“Locus Solidarietatis”

RSUD Ende

Pemandangan dari depan RSUD Ende.

  • Sentilan untuk RSUD Ende

Oleh Avent Saur, SVD

Mungkin terbilang sederhana, tetapi pengalaman berikut menggambarkan kinerja pengabdian dan tanggung jawab para perawat serta mengandung konsekuensi luar biasa terhadap pasien.

Ibu Sakit

Belum lama ini, di sebuah lorong dalam kompleks RSUD Ende, seorang ibu berjalan tertatih sambil merintih kesakitan dipapah dua anggota keluarganya. Katanya, sudah beberapa hari, ia menginap di salah satu ruang bersalin di RSUD Ende, tapi hari itu, ia belum juga melahirkan. Ia memutuskan keluar dari ruangannya karena tak bertahan tidur atau duduk atau berdiri di tempat tidur atau di ruang perawatan.

Mengapa tak bertahan? Ia kesakitan hendak melahirkan, dan terus menanti saat yang tepat untuk melahirkan. Ia ingin berjalan-jalan, sekalipun agak setengah mati, untuk mengalami keadaan baru, merasakan udara segar sekurang-kurangnya di teras ruang perawatan.

Beberapa anggota keluarga termasuk pemapah meyakinkan dia untuk tidak merintih dan segera kembali memasuki ruang perawatan. Beberapa orang yang kebetulan melewati lorong itu juga berjuang meyakinkan dia untuk tetap kuat dan bertahan dalam kesakitannya.

“Semestinya, para perawat menemani dia, dan memberikan kekuatan melalui kata-kata yang ampuh seturut strategi bidang keperawatan. Sekurang-kurangnya, perawat juga memberikan sedikit pengetahuan tentang efek negatif atau positif dari berjalan-jalan saat sakit melahirkan, agar setidaknya secara psikologis, pasien mendapat kekuatan dan keyakinan baru untuk menjalani kesakitannya dengan penuh harapan membaik. Atau perawat setidaknya berada bersama pasien di lorong ini, supaya kalau terjadi ‘apa-apa’, bisa segera ditangani.” Begitu kata saya sekenanya saja.

Kita mungkin agak heran atau tercengang ketika mendengar pengakuan anggota keluarganya. “Kami sudah omong kepada perawat tadi, tetapi mereka tidak mau, sehingga kami jalan saja ke sini. Tidak apa-apa, harap dia bertahan.”

“Itu sudah biasa. Jangan mengharapkan perawat membantu papah begini, atau memberikan kata-kata peneguhan dan yang menguatkan begini, kecuali kalau para perawat atau dokter di rumah sakit misi (misionaris).” Begitu kata seorang ibu berpakaian dinas kepemerintahan Kabupaten Ende, menyambung omongan anggota keluarga itu.

Tanggung Jawab

Apakah pengakuan anggota keluarga itu benar adanya atau salah, dan apakah perkataan komparatif yang terungkap dari ibu pegawai negara tersebut cukup valid atau sekenanya saja, mungkin sebaiknya tidak perlu ditelusuri atau ditafsir lebih jauh. Yang utama dan pertama dipikirkan adalah keadaan pasien di lorong itu dan tanggung jawab perawat terhadapnya.

Bahwasanya, semua pasien yang dirawat inap di sebuah rumah sakit, pertama-tama adalah berada dalam tanggung jawab perawat. Sakit apa saja yang dialami pasien harus diketahui perawat (tentu berdasarkan diagnosa yang objektif), dengan mana perawat melakukan tindakan perawatan berdasarkan diagnosa itu.

Demikian juga perkembangan baik atau buruk dari tindakan keperawatan itu harus diketahui juga oleh (dokter dan) perawat. Termasuk, perawat juga harus mengetahui entah pasiennya berjalan-jalan ke mana, berjalan dengan siapa, bagaimana rasa sakit pasiennya (berat atau ringan, tak tertahankan atau bisa bertahan) atau rasa sakitnya pada tubuh bagian mana.

