Azizah dan Popularitas, Gisela dan Penderitaan

gisela

Gisela

azizah

Azizah

Oleh Avent Saur

Bumi membincang bintang/ Maumere membanting SMS/Azizah Bintang/ Flores menjamur industri sukacita/ NTT gemuruh kerukunan/ Pelangi Gisela di manakah engkau? – Mr. Jie

Syair-syair ini membahasakan lapangan yang diriuhi antusiasme insan sosial yang menopang Azizah sang runer up di pentas Kontes Dangdut Indonesia (KDI) 2015. Betapa tidak, antusiasme sebagai ekspresi psiko-sosial dan psiko-primordial itu diikuti dukungan SMS dengan satu maksud: Azizah, seorang remaja pelajar SMA dan seorang warga kampung dari kota kecil itu bisa merengkuh juara, bisa mengangkat nama “kampung” di pentas nasional.

Satu kata yang mewakili semuanya itu adalah popularitas; ya, popularitas yang diikuti harapan akan masa depan yang cerah seorang anak daerah.

Tak sungkan-sungkan, kepala daerah pun menyematkan satu gelar untuk Azizah: duta (wakil/utusan) wisata dan duta Maumere. Tak sungkan-sungkan juga, seorang pemimpin Gereja lokal (tokoh agama), mengajak umatnya untuk menyalurkan naluri primordial untuk Azizah dengan label “kerukunan religius”. Apalagi ulama dari agama yang dianut sang kontenstan, tentu dengan sendirinya “mengumumkan” ajakan yang sama.

Umat pun “tergiur” untuk “merebahkan” diri ke dalam ajakan para sang ulama. SMS ketik “KDI spasi Azizah kirim ke 95151” berkali-kali tak terhenti. Benar bunyi syair tadi: Maumere membanting SMS/ Azizah Bintang/ Flores menjamur industri sukacita/ NTT gemuruh kerukunan.

Lebih dari SMS dan ajakan (serta nonton bareng), orang-orang yang berbaik hati spontan merogoh koceknya, mengumpulkan satu-dua sen bahkan jutaan rupiah untuk Azizah. Yang merangkum psiko-promordial, kerukunan religius, antusiasme (sukacita) dan popularitas itu adalah kepedulian/solidaritas. Dan solidaritas tidaklah lain dari pada “mengambil bagian dalam sukacita, dalam popularitas seorang Azizah”.

***

Azizah vs Gisela. Apalah artinya? Gisela bukanlah lawan dari Azizah di pentas KDI 2015 itu, semisal Mahesya. Gisela hanyalah seorang anak yang dilahirkan tanpa dubur, yang dibuatkan dubur buatan, lalu secara ajaib duburnya terbuka; Gisela yang dubur buatannya sudah ditutup lagi belum lama ini, yang ketika diopreasi di Rumah Sakit Sang La Denpasar ditemukan juga sakit lain pada ususnya.

Memandang Gisela bagai memandang telur di ujung tanduk. Jika tak satu pun hati untuk menggerakkan tangan, selanjutnya tangan itu diulurkan untuk menopang, maka telur itu akan pasti jatuh dan pecah serta tak ada gunakannya lagi. Untuk maksud menyelamatkan “telur” itulah, “Dompet Kemanusiaan Gisela” di Flores Pos mengetuk “hati-hati” kita. Harapannya, pelbagai hati itu merekahkan solidaritas: mengambil bagian dalam penderitaan seorang Gisela.

Namun siapa peduli? Orang-orang yang mempunyai hati baik bisa dihitung. Sejak “Dompet…” itu dibuka Maret 2015, belum terisi penuh seturut kebutuhan Gisela. Hati baik yang spontan berlari menjauhi mata Gisela. Benar juga bunyi syair tadi: Pelangi Gisela di manakah engkau? Gisela itu pelangi, tetapi tidak seperti pelangi yang muncul usai hujan gerimis, Gisela tidak cukup indah untuk ditatap. Gisela tidak cukup mengundang senyuman. Ya, dia memang seorang penderita yang hanya menghadirkan tangisan.

***

Membujuk orang untuk bersolider itu gampang, tetapi sama sekali tidak serta merta hati orang yang terbujuk gampang luluh. Kalau tidak luluh, maka juga tidak perlu dipaksakan.

Mempersandingkan solidaritas terhadap Azizah dan Gisela sudah cukup terang bagi kita, orang gampang luluh terhadap bujukan mendukung Azizah daripada menderita bersama Gisela. Orang tak susah merogoh kocek untuk membantu Azizah merengkuh juara daripada menolong Gisela merengkuh nyawa. Orang lebih bersolider dengan sukacita daripada dukacita, orang lebih terpikat pada popularitas daripada penderitaan, orang lebih menjunjung tinggi kesenangan daripada kemanusiaan, orang lebih mencari kelompok teman untuk dihibur daripada menghibur “sesama” yang mengetuk rumah hati kita.

Tiga hal lagi. Orang lebih mencari kerukunan (sosial-religius) dalam dunia hiburan daripada mengais kebersamaan dalam dunia kemanusiaan yang terancam maut. Orang lebih mengekspresikan naluri primoridialnya pada panggung nyanyian daripada pada panggung tangisan. Orang lebih menghargai sesama yang berjuang meraih prestasi daripada menghormati sesama (apalagi si mungil Gisela) yang dengan napas terengah-engah berupaya membebaskan diri dari penderitaannya.

