Postulan SVD Gelar Seminar Orang Gila

Seminar Orang Gila

Bruder Pio Hayon SVD memaparkan mater tentang kesehatan mental dalam seminar “Orang Gila dan Solidaritas” yang digelar di aula postulat Biara Santo Konradus Ende, Rabu (13/5) malam.

Oleh Avent Saur

Ende, Flores Pos — Postulan (calon bruder) SVD yang sedang menjalani masa formasi di Biara Santo Konradus (BSK) Ende menggelar seminar orang dengan gangguan jiwa atau orang gila bertema “Orang Gila dan Solidaritas” bertempat di aula postulat BSK Ende, Rabu (13/5) malam. Seminar ini diikuti juga oleh para bruder yuniores SVD di lembaga formasi tersebut.

Seminar yang disponsori oleh lembaga Perhimpunan Bantuan Hukum (PBH) Nusa Tenggara (Nusra) Cabang Maumere menghadirkan dua pembicara yakni psikolog muda (dan staf pembina) Bruder Pio Hayon SVD yang membawakan materi bertajuk “Kesehatan Mental” dan staf pengajar postulan Pater Avent Saur SVD yang membawakan mater bertajuk “Orang Gila dan Solidaritas”.

Skizofrenia

Bruder Pio Hayon mengatakan, secara integral, manusia terdiri dari roh (spiritual), jiwa (psikis) dan tubuh (fisik). Manusia akan hidup sehat jika hal-hal integratif ini berada dalam kondisi yang normal.

DSC05303 - Copy

Bruder Pio Hayon SVD

“Orang mengalami sakit mental ketika jiwa atau psikisnya terganggu, dan itu termasuk gangguan parsial, bukan holistik. Tetapi sekalipun bersifat parsial, gangguan mental ini akan berpengaruh terhadap pikiran dan tingkah laku seseorang,” ujar Bruder Pio, Magister Psikologi Konseling lulusan Universitas de La Sale Filipina ini.

Bruder Pio melanjutkan, dalam psikologi klinis, gangguan mental itu disebut schizophrenia (skizofrenia) yang ditandai dengan ketidakselarasan pikiran, emosi dan tingkah laku. Orang mengalami semacam halusinasi atau paranoid di mana apa yang diyakini dan dipikirkannya tidak sesuai dengan kenyataan.

“Seorang yang didiagnosa mengidap skizofrenia dapat mengalami halusinasi (mendengar suara-suara aneh) dan gangguan daya pikir. Mereka kehilangan urutan berpikir sehingga kalimat-kalimat yang diucapkan tidak lagi berhubungan satu sama lain atau kata-kata yang berantakan. Pada kasus yang lebih parah, mereka menarik diri dari lingkungan sosial, cara berpakaian yang berantakan dan tidak menjaga kebersihan, serta kehilangan motivasi dan pertimbangan matang,” ujarnya.

Solidaritas

Pater Avent Saur mengatakan, orang sakit yang sangat menikmati kesakitannya atau orang menderita yang sangat menikmati penderitaannya adalah orang gila. Orang gila mungkin pernah meminta makanan dan minuman kepada orang sehat, tetapi mereka tidak akan pernah mengatakan kepada orang sehat untuk membantu mengantarnya ke rumah sakit atau ke tempat rehabilitasi jiwa atau meminta membeli obat.

“Mereka tidak pernah berpikir bagaimana caranya memperoleh kesembuhan. Kita sebagai orang sehat semestinya peka dan peduli terhadap penderitaan mereka untuk berusaha mencari kesembuhan. Kepekaan yang diikuti dengan tindakan nyata itulah yang kita maksudkan dengan solidaritas,” kata Pater Avent.

Pater Avent melanjutkan, Gereja memiliki kekayaan gagasan teologis yang terdapat dalam Kitab Suci yang telah ditafsir dan dijabarkan dalam Dokumen Konsili Vatikan II serta pelbagai dokumen ajaran sosial Gereja, dan dalam konteks SVD, gagasan itu dituangkan dalam Konstitusi SVD. Gagasan teologis yang poin pentingnya mengutamakan orang-orang kecil semestinya secara sungguh diwujudkan dalam kehidupan nyata, misalnya, terhadap orang-orang gila.

“Sudah saatnya, Gereja memiliki pastoral khusus untuk orang gila dengan cara bekerja sama dengan keluarga dan pelbagai panti rehabilitasi jiwa. Kita juga mesti mendesak dan mendukung pemerintah untuk memperhatikan orang gila yang terdapat di pelbagai daerah di provinsi kita ini,” katanya.

Dalam seminar itu, Pater Avent menampilkan foto-foto orang gila yang pernah dia temui seperti Anselmus Wara, Remigius Puji, Helmin, Mama Kani, Tadeus Sida, Efen Sea dan dua orang gila lainnya yang masih berkeliaran di kota Ende dan di Ndona.

Hal Baru

Peserta seminar Bruder Andry SVD menyatakan terima kasih untuk pegelaran seminar tentang orang gila karena peserta diberikan hal-hal baru mengenai penderitaan dan solidaritas terhadap orang gila.

“Selama ini saya belum memahami apa sebenarnya kegilaan, tetapi melalui seminar ini, saya diberikan gagasan psikologis tentang kegilaan itu. Ini juga memberikan peringatan kepada saya untuk menjaga kesehatan secara menyeluruh yakni roh, jiwa dan fisik. Dan terhadap orang-orang gila, kita mesti memperhatikan mereka dengan pelbagai cara, bukan malah mengabaikan mereka,” katanya.*** (Flores Pos, Jumat, 15 Mei 2015)

Advertisements

About Avent Saur

Lahir 27 Januari 1982 di kampung Weto, Kecamatan Welak, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Bulan kelahiran ini masih diragukan, karena Mama saya bilang saya dilahirkan pada bulan usai panen jagung dan padi. Yah... sekitar bulan Juli. Di akte kelahiran dan surat baptis (agama Katolik), 27 Juli 1982.Studi filsafat dan teologi pada Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero, Maumere, Flores, NTT. Pernah menjadi wartawan pada majalah bulanan KUNANG-KUNANG (2008-2009). Sekarang, tinggal di Ende, "bantu-bantu" di harian umum Flores Pos. Blog ini dibuat, sejak 20 April 2013.
This entry was posted in BERITA and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s