Mengabdi Tuhan dalam Diri Orang Lemah

Tiarap

Tiarap – Ketika suster yubilaris bertiarap di depan altar saat umat menyanyikan litani para kudus sebagai tanda kerendahan hati dan ketidakberdayaan serta penyerahan diri yang total kepada Tuhan yang memanggil mereka, dalam perayaan ekaristi kaul kekal, di Kapel Biara CSV Ndona, Jumat (24/4) sore.

  • Pengikraran Kaul Kekal Tiga Suster CSV
  • Di Madre Agung dari Roma

Oleh Remigius Fobia

Ende, Flores Pos — Tiga suster kongregasi Wajah Kudus atau Congregazione Santo Volto (CSV) mengikrarkan kaul kekal di hadapan Madre Agung Annalisa Galli di Kapel Biara CSV Ndona, Ende, Jumat (24/4) sore. Ketiga suster dimaksud ialah Suster Maria Delvina Rene CSV, Suster Maria Ursula Niga Beding CSV, dan Suster Maria Agustina Bupu CSV. Perayaan pengikraran kaul kekal ini dipimpin Uskup Agung Ende, Mgr. Vincentius Sensi Potokota didampingi Pater Provinsial SVD Ende Pater Leo Kleden SVD dan Romo Vikjen Keuskupan Agung Ende (KAE) Romo Cirylus Lena Pr bersama belasan imam konselebrantes lainnya.

Turut hadir puluhan biarawan dan biarawati, orang tua dan keluarga yubilaris, serta umat yang hadir memenuhi kapel dan halaman Kapel Biara CSV Ndona. Perayaan dimeriahkan oleh kor Orang Muda Katolik (OMK) Paroki Ndona dengan membawakan lagu-lagu yang indah dan merdu serta diiringi musik keybord.

Wajah Yesus yang Menderita dan Mulia

Uskup Sensi dalam khotbahnya secara khusus menekankan wajah Yesus yang menderita yang menghantar diri-Nya masuk pada kemuliaan Bapa-Nya. Suster-suster Wajah Kudus. lanjut Uskup Sensi, dipanggil untuk mencari, mencintai dan mengabdi wajah Yesus dalam diri sesama yang menderita, yang lemah dan tertindas. Wajah sesama itu perlu dipulihkan. Yesus memilih salib untuk menebus dosa manusia, sebab umat manusia hanya dapat dibebaskan oleh Allah.

Mgr Vincentius Sensi Potokota Pr

Mgr Vincentius Sensi Potokota Pr

Uskup Sensi juga menyebutkan wajah Yesus yang mulia yang ditunjukkan di atas Gunung Tabor. Ini merupakan misi CSV yang terus ditumbuhkembangkan dalam perkembangan Gereja. Ketiga suster diajak untuk menunjukkan kaul-kaul yang diikrarkan dalam kehidupan untuk memulihkan wajah Yesus yang menderita dan sengsara.

Mengasihi Tanpa Batas

Sementara Madre Agung Suster Annalisa Galli dalam sambutannya kembali menegaskan kata-kata pendiri yang mengatakan, “betapa indahnya hidup seorang suster yang sungguh menyerahkan diri secara utuh dan untuk selamanya kepada Tuhan, untuk melayani sesama dan mengembalikan senyum pada wajah-wajah yang dirusak oleh penderitaan; betapa indahnya hidup seorang suster yang mengikuti jejak Sang Guru Ilahi dalam segala sesuatu, dan dengan demikian, ia dimampukan mengasihi tanpa batas, sama seperti Yesus, Ia menyerahkan hidup agar semua orang memiliki hidup secara berlimpah-limpah”.

Suster Annalisa Galli CSV

Suster Annalisa Galli CSV

Keindahan dan sukacita hidup kita, katanya, adalah pantulan wajah Yesus yang bersinar sehingga kita dipanggil untuk menyebarluaskannya di tengah dunia yang semakin rusak oleh ketidakadilan, kekerasan dan korupsi.

“Kepada kita, telah diberikan wajah Yesus, dan kita ingin agar ia tersenyum di seluruh pelosok dunia yakni membawa sukacita dan harapan di tengah dunia agar wajah Yesus tersenyum dalam wajah sesama,” ujarnya.

