Proses Penegakan Hukum di Lembata Semakin Parah

  • Wakil Bupati: Ego Sektor Tinggi

Oleh Maxi Gantung

Lewoleba, Flores Pos — Penegakan hukum di Lembata semakin parah, banyak kasus proyek di Lembata yang tidak jelas penyelesaiannya. Penegakan hukum di Lembata hangat-hangat tahi ayam, sementara rakyat terus mengeluh dan menderita karena banyak proyek di Lembata yang kerjanya tidak jelas penyelesaiannya.

Hal ini disampaikan ketua Forum Penyelamat Lewotana Lembata (FP2L) Bernadus Sesa Manuk kepada Flores Pos, Senin (11/5). Manuk mengatakan, banyak proyek di Lembata yang bermasalah mulai dari lelang hingga pelaksanaannya. Banyak kasus proyek yang sudah dilaporkan oleh FP2L, Aldiras dan DPRD Lembata ke lembaga penegak hukum, tapi sampai sekarang penyelesaiannya tidak jelas.

“Kasus proyek bencana alam di kedang sebesar Rp4 miliar lebih, yang ditangani oleh polisi namun sampai sekarang kasus ini sudah tidak terdengar lagi. Angat-angat tai ayam. Penegakan hukum kita semakin parah,” katanya.

Manuk mengatakan, penyidik baik jaksa maupun polisi harus transparan, kalau memang dalam penyelidikan tidak ditemukan adanya bukti, harus disampaikan kepada masyarakat. Yang terakhir, FP2l melaporkan kasus proyek pengerjaan jalan Lewoleba-Wulandoni segmen Blame-Boto.

“Kita mengharapkan penegak hukum harus serius, dan dalam penegakan hukum ini jangan diskrimintaif, siapa pun yang terlibat apakah keluarga pejabat atau masyarakat kecil lainnya harus diproses,” tegasnya.

Ego Sektor

Sementara itu, secara terpisah Wakil Bupati Lembata Viktor Mado Watun di ruang kerjanya, Senin (11/5), ketika ditanya soal banyak proyek di Lembata yang bermasalah dan penangannya tidak jelas menjelaskan, salah satu persoalan utama di Lembata adalah ego sektornya sangat tinggi. Monitoring dan evaluasi tidak berjaan dengan baik.

Wutun mencontohkan proyek air minum Weilain senilai Rp20 miliar dan proyek peningkatan jalan Lewoleba-Wulandoni, monitoring dan evaluasinya yang dilakukan instanis teknis tidak berjalan dengan baik. Wakil bupati juga mengkritik soal proyek multiyears yang terjadi selama ini.

”Di Lembata ini, sebenarnya kalau mau jujur tidak ada proyek multiyears. Multiyears itu artinya pengerjaan cepat dalam satu tahun atau lebih sedikit tapi pembayarannya selama beberapa tahun. Namun yang terjadi proyek itu dikerjakan kalau pemerintah cairkan dana. Wakil bupati mencontohkan, proyek pengerjaan jalan Trans Lembata depan kantor bupati, sampai sekarang belum selesai.

“Saya tanya staf, mengapa pengerjaan multiyears di Lembata seperti ini, mereka menjawab bahwa kontraktor kerja kalau pemerintah cairkan dana. Kalau pemerintah tidak cairkan dana, maka pengerjaan belum bisa dilanjutkan. Kalau begini ya bukan multiyears lagi namanya,” ujarnya.

Menurut Wakil Bupati, memang masalah proyek di Lembata menjadi sorotan masyarakat. Masyarakat juga mengeluh karena tidak ada penyelesaian sampai tuntas. Kalau ada masalah, maka masalah itu harus diselesaikan sampai tuntas termasuk kalau proyek tersebut diproses secara hukum.

“Kita mengharapkan penegak hukum harus memproses sampai tuntas sehingga masyarakat tahu dan tidak menjadi keluhan atau pertanyaan masyarakat dari waktu ke waktu,” ujarnya.

Wutun meminta pengawasan teknis dari dinas terkait supaya semuanya itu dilakukan secara serius. DPRD melakukan pengawasan, namun pengawasan DPRD itu pengawasan politik, Sementara teknisnya ada di SKPD masing-masing.*** (Flores Pos, Selasa, 12 Mei 2015)

Advertisements

About Avent Saur

Lahir 27 Januari 1982 di kampung Weto, Kecamatan Welak, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Bulan kelahiran ini masih diragukan, karena Mama saya bilang saya dilahirkan pada bulan usai panen jagung dan padi. Yah... sekitar bulan Juli. Di akte kelahiran dan surat baptis (agama Katolik), 27 Juli 1982.Studi filsafat dan teologi pada Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero, Maumere, Flores, NTT. Pernah menjadi wartawan pada majalah bulanan KUNANG-KUNANG (2008-2009). Sekarang, tinggal di Ende, "bantu-bantu" di harian umum Flores Pos. Blog ini dibuat, sejak 20 April 2013.
This entry was posted in BERITA and tagged , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s