Wajah Terhina dan Wajah Kita

mother-teresa-feeding

Santa Theresa dari Kalkuta, India yang memperhatikan orang-orang lemah.

  • Kolom Bentara Flores Pos

Oleh Avent Saur

Apabila kita menyambangi Biara Kongregasi Wajah Kudus/Congregazione Santo Volto (CSV) Ndona, Ende, pada salah satu dinding ruang tamu, terpampang gambar wajah Tuhan Yesus, berambut panjang terurai, berjanggut dan berkumis tebal-panjang. Pandangan mata-Nya tajam dengan bibir tiada senyuman. Tapi keseluruhan wajah itu mengesankan: lembut, tenang, damai.

Gambar wajah itu juga terdapat pada salah satu dinding ruang tamu di Biara CSV Koting, Maumere. Ya, bukan tidak mungkin, pada semua biara CSV terdapat gambar itu: CSV Wekaseko (Kevikepan Ngada), CSV Kuanino di Kupang dan CSV Weekumbaka di Sumba Barat Daya (FP, 25/4).

Wajah itu berbeda dengan wajah dalam buku “Profil Beata Maria Pia Mastena”. Pada langit biru terdapat awan membentuk salib. Pada pertemuan kayu palang itu terdapat wajah Tuhan: mata pejam, rambut panjang, dengan janggut dan kumis tipis. Pada dahi kiri-Nya, darah mengalir menuju alis mata. Wajah inilah yang tampak kepada sang pendiri Maria Pia Mastena pada waktu ia berumur 10 tahun, dan vision itu terus menghantui perjalanan rohaninya, hingga akhirnya, ia berani mendirikan Congregazione Santo Volto, berawal dari rumah usang di San Fior-Italia (1927), sebagaimana yang diminta oleh Yesus dalam vision tersebut.

Entah apa pun rautnya, tetap itulah wajah Tuhan; wajah terhina yang pada-Nya semua kehinaan manusia terkumpul, semua beban dosa, berat dan letihnya suka-duka hidup manusia tertanggung, semua persoalan di jalan ziarah hidup manusia terakomodasi. Ia terhina, bahkan bodoh, tetapi Santo Paulus menyatakan bahwa itu sebuah kebodohan suci.

Para suster CSV, secara khusus, Suster Maria Delvina Rene, Suster Maria Ursula Niga Beding, Suster Maria Agustina Bupu yang mengikrarkan kaul kekal, Jumat (24/4) sore, sambil memandang wajah Tuhan dalam gambar tanpa nyawa itu, mereka mencari dan melayani Tuhan dalam diri orang-orang terhina, melalui pelbagai karya misioner seperti dalam bidang pendidikan, pastoral parokial, kesehatan, dan kaum muda, pelbagai karya lainnya (FP, 24-27/4).

Bukan cuma suster-suster CSV, kita sekalian tak tega menyaksikan orang-orang terhina, semisal, orang sakit (fisik dan psikis), nara pidana, orang miskin dengan pakaian sederhana, reot bahkan tersobek, para pedagang amatir dan orang-orang miskin dengan rumah seadanya. Tapi seringkali, kita hanya berani mengucapkan kata “kasihan”, “aduh” atau juga “ngeri sekali”, mestinya lebih dari itu, sebuah langkah praktis.

Pengabaian terhadap orang kecil patut disayangkan, terutama kalau pengalaman-pengalaman seperti ini mewarnai hidup para pelayan publik, semisal, para pemimpin politik dan agama, atau juga tokoh masyarakat/adat, yang pada waktu tertentu menyatakan diri bahkan bersumpah untuk mengabdikan diri kepada orang-orang tadi. Identitas “pelayan publik” hanya menjadi label yang enak dan nyaman dipakai pada nama, tapi kurang diwujudkan dalam kehidupan nyata.

Lebih lagi, sering terjadi, kita bukan hanya tidak mengabdi pada wajah-wajah yang menderita yang adalah representasi wajah Tuhan, wajah moralitas bangsa dan masyarakat, melainkan malah menambah daftar wajah-wajah terhina itu: membuat orang menderita, mempermiskin, merendahkan martabat, menghilangkan nyawa secara legal, menodai hak-hak asasi manusia, dan lain-lain.

Pengikraran kaul kekal ketiga suster Kongregasi Wajah Kudus setidaknya menggugah kita untuk secara bersama melayani Tuhan dalam diri orang-orang yang membutuhkan kepedulian dan pertolongan kita, atau orang-orang yang memang berada di bawah tanggung jawab pekerjaan atau profesi kita, lebih dari itu, di bawah tanggung jawab moral kemanusiaan kita. Wajah mereka adalah wajah kita.*** (Flores Pos, Selasa, 28 April 2015)

Advertisements

About Avent Saur

Lahir 27 Januari 1982 di kampung Weto, Kecamatan Welak, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Bulan kelahiran ini masih diragukan, karena Mama saya bilang saya dilahirkan pada bulan usai panen jagung dan padi. Yah... sekitar bulan Juli. Di akte kelahiran dan surat baptis (agama Katolik), 27 Juli 1982.Studi filsafat dan teologi pada Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero, Maumere, Flores, NTT. Pernah menjadi wartawan pada majalah bulanan KUNANG-KUNANG (2008-2009). Sekarang, tinggal di Ende, "bantu-bantu" di harian umum Flores Pos. Blog ini dibuat, sejak 20 April 2013.
This entry was posted in OPINI and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s