Mungkin sedikit saja orang yang melihat bahwa ini petaka sosial-kemanusiaan, lantaran mayoritas orang tenggelam dalam jalan menuju petaka itu. Apalagi para ulama berbondong-bondong mengambil posisi mayoritas itu. Petakanya pun lebih riskan. Maaf. Untuk sekarang, bela rasa terhadap popularitas lebih kuat daripada terhadap penderitaan. Orang menutup mata terhadap apa yang menjadi prioritas, apa yang hanya sebatas popularitas.

***

Berkaca pada pelbagai fakta, orang (bukan cuma di Flores) memang sangat sering lebih semangat “mengambil bagian” dalam popularitas daripada “menderita bersama”. Ini perkara psikologi sosial. Dan ini juga menjadi karakter para pemimpin baik politik maupun agama.

Sebuah pesta, misalnya, digelar di rumah atau kampung tetangga, orang pasti akan berbodong-bondong ke sana. Tetapi apakah orang juga berbondong-bondong mengunjungi orang sakit atau yang dililiti masalah rumah tangga di kampung atau rumah tetangganya? Apakah orang juga berbondong-bondong ke rumah sakit untuk mengunjungi dan mendoakannya? Kan tidak.

Sebuah kampung yang terpencil yang masih terbelakang, juga misalnya, seorang calon pemimpin politik pasti akan mengujungi kampung itu untuk memperkenalkan diri dan mengumbar pelbagai janji kosong. Tetapi setelah calon itu sudah menjadi pemimpin, apakah dia ingat akan kesejahteraan dan pembangunan ekonomi orang-orang di kampung itu? Kan kurang, bahkan tidak.

Atau seorang tokoh agama, khusus Katolik, pastor dan uskup. Kalau dimintai untuk merayakan ekaristi arwah, tentu dengan mudah dilayani, sekalipun juga ada yang merasa agak berat, karena persoalan medan dan situasi. Tetapi adakah ia mengunjungi dan mendoakan orang yang telah mati itu, saat si almarhum(ah) masih hidup menderita? Kan, sulit. Adakah pastor yang mengunjungi umatnya yang dililiti derita di rumah sakit? Kan, kurang. Pemimpin agama mengimbau bahkan dengan emosional agar umat rajin berpartisipasi dalam ekaristi, tetapi adakah pemimpin agama tahu bahwa banyak umatnya sedang sakit? Seorang pemimpin Gereja lokal diminta untuk merayakan ekaristi perak atau emas sebuah lembaga, tetapi adakah ia mengunjungi umat yang mendambakan kehadiran gembalanya? Pemimpin agama mengajak umat untuk menyelesaikan masalah-masalah keluarga dengan baik, tetapi adakah ia pernah mendatangi keluarga-keluarga yang sedang kurang harmonis?

Masih ada banyak lagi hal prioritas lainnya yang sekian sering diabaikan, tanpa merasa bersalah sedikit pun.

Azizah hadir dalam kontes nasional yang menghadirkan popularitas, dan para pemimpin ikut serta dengan spontan mengambil bagian dalam popularitas itu. Tetapi kehadiran Gisela sang penderita itu?

Aku hadir hanya untuk mengetuk hati/ bukan untuk membukakan pintu/ Aku hanya memiliki tangan untuk mengetuk/ kalian memiliki tangan untuk membuka/ Mr Jie bilang aku pelangi/ Tidak!

Kalau aku pelangi/ kalian pasti menatapku tersenyum/ Aku hanyalah batu/ yang kini sudah jauh dari matahari/ Dan aku di dalam selimut kegelapan/ Datanglah kalian memecahkan batu ini.

Mungkin begitu syair Gisela andaikan ia bisa berpuisi. Namun sekalipun mungkin bisa berpuisi, puisi Azizah masih jauh lebih kuat daripada puisi Gisela karena Azizah pasti akan mendendangkannya dalam lagu-lagu yang mengibur, sementara Gisela berpuisi mengundang kesedihan.*** (Flores Pos, Sabtu, 6 Juni 2015)

Baca juga:

Dompet Kemanusiaan Gisela

Dompet Kemanusiaan Gisela (Terbaru)

Azizah Tembus 8 Besar Kontes Final KDI

Azizah Raih Juara II Grand Final KDI 2015

Advertisements

About Avent Saur

Lahir 27 Januari 1982 di kampung Weto, Kecamatan Welak, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Bulan kelahiran ini masih diragukan, karena Mama saya bilang saya dilahirkan pada bulan usai panen jagung dan padi. Yah... sekitar bulan Juli. Di akte kelahiran dan surat baptis (agama Katolik), 27 Juli 1982.Studi filsafat dan teologi pada Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero, Maumere, Flores, NTT. Pernah menjadi wartawan pada majalah bulanan KUNANG-KUNANG (2008-2009). Sekarang, tinggal di Ende, "bantu-bantu" di harian umum Flores Pos. Blog ini dibuat, sejak 20 April 2013.
This entry was posted in OPINI and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s