Madre Agung mengajak ketiga suster untuk jangan membuat orang lain menderita. Membuat wajah Yesus tersenyum merupakan satu misi yang tidak gampang, namun semuanya tentu dapat dilaksanakan apabila bersatu dengan-Nya sambil memiliki pikiran dan perasaan untuk mengasihi dan mengampuni.

Proficiat

Madre Agung juga mengucapkan proviciat kepada ketiga suster dan mengajak mereka untuk terus berjalan dalam terang. Madre juga menyampaikan terima kasih kepada semua yang turut berpartisipasi dalam pesta sukacita ini.

“Provisiat saudari-saudariku. Marilah berjalan senantiasa dalam terang. Terima kasih dari lubuk hati kepada semua yang telah bekerja sama dengan murah hati, sukacita dan antusiasme dalam menyiapkan pesta ini. Semoga wajah Tuhan yang penuh terang, damai dan sukacita senantiasa berseri kepada kita,” demikian Madre Agung.

Wakil orang tua ketiga suster yang berkaul kekal, Yohanes Ngata Keraf mengatakan, sebagai orang tua mereka sangat berbahagia karena di tengah degradasi iman yang semakin tercoreng karena wajah kudus Yesus yang berseri, putri-putri mereka mau memandang wajah Yesus dalam diri sesama yang lemah dan menderita dengan mengikrarkan kaul kekal. Menurut Keraf, panggilan hidup membiara sudah sangat susah. Namun lewat pengikraran kaul kekal, para suster mau terjun ke dunia yang penuh dengan tantangan untuk terus menumbuh-kembangkan Gereja ke depan.

“Konggregasi ini (CSV) telah berhasil menempa anak-anak kami untuk mengembangkan Gereja Allah ke depan. Mereka telah memutuskan untuk mengambil harta yang agung dan kekal sehingga tidak bisa diambil oleh siapa pun yakni Yesus sebagai mempelai mereka untuk selamanya,” katanya.

Daerah Asal

Sebagaimana diberitakan media ini sebelumnya, ketiga suster yubilaris berasal dari daerah yang berbeda. Suster Delvina berasal dari Sokoria, Ndona Timur, Kabupaten Ende, Kevikepan Ende, Keuskupan Agung Ende. Suster Ursula berasal dari Lamalera, Kabupaten Lembata, Keuskupan Larantuka. Sedangkan Suster Agustin berada dari Aimere, Kabupaten Ngada, Keuskupan Agung Ende, Kevikepan Ngada.

Sejak kehadirannya di Indonesia, Kongregasi Wajah Kudus telah menghasilkan 33 suster berkaul kekal dan 27 suster berkaul sementara. Dari jumlah tersebut, beberapa suster sedang berkarya dan menjalankan studi di Italia dan Bolivia, sementara yang lainnya berkarya dan studi di Indonesia. Sedangkan para calon berjumlah 11 orang dengan rician 2 novis, 6 postulan dan 3 aspiran.

Suster-suster Kongregasi Wajah Kudus atau Congregazione Santo Volto (CSV) Indonesia bekerja di empat keuskupan yang ada di wilayah Nusa Tenggara (Nusra) antara lain Keuskupan Maumere, Keuskupan Agung Ende, Keuskupan Agung Kupang dan Keuskupan Weetebula. Pada setiap keuskupan terdapat masing-masing satu komunitas, kecuali di Keuskupan Agung Ende, dan berkarya dalam pelbagai bidang misioner. Pada setiap komunitas terdapat tiga sampai belasan suster.*** (Flores Pos, Senin, 27 April 2015)

Advertisements

About Avent Saur

Lahir 27 Januari 1982 di kampung Weto, Kecamatan Welak, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Bulan kelahiran ini masih diragukan, karena Mama saya bilang saya dilahirkan pada bulan usai panen jagung dan padi. Yah... sekitar bulan Juli. Di akte kelahiran dan surat baptis (agama Katolik), 27 Juli 1982.Studi filsafat dan teologi pada Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero, Maumere, Flores, NTT. Pernah menjadi wartawan pada majalah bulanan KUNANG-KUNANG (2008-2009). Sekarang, tinggal di Ende, "bantu-bantu" di harian umum Flores Pos. Blog ini dibuat, sejak 20 April 2013.
This entry was posted in BERITA and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s