Kapolri Mesti Pecat Kapolres Lembata

  • Pater Alex: Bersihkan Rujab dari Noda Tuduhan Kejahatan

Oleh Ansel Deri

Jakarta, Flores Pos — Pengacara dan Praktisi Hukum Nasional asal Lembata, Petrus Bala Pattyona mendesak Kepala Kepolisian Republik Indonesia (Kapolri) Jenderal Polisi Badroedin Haiti memecat Kepala Kepolisian Resort (Kapolres) Lembata, Wresni Satya Nugraha karena sangat tidak mampu me­nangani kasus pembunuhan beren­cana terhadap Mantan Kepala Dinas Perhubungan, Informasi dan Komunikasi Kabupaten Lembata, Aloysius Laurensius (Lorens) Wadu, pada Minggu 9 Juni 2013 lalu.

“Kapolres Lembata dan ja­jaran­nya yang menyidik kasus pembunuhan berencana ini harus dikenai sanksi, diadili dan dipecat dengan tidak hormat. Mereka ti­dak profesional mengungkap pela­ku pembunuhan sesungguhnya. Di awal-awal penyidikan, ada polisi yang ikut ditangkap tetapi tidak ada kelanjutan proses hukum terhadap mereka. Ini berarti bahwa penyidik melindungi eksekutor dan otak pembunuhannya,” kata Bala Pattyona ketika dihubungi Flores Pos di kantornya, Jakarta Selatan, Sabtu (30/5).

Polda NTT, dalam suratnya kepada Komisi Nasional Hak-hak Asasi Manusia (Komnas HAM) mengakui, pelaku pembunuhan Lorens Wadu adalah anggota DPRD Lembata periode 2009-2014, Antonius Loli (Tolis) Ruing dan Petrus Urbanus P. Ruing atau Bence Ruing. Kasus pembunuhan ini akhirnya mengantar empat oran­g mendekam di balik jeruji besi karena dianggap sebagai pelaku. Mereka adalah Marselinus Suban, Yohanes Liko, Rofinus Ratu Loli Maran danVinsen Wadu. Vinsen adalah adik kandung Almarhum Lorens Wadu.

Pengakuan tersebut disam­paikan Polda NTT dalam sebuah surat yang ditujukan kepada Kom­nas HAM RI, dengan nomor R/015/XII/2014 tanggal 5 Desember 2014 dan dikutip Komnas HAM dalam surat bernomor 1.358/K/PMT/IV2015 tertanggal 6 April 2015.

Surat Komnas HAM yang ditan­datangani Komisioner Dianto Bach­ria­di diteruskan juga kepada Koordinator Koalisi Penegak Keadilan dan Kebenaran (KPK2)Pastor Mikhael Peruhe Unarajan OFM;  KPK2 adalah sebuah aliansi yang mengadvokasi kasus pembunuhan Wadu (Flores Pos, 19/5).

“Pernyataan Kapolda NTT bah­wa Tolis Ruing dan Bence Ruing sebagai pelaku pembunuhan beren­cana terhadap Lorens Wadu harus ditindaklanjuti Kapolda dengan memerintahkan Direskrimum Pol­da NTT menyidik dan menangkap para pelaku. Propam Polda harus bergerak memeriksa Kapolres Lembata dan tim penyidik untuk mengetahui mengapa penyidikan dibelokkan ke orang-orang yang tidak tahu apa-apa tentang pembu­nuhan berencana terhadap Lorens Wadu tetapi malah dikorbankan,” kata Bala Pattyona, Praktisi Hu­kum kelahiran Kampung Kluang, Desa Belabaja, Kecamatan Naga­wutung.

Bala Pattyona juga meminta Propam Polda NTT menggali infor­masi lebih detail terhadap anggota Polres Lembata seperti Aipda Dominikus Donni Kia, Aiptu Laza­rus Lit Raya, Brigpol Ady Sumarto Lesik, Brigpol Antonius Roni Moa, dan Brigpol Amon Jalla. Ini pen­ting karena nama-nama tersebut pernah dilaporkan KPK2 ke Kom­nas HAM terkait kasus kekerasan dan penganiayaan terhadap ter­sangka, berupa pemukulan, penca­butan kuku dan berbagai tindak kekerasan lainnya.

