Anselmus Wara Syeringkan Pengalaman Gangguan Jiwa

Ansel4

Ansemus Wara menyeringkan pengalamannya terkait gangguan jiwanya kepada peserta Koperasi Simpan Pinjam (KSP) Mawar yang mengunjungi Panti Rehabilitasi Jiwa Renceng Mose, Rabu (25/2).

  • Merasa Keadaannya Sudah Normal

Oleh Christo Lawudin

Ruteng, Flores Pos — Dalam kunjungan manajemen Koperasi Simpan Pinjam (KSP) Mawar ke Panti Rehabilitasi Jiwa Renceng Mose, Rabu (25/2), sejumlah penderita gangguan jiwa diberikan kesempatan untuk mensyeringkan pengalamannya. Salah satunya, Anselmus Wara (30 tahun) dari Kampung Kurumboro, Desa Tiwu Tewa, Kecamatan Ende Timur, Kabupaten Ende yang kondisi kesehatannya sudah mengalami kemajuan pesat dan sehat.

Dalam syeringnya, Anselmus yang adalah mantan mahasiswa FKIP di Universitas Flores (Uniflor) Ende itu mengatakan, pengalaman yang paling menyakitkannya adalah saat dipasung di rumahnya di Kampung Kurumboro selama berbulan-bulan karena sakit jiwa (gila), pada akhir November 2013-Mei 2014. Dengan pemasungan, saya justru semakin menderita dan mengalami kesakitan yang luar biasa, malah hampir mati.

“Saya mengalami hidup di kayu pasungan, di salah satu kamar rumah orangtua saya, selama kurang lebih 6 bulan. Saya sudah sakit jiwa (gila), tetapi sakitnya  bertambah lagi karena warga Kampung Kurumboro memasung kedua kaki saya hingga luka borok. Saya sangat menderita saat itu. Karena itu, kepada keluarga atau siapa pun, saya minta, tidak boleh memasung orang dengan gangguan jiwa karena pemasungan akan menambah beratnya penderitaan,” katanya.

Dibantu Pater Avent Saur, SVD

Dalam penderitaan yang luar biasa dalam pemasungan, di mana kedua kaki sudah berluka memborok dan membusuk (berulat), kata Anselmus, dirinya dan keluarganya mendapat banyak perhatian dan bantuan konkret dari Pater Avent Saur SVD (tahbis tahun 2011) yang bekerja sebagai wartawan di Harian Umum Flores Pos, Ende. Berkat perjuangan Pater Avent, dirinya mendapat perhatian banyak orang, terutama dari pemerintah dan Gereja.

“Pater Avent berani menemui Bupati Ende dan jajarannya serta Uskup Agung Ende, hingga saya terbebas dari kayu pasungan pada Mei 2014, kemudian dirawat di RSUD Ende selama 5 bulan (sampai Oktober 2014), lalu di antar ke panti ini. Sekarang saya berada di Ruteng karena berkat campur tangan, perhatian dan kepedulian luar biasa dari Pater Avent,” ujarnya.

Keadaaan sekarang, kata Anselmus, sudah baik dan sehat. Dirinya tidak lagi mendengar suara-suara atau bisikan-bisikan yang tidak jelas di kepalanya atau tidak melihat bayangan-bayangan lagi seperti dahulu. Kepalanya juga terasa tidak berat lagi, sangat ringan. Keadaannya tenang, aman dan sehat.

Dalam situasi seperti itu, kata Ansel, kuat sekali keinginan untuk hidup seperti biasa lagi. Dirinya mau menjadi manusia yang baik dan mau bekerja untuk menghidupi diri sendiri. Dirinya telah melupakan pelbagai pengalaman lama yang menyakitkan atau yang tidak baik.

Pengalaman serupa disampaikan Nyonya Ety Bupu asal Jerebuu, Kabupaten Ngada. Menurutnya, dirinya telah berobat ke mana-mana, malah sampai di Jawa, tetapi ia tak kunjung mengalami kesembuhan. Belakangan, keluarga membawanya ke Panti Renceng Mose, Ruteng. Selama ditangani di panti rehabilitasi ini, keadaannya sudah berubah ke arah yang lebih baik.

“Saya bisa mensyeringkan pengalaman ini adalah bukti bahwa keadaan saya baik. Saya berterima kasih kepada Panti Renceng Mose karena membuat hidup saya kembali berarti,” kata Ety yang pernah menjadi pembina di asrama putri SMPK Immaculata Ruteng ini.

Suasana Akrab

Disaksikan Flores Pos, saat memasuki halaman tengah panti yang terletak di jalur jalan lingkar luar Kota Ruteng, persisnya di dekat stadion bola kaki (sekarang sudah mibazir), Kelurahan Golo Dukal, Kecamatan Langke Rembong itu, hampir  semua penghuni keluar dari kamarnya masing-masing. Mereka tampak akrab satu sama lain walaupun ada satu dua penderita berperilaku agak aneh-aneh.

Wajah orang gila yang sering tampak bengis dan tidak bersahabat, tidak terlihat sama sekali pada saat itu. Mereka tampak akrab dengan para bruder dan pengasuh.

Sepontan juga, mereka berjabat tangan dengan pengunjung dengan penuh keakraban. Ketika disuruh memasuki ruang untuk bertemu pengunjung, mereka masuk dengan tertib dan duduk tenang. Tidak ada yang ribut atau berbicara sendiri-sendiri walaupun ada juga yang keluar dan masuk ruangan begitu saja tanpa pamit. Kendati demikian, semua tampak tertib dan sepintas terkesan, mereka bukan orang dengan gangguan jiwa.*** (Flores Pos, Kamis, 5 Maret 2015)

Suap

Pater Avent Saur SVD menyuapi Ansel di kamar pemasungan, Minggu (13/4/2014)

 

Advertisements

About Avent Saur

Lahir 27 Januari 1982 di kampung Weto, Kecamatan Welak, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Bulan kelahiran ini masih diragukan, karena Mama saya bilang saya dilahirkan pada bulan usai panen jagung dan padi. Yah... sekitar bulan Juli. Di akte kelahiran dan surat baptis (agama Katolik), 27 Juli 1982.Studi filsafat dan teologi pada Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero, Maumere, Flores, NTT. Pernah menjadi wartawan pada majalah bulanan KUNANG-KUNANG (2008-2009). Sekarang, tinggal di Ende, "bantu-bantu" di harian umum Flores Pos. Blog ini dibuat, sejak 20 April 2013.
This entry was posted in BERITA and tagged , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s