“Harus mengetahui” keberadaan dan kondisi pasien adalah salah satu bentuk tanggung jawab perawat terhadap pasien. Dengan itu, keadaan bahwa pasien di lorong itu tanpa ditemani perawat setidaknya mengindikasikan bahwa perawat sepi dari tanggung jawab, atau mengabaikan tanggung jawabnya.

Boleh jadi, perawat melarang pasien itu berjalan-jalan (seturut keadaan tubuh dan kehendaknya), tetapi pasien tetap pada pendiriannya untuk tetap berjalan-jalan sekalipun dalam keadaan yang “kurang memungkinkan”. Namun sikap “membiarkan” pasien tetap pada pendiriannya samasekali tidak menghilangkan tanggung jawab perawat terhadap pasien tersebut. Tanggung jawab itu melekat pada perawat sejak seseorang diterima sebagai pasien dan semasih pasien itu dirawat di rumah sakit.

Moral Keperawatan

Sekalipun mungkin kita sangat awam (tidak tahu) tentang keperawatan, tetapi setidaknya, kita mengerti dan menyadari bahwa tanggung jawab dalam konteks kasus kasualistis (kasus yang jarang terjadi) ini adalah bagian dari etika (moral profesi) keperawatan. Sebab pada intinya, dalam diri semua pasien yang dirawat inap (juga rawat jalan), terdapat begitu kuat keinginan dan harapan untuk pulang ke rumah dengan kondisi tubuh yang sehat (sekalipun tidak seratus persen).

Keinginan dan harapan para perawat (dan dokter) juga, secara moral, harus sejalan dengan keinginan dan harapan pasien. Dengan itu, pelbagai cara yang konstruktif, cara yang dinilai wajar mesti ditempuh secara bersama (pasien dan perawat, termasuk keluarga) agar keinginan dan harapan itu terpenuhi. Dan kalau pun tidak terpenuhi, maka dengan tegar dan lapang dada kita hendaknya mengakui bahwa itu terjadi karena cara-cara manusiawi yang dimiliki manusia termasuk alat-alat teknologi dan obat-obatan tidak mempan, tidak ampuh di hadapan keadaan tubuh pasien yang mungkin sudah sangat buruk. Untuk hal ini, bagi kita yang beriman, tentu dengan yakin mengatakan “ini misteri kehendak Tuhan”.

Namun dalam konteks kasus ini, jika ibu yang dipapah itu mengalami hal-hal di luar keinginan dan harapan tersebut, maka kita tidak bisa dengan gampang mengatakan “ini misteri kehendak Tuhan”, sebab toh para perawat sebenarnya masih bisa melakukan sesuatu yang semestinya tidak diabaikan yakni menemani pasien, meneguhkan pasien, atau cara-cara lainnya yang konstruktif.

Dengan itu, lebih dari sebuah tanggung jawab moral profesi keperawatan, apa yang sebetulnya yang sedang tidak dijalankan perawat dalam konteks kasus ini? Ya, kita mengetahui kata solidaritas, dan perwujudan solidaritas itulah yang sedang sepi terutama pada perawat tersebut, dan sekurang-kurangnya, ini terjadi hampir pada perawat di beberapa rumah sakit sebagaimana diberitakan media massa selama ini.

Solidaritas

Apa itu solidaritas (Latin: Solidarietatis)? Ungkapan lain dari solidaritas adalah setia kawan; setia terhadap kawan, menjadikan orang kawan. Ini tidak berarti bahwa orang yang bukan kawan disebut lawan, atau orang yang tidak diberikan solidaritas adalah lawan atau musuh. Bukan! Tidak!

Hal yang paling mendasar dari solidaritas adalah kebutuhan. Bahwasanya, orang yang membutuhkan pertolongan, kepadanyalah, solidaritas itu kita wujudkan. Itu berarti bersikap solider, setia kawan sama dengan memenuhi kebutuhan orang itu.

