Bukan Kurban

  • Kolom Kutak-Kutik Flores Pos

Oleh Avent Saur

ritus

Ritus

Yang Kukehendaki bukan kurban melainkan kasih-setia.

***

Perkataan ini bisa ditemukan dalam Kitab Suci Kristen, entah persisnya terdapat dalam kitab apa, entah penulisnya siapa. Para nabi sebagai penyambung lidah Yahwe (pribadi sembahan) senantiasa menyerukan itu kepada umat selaku penyembah yang menganut kepercayaan monoteisme.

Terhadap monoteisme, komitmen para theis itu tidak bisa diragukan lagi, sekalipun terkadang, mereka menyelipkan tuhan-tuhan (dewa-dewi baal) ketika menemukan jalan buntu atau ketika mengalami “napas sesak”, sekalipun juga baal-baal itu tidak menjamin rahmat “napas lega”. Tapi umumnya, iman monoteisnya kokoh.

Persoalannya adalah ketika Yahwe dipandang dan diyakini serta diperlakukan “terlampau kudus” di mana kekudusan itu menyilaukan mata telanjang dan tak terjangkau kemampuan psiko-religius manusia; ketika kemahakudusan itu dianggap mesti dijaga, dimuliakan bahkan dibela dengan pelbagai ritus dan pendarasan doa-doa yang panjang-panjang.

Ketika itu, para theis merasa bahwa penyembahan terhadap Yahwe sudah selesai, keikutsertaannya dalam sebuah aliran kepercayaan sudah terwujud, atau imannya yang kental sudah terlaksana secara sungguh.

Praktik-praktik ritual ini biasanya sulit, sehingga ketika orang menerobosi kesulitan ini, akan muncul perasaan religius-spontan: merasa diri lebih mendekati Yahwe, lebih mengalami kekudusan Yahwe, dan selalu berkombinasi dengan sikap mencibir, mengesampingkan dan merendahkan sesamanya yang masih berada di balik batas kesulitan tadi.

Banyak orang memang berjuang menembusi kesulitan itu, tapi tidak tertembus, terutama bukan karena kesulitan itu memiliki sifat tak tertembuskan, melainkan karena daya upaya penembusan yang dikerahkan para theis tak mencukupi (kurang militan). Orang pun mengambil-bagian dalam kekudusan itu secara berkeping-keping saja, bahkan ala kadarnya saja; yah, entah banyak alasannya, tapi boleh juga terjadi, sikap destruktif orang-orang yang telah menembusinya (mencibir, mengesampingkan dan merendahkan sesamanya), melemahkan daya juang orang lain.

***

Di tengah karut-marut praksis religius ini, Yahwe datang menyapa para theis melalui lidah para nabi. Kata-Nya, “Itu namanya kurban, dan bukan kurban yang Kukehendaki”. Lalu apa? “Kasih-setia!”

Tentu ini bukan sekali seru saja. Semua nabi dalam sejarah keagamaan apa saja, selalu mengeluarkan kata-kata ini dari lidahnya yang seringkali tajam. Bahkan pada abad ini, seruan ini terdengar dari mulut para nabi yang berada di mana-mana dalam pelbagai jenis rumah kebaktian dan di “tanah-tanah lapang”, dan adalah sangat mungkin, seruan ini terus diperdengarkan hingga keabadian.

Ya, hingga keabadian. Karena toh, bagaimana mungkin seruan itu terhenti, kalau di pelbagai lorong kota, desa dan kampung, masih ada orang-orang yang sepi dari sentuhan kasih-setia sesamanya? Orang berkuasa memang berkomitmen untuk menghibur mereka, tapi komitmennya tak kunjung terwujud. Orang tak berkuasa juga memang bertekad mewujudkan kasihnya, tapi tekadnya tak kunjung terlaksana karena katanya ia tak punya kuasa, ruang geraknya terbatas.

