008-2009). Sekarang, tinggal di Ende, "bantu-bantu" di harian umum Flores Pos. Blog ini dibuat, sejak 20 April 2013.
This entry was posted in OPINI and tagged , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s