Kebutuhan itu bisa terungkap oleh orang itu sendiri, bahwa ia mengatakan, “sedang membutuhkan pertolongan orang lain”, atau dengan berani dan rendah hati, ia meminta pertolongan orang lain. Tetapi juga, kebutuhan itu terungkap apabila kita dengan kritis dan peka untuk membaca kebutuhan itu bahwa ia sedang membutuhkan pertolongan. Dengan itu, tanpa ia meminta bantuan, kita pun lekas segera peduli dan memberikan pertolongan atau memenuhi kebutuhannya.

Apa wujud nyata solidaritas? Memberikan nasi dan air kepada orang yang lapar dan haus, memberikan obat kepada pasien, memeriksa dan mengoperasi pasien, memberikan uang kepada orang miskin, membiarkan orang memakai jasa dengan gratis, bukanlah perwujudan utama dari solidaritas. Sebab, dalam pemberian-pemberian seperti ini, seringkali, orang-orang yang menerima pemberian dijadikan obyek, bukan subyek; tidak diberdayakan secara sungguh; obyek popularitas atau obyek materialisme (membantu karena sudah digaji atau karena kaya), obyek hedonisme (merasa senang membantu).

Semangat dasar solidaritas adalah kasih, dan dengan kasih, orang menyadari secara sungguh bahwa derita dan kebutuhan orang itu menjadi bagian dari derita dan kebutuhan orang yang bersolider. Dengan cara ini, dalam solidaritas, kita saling mendukung dalam menjalani hidup di dunia ini; sebuah hidup yang kita jalani hanya sementara saja, tetapi menuju keabadian. Dan dengan itu, berbuat kasih kepada orang lain, bukan terutama untuk mencari popularitas dan prestise, bukan untuk mengungkapkan kesenangan saja, bukan hanya untuk mengeluarkan uang yang lebih dari dompet, bukan hanya untuk membuktikan teori dan keahlian yang diperoleh di bangku kuliah, bukan karena sudah mendapat gaji tinggi dan lain sebagainya, melainkan terutama memberi daya kepada orang menderita (sakit, cacat, dan miskin) itu untuk bersama-sama berjuang dalam hidup di dunia ini, dan ia pun menyadari bahwa derita yang dialaminya tidak ditanggung oleh dirinya sendiri (tidak menderita sendirian) dan kehidupan di dunia ini selalu bersama dengan orang lain (manusia sebagai makhluk sosial/ens sociale [Latin]).

Dan akhirnya, rumah sakit adalah salah satu tempat (Latin: locus) yang indah bagi kita semua untuk mewujudkan solidaritas itu. Dalam konteks kasus kasualistis tadi, kita sulit menemukan solidaritas dari para perawat terhadap pasien ibu yang kesakitan hendak melahirkan itu. Solidaritas sebagai sikap etis yang melampaui tanggung jawab masih jauh dari harapan pasien dan terus menjadi pekerjaan rumah para perawat (dan dokter).*** (Flores Pos, Jumat, 8 Mei 2015)

Advertisements

About Avent Saur

Lahir 27 Januari 1982 di kampung Weto, Kecamatan Welak, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Bulan kelahiran ini masih diragukan, karena Mama saya bilang saya dilahirkan pada bulan usai panen jagung dan padi. Yah... sekitar bulan Juli. Di akte kelahiran dan surat baptis (agama Katolik), 27 Juli 1982.Studi filsafat dan teologi pada Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero, Maumere, Flores, NTT. Pernah menjadi wartawan pada majalah bulanan KUNANG-KUNANG (2008-2009). Sekarang, tinggal di Ende, "bantu-bantu" di harian umum Flores Pos. Blog ini dibuat, sejak 20 April 2013.
This entry was posted in OPINI and tagged , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s