Penyidik Didesak Periksa Bupati Yance Sunur

Oleh Maxi Gantung

Lewoleba, Flores Pos — Penanggung jawab Forum Penyelamat Lewotana Lembata (FP2L) , Ali Kedang mendesak penyidik Polda NTT untuk memanggil dan memeriksa Bupati Lembata Eliaser Yentji Sunur terkait dengan keterangan terdakwa Alex Murin dalam persidangan di PN Kupang, Selasa (12/5), terkait ada dugaan pembunuhan almarhum Lorens Wadu  di rumah jabatan bupati Lembata. FP2L juga mendesak Polda NTT segera menahan tersangka Antonius Loli Ruing dan Petrus Urbanus Ruing atau lebih dikenal dengan Bence Ruing.

Hal ini disampaikan Ali Kedang kepada Flores Pos, Rabu (20/5). Ali mengatakan, keterangan Alex Murin dalam persidangan kasus pencemaran atau pemfitnahan nama baik Bupati Lembata Eliaser Yentji Sunur  di PN Kupang beberapa waktu lalu menjadi dasar bagi penyidik Polda NTT untuk melakukan penyelidikan atau meminta keterangan Bupati Yance terkait dengan kasus pembunuhan berencana terhadap mantan Kadis Perhubungan Kabupaten Lembata Lorens Wadu itu.

Eliazer Yentji SunurSelain itu, lanjut Ali, saat pemeriksaan terhadap beberapa tersangka kasus pembunuhan Lorens  Wadu di Polres Lembata, ada anggota Polres Lembata yang melakukan shuting hasil pemeriksaan tersangka Marsel Welan. Hasil shuting tersebut dibawa ke rumah jabatan bupati untuk ditonton bersama.

“Pertanyaan kita, apa kepentingan hasil pemeriksaan tersebut ditonton di rumah jabatan. Atas dasar itu, penyidik Polda NTT patut memeriksa atau meminta keterangan dari bupati Lembata Eliaser Yentji Sunur terkait hal itu,” kata Ali.

Laporan Polda ke Komnas HAM

Ali Kedang juga mengatakan, Polda NTT dalam suratnya yang ditujukan kepada Komnas HAM, sebagaimana diberitakan Flores Pos sebelumnya, Polda NTT menyampaikan bahwa pelaku pembunuhan Lorens Wadu adalah Antonius Loli Ruing (yang saat itu masih menjabat sebagai anggota DPRD Lembata) dan Bence Ruing (PNS).  Dua orang tersebut sudah ditetapkan sebagai tersangka dan sempat ditahan, tetapi dilepas lagi oleh penyidik Polres Lembata dengan alasan bahwa keterangan terdakwa lain berubah-ubah.

“Dalam surat ke Komnas HAM, Polda NTT mengaku bahwa penyidik Polres Lembata melakukan pemeriksaan terhadap para tersangka dengan kekerasan. Namun di satu sisi, Polda mengaku bahwa pemeriksaan terhadap para tersangka sudah sesuai dengan prosedur hukum dan profesional.,” ujarnya.

Ia mengatakan, dalam persidangan di PN Lembata, salah satu terdakwa yakni Marsel Welan, awalnya menyebut beberapa orang lagi terlibat dalam kasus pembunuhan Lorens Wadu di antaranya Tolisi Ruing dan Bence Ruing. Dalam sidang berikutnya, Marsel Welan mengatakan bahwa keterangan sebelumnya yang menyebut pelaku lainnya hanyalah mimpi.

Namun patut diingat bahwa Marsel Welan yang saat itu ditahan di Rutan Lembata, malam sebelum  sidang di PN Lembata, penyidik Polres Lembata memeriksanya tanpa didampingi oleh penasihat hukum, dan video rekaman pemeriksaan Marsel saat itu dibawa ke rumah jabatan bupati. Namun pada sidang berikutnya, Marsel dengan tegas mengatakan, Tolis dan Bence Ruing terlibat dalam kasus pembunuhan Lorens Wadu.

Ali mengatakan, sebelum kasus ini disidangkan di PN Lembata, penyidik Polres Lembata sudah menetapkan Tolis Ruing dan Bence Ruing sebagai tersangka dan ditahan selama beberapa minggu. Bahkan Tolis Ruing dan Bence Ruing ikut dalam rekonstruksi pembunuhan Lorens Wadu. “Sepengetahuan kita, seseorang ditetapkan sebagai tersangka itu tidak gampang, harus memiliki minimal dua alat bukti. Ketika Tolis dan Bence ditetapkan sebagai tersangka, itu artinya polisi sudah memiliki cukup bukti. Tapi pertanyaan kita, mengapa mereka dilepas kembali,” katanya.

Karena itu, tegas Ali, dengan adanya surat dari Polda NTT ke Komnas HAM, maka Tolis dan Bence harus ditahan dan diperiksa kembali.

“Saya minta Kapolda secepatnya turunkan tim untuk memeriksa dan menahan kembali Tolis Ruing dan Bence Ruing, sekaligus memeriksa atau meminta keterangan dari Bupati Lembata,” desaknya.

Siap Berikan Keterangan

Sementara itu, Alex Murin menjawab Flores Pos melalui telepon mengatakan, dirinya siap memberikan keterangan sesuai dengan apa yang disampaikannya dalam sidang di PN Kupang beberapa waktu lalu. Saat itu, “Saya siap untuk memberikan keterangan jika polisi meminta keterangan dari saya”.

Untuk diketahui Bupati Lembata Eliaser Yentji Sunur melaporkan Alex Murin ke Polda NTT karena melakukan penghinaan atau pencemaran nama baik dirinya. Alex Murin, saat aksi demo di DPRD menduga Bupati Lembata terlibat dalam kasus pembunuhan Lorens Wadu. Dalam sidang di PN Kupang, Alex Murin mengatakan, diduga kasus pembunuhan Lorens Wadu dilakukan di rumah jabatan bupati.*** (Flores Pos, Kamis, 21 Mei 2015)

Berita terkait:

Ada Adegan Pembunuhan di Rujab Bupati Lembata

About Avent Saur

Lahir 27 Januari 1982 di kampung Weto, Kecamatan Welak, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Bulan kelahiran ini masih diragukan, karena Mama saya bilang saya dilahirkan pada bulan usai panen jagung dan padi. Yah... sekitar bulan Juli. Di akte kelahiran dan surat baptis (agama Katolik), 27 Juli 1982.Studi filsafat dan teologi pada Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero, Maumere, Flores, NTT. Pernah menjadi wartawan pada majalah bulanan KUNANG-KUNANG (2008-2009). Sekarang, tinggal di Ende, "bantu-bantu" di harian umum Flores Pos. Blog ini dibuat, sejak 20 April 2013.
This entry was posted in BERITA and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s