“Kapolri Jenderal Badroedin Haiti harus turun mem-back up Polda NTT mengungkap kasus Lorens Wadu agar otak kejahatan pembu­nuhan berencana tersebut ditangkap kemudian dimintai pertang­gung­ja­waban di hadapan hukum atas perbuatannya,” kata Pattyona.

Ia menambahkan, seharusnya Kapolres Lembata dan jajarannya diproses pidana. Sama halnya dengan Rudy Soik yang membong­kar kejahatan polisi dalam per­dagangan manusia lalu dicari-cari kesalahannya.

“Mengapa perbuat­an aparat Polres Lembata yang sudah bersuluh matahari tak diapa-apakan? Mungkin mereka saling melindungi karena sudah sama-sama tahu,” tegas Bala Pattyona.

Bersihkan Rujab Bupati

Sejumlah kalangan meminta aparat Polda NTT segera turun ke Lembata dan membantu mengung­kap tuntas kasus pembunuhan berencana terhadap Lorens Wadu menyusul pengakuan Polda NTT kepada Komnas HAM RI yang menyebut Tolis dan Bence Ruing sebagai pelaku. Artinya, ada ske­nario besar dalam upaya membu­nuh Lorens Wadu. Polda NTT diminta membantu mengungkap kasus ini karena dugaan kuat, korban dibunuh di rumah jabatan (Rujab) Bupati Lembata dan di­buang di pondok kebun miliknya di Hutan Keam.

“Rumah jabatan kepala daerah Lembata adalah rumah rakyat Lembata. Rumah itu harus segera dibersihkan dari noda tuduhan sebagai tempat kejahatan pembu­nuhan Lorens Wadu,” kata Imam Sulung asal Desa nelayan Lamalera, Lem­bata Pater Alex Beding SVD, yang kini bermukim di Biara Santo Arnoldus Janssen Laran­tuka, Flores Timur.

Direktur Aliansi Keadilan dan Kekerasan (Aldiras) Lembata, Saverapal Sakeng Korvandus meminta Tolis Ruing dan Bence Ruing agar jujur mengaku siapa sesungguhnya pelaku dan otak di balik pembunuhan berencana terhadap Lorens Wadu. Hal ini penting menyusul surat Polda NTT ke Komnas HAM RI yang secara tegas menyebut keduanya sebagai pelaku pembunuhan Lorens Wadu, mantan birokrat dan salah satu tokoh masyarakat Lewoleba Lem­bata. Pengakuan yang jujur ke­duanya, katanya, menjadi pintu masuk bagi pengungkapan kasus tersebut agar terang benderang.

“Saya percaya Tolis Ruing akan membuka tabir gelap kasus ini. Dia tentu punya niat baik membantu polisi mengungkap otak di balik pembunuhan keji ini. Apalagi, ia juga pernah dipercaya menjadi anggota DPRD Lembata. Beliau tentu punya rasa cinta atas masya­rakat dan daerahnya,” kata Kor Sakeng ketika dihubungi Flores Pos di sela-sela acara Pameran Nasio­nal di Gedung Nusantara IV DPR RI Senayan, Jakarta, Rabu (20/5) lalu.*** (Flores Pos, Senin, 1 Juni 2015)

Advertisements

About Avent Saur

Lahir 27 Januari 1982 di kampung Weto, Kecamatan Welak, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Bulan kelahiran ini masih diragukan, karena Mama saya bilang saya dilahirkan pada bulan usai panen jagung dan padi. Yah... sekitar bulan Juli. Di akte kelahiran dan surat baptis (agama Katolik), 27 Juli 1982.Studi filsafat dan teologi pada Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero, Maumere, Flores, NTT. Pernah menjadi wartawan pada majalah bulanan KUNANG-KUNANG (2008-2009). Sekarang, tinggal di Ende, "bantu-bantu" di harian umum Flores Pos. Blog ini dibuat, sejak 20 April 2013.
This entry was posted in BERITA and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s