Kapolres dan Kasat Reskrim Gelar Perkara Lorens Wadu di Kejati Kupang

  • Kasus Pembunuhan Lorens Wadu

Oleh Maxi Gantung

Lembata, Flores Pos — Kapolres Lembata AKBP Wresni Satya Nugroho bersama Kasat Reskrim Polres Lembata  AKP Muh. Arif Sadikit melakukan gelar perkara kasus pembunuhan Lorens Wadu di Kejaksaan Tinggi Kupang. Gelar perkara kasus Lorens Wadu ini dilakukan di Kejati Kupang atas permintaan Kapolda NTT.

Hal ini disampaikan Wakapolres Lembata, Kompol Yustinus Talo Goro kepada wartawan di ruang kerjanya, Rabu (3/6). Kompol Yustinus mengatakan, Kapolres bersama Kasat Reskrim dan dua penyidik pembantu Polres Lembata ke Kupang untuk melakukan gelar perkara kasus pembunuhan berencana terhadap Lorens Wadu yang terjadi 8 Juni 2013 lalu.

Ia mengatakan, gelar perkara kasus pembunuhan Lorens Wadu di Kejaksaan Tinggi Kupang ini atas permintaan Kapolda NTT. Gelar perkara kasus ini tidak hanya untuk tersangka Antonius Loli Ruing dan Bence Ruing tetapi juga tersangka lainnya.

“Kita belum mengetahui hasilnya bagamana. Kita tunggu Kapolres dan Kasat Reskrim pulang dari Kupang, baru kita tahu hasilnya,” katanya.

Romo Yermin dan Aleks Murin

Penyidik Polres Lembata telah memeriksa atau meminta keterangan dari Romo Yeremias Rongan Rianghepat dan ketua Forum Penyelamat Lewotana Lembata (FP2L) Alex Murin.

Untuk diketahui Romo Yermin diperiksa sebagai saksi dalam kasus pembunuhan Lorens Wadu terkait dengan mobil merah yang diparkir di samping gudang dekenat Lembata (jalan menuju pondok almarhum Lorens Wadu) pada tanggal 8 Juni malam tahun 2013 lalu. Mobil merah tersebut diparkir mengarah ke kebun atau pondok almarhum Lorens Wadu dalam keadaan hidup. Romo Yermin tidak tahu siapa pemilik mobil merah tersebut. Namun mobil merah itu menurut Romo Yermin biasanya parkir di rumah jabatan bupati.

Sementara itu, Alex Murin diperiksa terkait dengan keterangannya saat persidangan di Pengadilan Negeri Kupang bahwa Lorens Wadu diduga dibunuh di rumah jabatan bupati. Pernyataaan Alex Murin ini didasarkan pada informasi dari Surfa Uran yang sempat menonton rekaman pembunuhan Lorens Wadu yang diduga dilakukan di rumah jabatan bupati.

Surfa Uran yang diperiksa dan dikonfrontasi dengan Irwan Paokuma pada Rabu (3/6) di Polres Lembata mengatakan, Irwan Paokuma pada September 2013 lalu sempat menunjukkan rekaman HP terkait dengan empat orang yang sedang mengangkat seseorang yang ditutup dengan kain di rumah jabatan bupati. Dua orang yang memegang kaki orang yang ditutup dengan kain itu adalah dua tersangka kasus pembunuhan Lorens Wadu. Namun Irwan Paokuma tidak tahu soal rekaman tersebut.

Heran terhadap Polres Lembata

Sementara itu, penanggungjawab FP2l, Ali Kedang mengatakan, dirinya bingung dengan penanganan kasus Lorens Wadu. FP2l beberapa kali berdialog dengan Kapolres Lembata dan menyampaikan bahwa untuk kasus Lorens Wadu, penanganannya diambil alih oleh Polda NTT. Namun, lanjutnya, untuk pemeriksaan terhadap Romo Yermin, Alex Murin, Surfa Uran dan Irwan Paokuma diperiksa oleh penyidik Polres Lembata.

Ia juga mengatakan, dirinya juga merasa heran bahwa Polda NTT sudah menyurati Komnas HAM bahwa pelaku pembunuhan Lorens Wadu adalah Tolis Rung dan Bence Ruing, tetapi kedua orang yang sempat ditahan di Polres Lembata ini tetap berkeliaran di Lewoleba. Ali Kedang mengharapkan agar Tolis Ruing dan Bence Ruing diperiksa dan ditahan kembali.

Ali juga mengharapkan agar kasus pembunuhan Lorens Wadu ini harus diproses sampai tuntas. Semua orang yang terlibat baik eksekutor maupun otak pembunuhan Lorens Wadu harus diiproses secara hukum.

“Siapapun yang terlibat dalam kasus pembunuhan Lorens Wadu harus diproses, siapapun dia, apakah dia orang kecil pejabat harus diproses dan dihukum sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku,” ujarnya.

Senada dengan Ali Kedang, Simon Odel meminta Kapolda NTT dan Kajati NTT harus serius menangani kasus ini. Kasus Lorens Wadu menarik perhatian seluruh masyarakat NTT. Karena itu, siapa saja yang terlibat dalam kasus ini harus diproses.

“Rakyat Lembata ada di belakang Polres dan Kejaksaan Negeri Lewoleba, jika Polisi serius menangani kasus ini.*** (Flores Pos, Kamis, 4 Juni 2015)

Advertisements

About Avent Saur

Lahir 27 Januari 1982 di kampung Weto, Kecamatan Welak, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Bulan kelahiran ini masih diragukan, karena Mama saya bilang saya dilahirkan pada bulan usai panen jagung dan padi. Yah... sekitar bulan Juli. Di akte kelahiran dan surat baptis (agama Katolik), 27 Juli 1982.Studi filsafat dan teologi pada Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero, Maumere, Flores, NTT. Pernah menjadi wartawan pada majalah bulanan KUNANG-KUNANG (2008-2009). Sekarang, tinggal di Ende, "bantu-bantu" di harian umum Flores Pos. Blog ini dibuat, sejak 20 April 2013.
This entry was posted in BERITA and tagged , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s