Para gembala mengajarkan kasih kepada dombanya, tapi ketika berpapasan dengan orang tak waras (gila) di pinggir jalan, ia hanya tersenyum lalu mendesiskan kata “kasihan”. Ia juga mengajak dombanya untuk menghadiri ritus-ritus di rumah ibadat, tapi ia tidak mencari tahu apakah ada umat yang tidak hadir karena sakit atau terlilit persoalan rumah tangga atau masalah karier?

Iman kadang diukur dari seberapa besar uang kolekte yang terkumpul, seberapa besar uang pembangunan yang tertampung, seberapa jumlah iuran tahunan yang terbayar, seberapa besar nilai tagihan untuk pelbagai dokumen Gereja, seberapa banyak barang-barang persembahan saat ekaristi, atau juga seberapa banyak umat yang terlibat dalam membersihkan lingkungan gedung gereja dan saat menanggung liturgi Gereja? Semuanya ini dihitung.

Lalu sebaliknya, siapa berani menghitung iman seorang gembala dengan memakai standar intensitas kunjungannya terhadap umat yang menginap di rumah sakit, dan yang ditahan di sel-sel tahanan dan lembaga pemasyarakatan? Bukankah kebaikan seorang gembala, dan dengan demikian juga kualitas imannya, dihitung dari keterlibatannya dalam merayakan ekaristi arwah dan pemberian sakramen minyak suci? Siapa yang merasa diri kurang memiliki kasih, dan dengan demikian mengukur imannya, ketika membiarkan orang sakit tidak ditolong, atau keluarga yang cekcok tidak dicarikan solusi, atau pisah ranjang tanpa penyelesaian yang pasti.

Ada banyak hal lain lagi, yang mestinya dipakai untuk mengukur tinggi-rendahnya kualitas kasih dan membandingkannya dengan kurban ritual.

Para theis menyadari bahwa kasih-setia itu terlampaui penting, dan kurban itu hal sampingan saja. Tapi betapa harus diterusterangkan bahwa betapa sulitnya mewujudkan kasih-setia secara nyata. Sulit, bukan karena dihalang-halangi, melainkan karena diri sendiri kurang kuat membagikan diri kepada sesama. Bahkan mendukung sesama yang berani membagikan diri saja, merasa tidak kuat. Demikian misalnya, yang terjadi dengan kasus roti kaigi di Maumere. Yang lain menyatakan kasih, yang lain lagi justru menghalang-halanginya.

Yang mestinya diperjuangkan oleh orang theis adalah bukan menemukan kasih dalam pelbagai jenis kurban (ritus) di tempat kebaktian, melainkan menemukan kurban dalam pelbagai jenis tindakan kasih. Seorang theis mesti memperjuangkan ini tiada henti.

***

Hakim Sarpin bilang, dirinya bertanggungjawab terhadap Tuhan, bukan kepada Komisi Yudisial, soal keputusan menerima praperadilan Budi Gunawan. Tapi Komisi Yudisial bilang, kalau di akhirat yah pasti, itu dipertanggungjawabkan kepada-Nya. Tapi di dunia ini, Sarpin harus bertanggungjawab kepada masyarakat.

Banyak orang bertopengkan keyakinan religius untuk melegitimasi tindakan destruktif. Kita, salah satu di antara banyak orang itu? Entahlah. Bukan kurban, melainkan kasih-setia. Itulah kehendak-Nya.*** (Flores Pos, Kamis, 26 Maret 2015)

About Avent Saur

Lahir 27 Januari 1982 di kampung Weto, Kecamatan Welak, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Bulan kelahiran ini masih diragukan, karena Mama saya bilang saya dilahirkan pada bulan usai panen jagung dan padi. Yah... sekitar bulan Juli. Di akte kelahiran dan surat baptis (agama Katolik), 27 Juli 1982.Studi filsafat dan teologi pada Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero, Maumere, Flores, NTT. Pernah menjadi wartawan pada majalah bulanan KUNANG-KUNANG (2008-2009). Sekarang, tinggal di Ende, "bantu-bantu" di harian umum Flores Pos. Blog ini dibuat, sejak 20 April 2013.
This entry was posted in OPINI and tagged , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s