Sarjana Ideal dan Real

Uniflor

Suasana wisuda sarjana Universitas Flores, Ende. (Foto: floresbangkit.com)

Oleh Avent Saur

Universitas Flores (Uniflor) Ende mewisuda sarjana baru sebanyak 1.084 orang, pada Sabtu (28/3). Kita tentu mengucapkan proficiat.

Banyak orang hadir, dan dua di antaranya, I Nengah Dasi Aswara (Kopertis Wilayah VIII) dan Adrianof A. Chaniago (Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional). Dari dua orang ini, ada banyak pernyataan dan harapan untuk para sarjana dan lembaga, belum lagi pernyataan dan harapan dari pemimpin lembaga Uniflor.

I Nengah Dasi Aswara, misalnya, menyatakan bahwa Uniflor adalah salah satu perguruan tinggi swasta terbaik di Flores. Karena itu, para calon mahasiswa mesti memanfaatkan “keterbaikan” ini dengan cara menimba ilmu di dalamnya.

Sekalipun “sudah terbaik”, Aswara tetap berharap, Uniflor melakukan tiga hal: tingkatkan kapasitas dosen (mesti S-2 dan S-3), sediakan fasilitas memadai dan berikan ruang kreativitas kepada mahasiswa. Semuanya ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas sarjana: berpengetahuan memadai dan bermental kuat dalam bersaing di dunia kerja. Dengan kualitas-kualitas ini, sebagaimana diharapkan Adrianof A. Chaniago, sarjana akan mampu terlibat dalam pembangunan daerah, dan dengan itu, juga pembangunan nasional.

Adrianof A. Chaniago

Adrianof A. Chaniago, Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas)

Dengan harapan ini, maka sebetulnya, kualifikasi “terbaik” itu belum diraih secara sungguh. Bahkan apa yang terbaik itu sebetulnya masih jauh dari harapan, atau mungkin juga yang terbaik itu tidak akan tercapai sebagai yang sungguh-sungguh terbaik. Dan itulah idealisme.

Pertama, sebab sesungguhnya, kualitas sarjana (juga panti pendidikan) tidak hanya dicapai dengan meningkatkan kapasitas dosen, tetapi terutama seberapa tulus seorang dosen membagikan pengetahuannya (tidak pelit, tidak tertutup, tidak malas) kepada calon sarjana, seberapa realistis seorang dosen memberikan nilai seturut kemampuan akademik calon sarjana (tidak permisif), seberapa terbuka seorang dosen memberikan bimbingan karya ilmiah terhadap calon sarjana (tidak jual mahal), seberapa intens seorang dosen membina moral calon sarjana dan seberapa besar tanggapannya terhadap masalah sosial-politik-budaya-ekonomi?

Kedua, sebab sesungguhnya, kualitas sarjana (juga panti pendidikan) tidak hanya dicapai dengan cara menyediakan fasilitas memadai, tetapi terutama seberapa intens mahasiswa memanfaatkan fasilitas itu, seberapa besar dorongan dosen terhadap mahasiswa untuk memanfaatkan fasilitas itu, seberapa serius mahasiswa mengerjakan tugas, seberapa besar tanggapannya terhadap masalah sosial-politik-budaya-ekonomi?

Ketiga, sebab sesungguhnya, kualitas sarjana tidak hanya ditentukan oleh ruang kreativitas yang diberikan kampus, tetapi terutama seberapa jauh calon sarjana menciptakan ruang kreativitas internal dan eksternal kampus, seberapa intens calon sarjana memanfaatkan ruang-ruang itu, seberapa besar semangat perubahan mindset-nya yang masih memandang ruang kreativitas sebagai penghalang pencapaian prestasi akademik?

Supaya panti pendidikan dan sarjana itu meraih “yang terbaik”, pertanyaan-pertanyaan retoris ini mesti dijawab bukan hanya dengan retorika melainkan terutama dengan tindakan, bukan hanya dengan pernyataan-pernyataan ideal melainkan terutama dengan perbuatan-perbuatan real.

Itulah sarjana ideal yang kita harapkan lahir dari pelbagai panti pendidikan (bukan cuma Uniflor). Harapan selanjutnya, dengan kualitas yang dimilikinya, sarjana akan berkiprah di lapangan dengan memberikan kontribusi bagi perubahan sosial. Kata Stephanus Djawanai, “untuk  membangun negeri, kita memang membutuhkan banyak orang, tapi yang terutama kita membutuhkan orang berkualitas: butuh manusia penyembuh, pengasih, pemberdaya, peduli, yang tegar dan memperbaiki diri (olah pikir, rasa, hati dan fisik).

Sejauh mana Uniflor menggapai ideal-ideal ini, sejauh itu pula kualitas sarjananya, sejauh itu pula kualitas pembangunan daerah kita, sejauh itu pula kualitas peradaban manusia di daerah kita, sekalipun Uniflor bukan satu-satunya penentu.*** (Flores Pos, Selasa, 31 Maret 2015)

Advertisements

About Avent Saur

Lahir 27 Januari 1982 di kampung Weto, Kecamatan Welak, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Bulan kelahiran ini masih diragukan, karena Mama saya bilang saya dilahirkan pada bulan usai panen jagung dan padi. Yah... sekitar bulan Juli. Di akte kelahiran dan surat baptis (agama Katolik), 27 Juli 1982.Studi filsafat dan teologi pada Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero, Maumere, Flores, NTT. Pernah menjadi wartawan pada majalah bulanan KUNANG-KUNANG (2008-2009). Sekarang, tinggal di Ende, "bantu-bantu" di harian umum Flores Pos. Blog ini dibuat, sejak 20 April 2013.
This entry was posted in OPINI and tagged , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s